Adelia

Adelia
Buku harian bab 2


"burung merpati layaknya persahabatan


akan hilang bersama waktu yang menjagal


dia Peronika muncul ntah dari mana


membawa kata untuk menghancurkan ku


sela kata nya adalah pemabuk


sayang sekali


aku pecinta kata bukan pemabuk rasa


kami menjadi sahabat dalam tiga kepribadian berbeda,


aku


dia


engkau terkasih,


dia adalah adelia tempatku melampiaskan kata


peronika adalah aku dalam kata dan rasa yang seirama


Engkau adalah aku yang lain


terperanjat dalam doa ketiadaan lagi


kamarku tempatku dalam bersendiri


memikirkannya hanya menjadi beban kehidupan


lebih baik kupikirkan irama tentang adelia


setelah bertemu dengannya perasaanku sangat ingin memilikinya,


namun ntah mengapa kemurungan diri ini mengalir mencuat kepermukaan.


Mereka dari negeri yang asing


memalingkan pot bunganya dalam persaingan


aku takkan kalah


DIAM ...


Kau hanya benalu dalam pelukan Adelia,


Doanya terhalang oleh ringkuh kata yang mencekam mangsa darimu pemangsa,


Diam lah,


Jangan katakan bahwa dia sahabat


Hanya untuk memaksanya menjadi lemah,


Pergilah Adelia,


Jangan bersuara atapun langkah yang terseret berat dikakimu bergema


Langkahkan,


itu untuk kekuatanmu, dia hanya menjadi bebanmu untuk berdoa


Pergilah,


Pergi,


per


gi


Hanya aku sahabatmu yang mengerti


lomba berujung dengan kemanisan


lihat para budak kata bergembira seakan melihat bayi tanpa nama


aku pergi bersama mereka dengan bangga


duniaku pun membicarakan semuanya


dari sudut ke sudut kita adalah pemenang


pemenang akan kenangan nyata


tiadaka waktu bergurau , ajal akan tiba.


Kemeja pagi,


Tadi pagi telah sirna bayang kesepian,


telah sirna oleh kalian yang datang dari jauh ,


saya hadir membawa diri


mengucap salam hormat kepada kalian


aku adalah penyair kata umpatan


dan kalian berdiskusi dalam bahasa kasar


jangan memandang keluh dimataku


baiklah senyum kalian mempesona


Haus aku,


Dengan bibir ini mengering bagaikan tanah tandus dipadang pasir,


hei tuan dan nyonya sekalian,


Tak ada arak didepan kalian,


buah pun tidak menjadi racun memabukkan


sebut aku pujangga kata,


yang datang dari singgah sana raja,


membungkuk hormat setiap kata,


menjilat habis air luirku ,


kata dan rasa dicerna mata melalui telinga,


apakah pertemuan ini adalah petaka? ataukah bencana?


aku masih ingat sahabat seiramaku


katanya


Re


Do,


Re,


memisah nada dalam suara, memisah kan hatiku dan hatimu,


Tersambut kasih yang jauh dibelakangku, ada dia yang tengah menunggunya datang


bukan aku takmau berjalan,


gerap sekali kakiku terjerat lumpur kerinduan,kerap juga tujuanku tak akan mendekat


Jangan marah dan jangan sedih aku itu ketulusan seperti hatimu,


Bila aku ada diantara mungkinkah


ada kata bersama,


kata rupanya penista


keindahannya ada dimana mana


dimiliki banyak mata,


diraba banyak rasa yang bersedih


kemudia dia kekasihku di akhir nanti


Silau,


Nuansa dalam pagi yang cerah


Seseorang menggenggam hatinya


hati yang tak terdapat dalam buku manapun


Seseorang yang kerap menganggu tidurku


seseorang yang dapat memberikanku cahayanya,


Dimana pun aku dan mereka berada


hanya senyuman yang bisa aku berikan ,


siapa lagi musuh ini, dia memenjarakan wilayahku dengan kekuasaannya


aku di sodorkan soal soal tanpa kata


tanpa kata apakah bisa menjadi kehidupan


tanpa kata apakah kita bisa bertahan


rumit, sulit, bahkan kaisar agung bertihta diatas kata kata rakyatnya


pendulum kata tak berati aku harus berlari tanpa arti darinya


akhirnya penjara ini runtuh


kekejaman matematika bagaikan benalu


merenggut kata kataku


andai dan sangat bergurau dengan kata


"


"jun, hiks" suara Adelia, matanya terpejam dikamarnya.