
"burung merpati layaknya persahabatan
akan hilang bersama waktu yang menjagal
dia Peronika muncul ntah dari mana
membawa kata untuk menghancurkan ku
sela kata nya adalah pemabuk
sayang sekali
aku pecinta kata bukan pemabuk rasa
kami menjadi sahabat dalam tiga kepribadian berbeda,
aku
dia
engkau terkasih,
dia adalah adelia tempatku melampiaskan kata
peronika adalah aku dalam kata dan rasa yang seirama
Engkau adalah aku yang lain
terperanjat dalam doa ketiadaan lagi
kamarku tempatku dalam bersendiri
memikirkannya hanya menjadi beban kehidupan
lebih baik kupikirkan irama tentang adelia
setelah bertemu dengannya perasaanku sangat ingin memilikinya,
namun ntah mengapa kemurungan diri ini mengalir mencuat kepermukaan.
Mereka dari negeri yang asing
memalingkan pot bunganya dalam persaingan
aku takkan kalah
DIAM ...
Kau hanya benalu dalam pelukan Adelia,
Doanya terhalang oleh ringkuh kata yang mencekam mangsa darimu pemangsa,
Diam lah,
Jangan katakan bahwa dia sahabat
Hanya untuk memaksanya menjadi lemah,
Pergilah Adelia,
Jangan bersuara atapun langkah yang terseret berat dikakimu bergema
Langkahkan,
itu untuk kekuatanmu, dia hanya menjadi bebanmu untuk berdoa
Pergilah,
Pergi,
per
gi
Hanya aku sahabatmu yang mengerti
lomba berujung dengan kemanisan
lihat para budak kata bergembira seakan melihat bayi tanpa nama
aku pergi bersama mereka dengan bangga
duniaku pun membicarakan semuanya
dari sudut ke sudut kita adalah pemenang
pemenang akan kenangan nyata
tiadaka waktu bergurau , ajal akan tiba.
Kemeja pagi,
Tadi pagi telah sirna bayang kesepian,
telah sirna oleh kalian yang datang dari jauh ,
saya hadir membawa diri
mengucap salam hormat kepada kalian
aku adalah penyair kata umpatan
dan kalian berdiskusi dalam bahasa kasar
jangan memandang keluh dimataku
baiklah senyum kalian mempesona
Haus aku,
Dengan bibir ini mengering bagaikan tanah tandus dipadang pasir,
hei tuan dan nyonya sekalian,
Tak ada arak didepan kalian,
buah pun tidak menjadi racun memabukkan
sebut aku pujangga kata,
yang datang dari singgah sana raja,
membungkuk hormat setiap kata,
menjilat habis air luirku ,
kata dan rasa dicerna mata melalui telinga,
apakah pertemuan ini adalah petaka? ataukah bencana?
aku masih ingat sahabat seiramaku
katanya
Re
Do,
Re,
memisah nada dalam suara, memisah kan hatiku dan hatimu,
Tersambut kasih yang jauh dibelakangku, ada dia yang tengah menunggunya datang
bukan aku takmau berjalan,
gerap sekali kakiku terjerat lumpur kerinduan,kerap juga tujuanku tak akan mendekat
Jangan marah dan jangan sedih aku itu ketulusan seperti hatimu,
Bila aku ada diantara mungkinkah
ada kata bersama,
kata rupanya penista
keindahannya ada dimana mana
dimiliki banyak mata,
diraba banyak rasa yang bersedih
kemudia dia kekasihku di akhir nanti
Silau,
Nuansa dalam pagi yang cerah
Seseorang menggenggam hatinya
hati yang tak terdapat dalam buku manapun
Seseorang yang kerap menganggu tidurku
seseorang yang dapat memberikanku cahayanya,
Dimana pun aku dan mereka berada
hanya senyuman yang bisa aku berikan ,
siapa lagi musuh ini, dia memenjarakan wilayahku dengan kekuasaannya
aku di sodorkan soal soal tanpa kata
tanpa kata apakah bisa menjadi kehidupan
tanpa kata apakah kita bisa bertahan
rumit, sulit, bahkan kaisar agung bertihta diatas kata kata rakyatnya
pendulum kata tak berati aku harus berlari tanpa arti darinya
akhirnya penjara ini runtuh
kekejaman matematika bagaikan benalu
merenggut kata kataku
andai dan sangat bergurau dengan kata
"
"jun, hiks" suara Adelia, matanya terpejam dikamarnya.