
Malam harinya
Adelia, Aditya, dan ibunya sedang makan malam bersama. Karena ayah mereka sedang ada rapat dan harus dialah yang harus mengurusnya. Sesuai yang dikatakan Aditya tadi siang ia mengadukan Adelia karena hal sepele saja.
"Ma, liat tu kak Adel masa aku minta tolong doang dianya marah-marah ma. Kan disuruh cariin bakso doang, emangnya salah yah mah?" adu Aditya.
"hah? kau betulan begitu Del?" tanya Elina
"emangnya kalau aku bilang iya kalian percaya?". jawab Adelia dengan santainya. Karena ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti sekarang.
Elina hanya terdiam.
"liatkan ma ngaku juga tuh". ucap Aditya dengan senyum kecutnya.
"Adelia emangnya apasih salahnya adik mu sehingga kamu selalu saja marah-marah kepadanya?".ucap Elina dengan suara yang mulai meninggi. "kalian ini setiap hari selalu bertengkar saja hah. Apakah kalian tidak bisa berhenti bertengkar walaupun sehariiii saja. Apakah kalian ingin membuat orang tua kalian cepat meninggal?.Terutama kamu Adel. Kamu itu sebagai seorang kakak harusnya kamu itu mengalah sama adik mu. Berikan dia contoh". ucap Elina dengan suara yang tinggi.
Adelia yang sedari tadi menahan emosinya kini angkat bicara.
"contoh apanya maa? Kalau mama saja selalu dengerin kata-kata dia kenapa tidak dari dulu mama dengerin kata-kata aku juga. Ma bedain mana yang salah dan mana yang benar cari tahu semuanya mah jangan asal marah doang. Aku tidak ada maksud untuk ngebunuh kalian karena kami selalu bertengkar, tapi mamalah yang selalu dikelabui oleh Adit sehingga mama hanya bisa mendengarkan Adit Adit dan hanya Adit saja."ucap Adelia dengan mata yang berkaca-kaca. "Yang tadi di katakan Adit itu tidak sepenuhnya kebenaran ma. Bukan aku yang langsung marah tapi dia yang langsung masuk kamar ku nyuruh-nyuruh dan marah-marah kepadaku. Itu ke-be-na-ran-nya ma. Dengar ma Adit itu dibutakan oleh ke irihannya. Dengarkan dan pahami apa yang tadi aku katakan ma". ucap Adelia yang pipinya sudah dibasahi oleh air mata sambil menahan emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"tapi setidaknya kamu turutin aja kemauan adikmu. Kan gampang". sambung Elina.
"gampang? Gampang kata mama. hah". ucap Adelia dengan nafas yang sesak. Sebenarnya ini itu cuma masalah sepele doang. Tapi kalian malah jadikan masalahnya menjadi besar". ucap Adelia dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Seketika selera makan Adelia sirna seketika. Ia pun berniat untuk pergi meninggalkan meja makan itu akan tetapi ibunya pun angkat bicara lagi dan lagi.
"habisin makanan mu". lagi-lagi Elina angkat bicara dan itu membuat Adelia semakin marah.
" tidak sekarang selera makan ku hilang jadi jangan ganggu aku lagi. Aku mohon. Dan kamu Adit selamat atas kemenangan mu". ucap Adelia sambil meninggalkan Aditya dan ibunya.
Sepeninggalan Adelia dari ruang makan, Elina hanya bisa menghela nafasnya yang sedari tadi membuatnya sesak.
Hah ****** juga kau hahaha, nantangin aku sih. Liat tu jadinya kan dimarahi. ucap Aditya didalam hatinya dengan penuh kebahagiaan yang benar-benar membuat dirinya semakin dibutakan dengan keirihannya.
Dikamar Adelia
Adelia hanya bisa menangis dikamarnya. Ia hanya berfikir apakah dia juga sudah termasuk anak durhaka atau apalah.
"sebenarnya aku ini siapa sih kenapa semua orang benci sama aku. Apakah aku anak pungut? atau aku anak tiri?. Apa salah ku jika aku anak pungut atau anak tiri. huhuhu."ucap Adelia dengan suara yang sesegukan.
"aku tahu aku salah tapi setidaknya dengarkan aku sekali maaaaa". sambung Adelia. Kini ia hanya bisa menangis didalam kamarnya sehingga ia pun tertidur.
Pagi harinya
Adelia terbangun dengan mata yang sembab. Ia segera mandi dan secepatnya ingin ke sekolah. Setelah ia sudah siap untuk ke sekolah. Tiba-tiba di ruang makan ia melihat ayah, Adit, dan juga ibunya sedang sarapan. Akan tetapi Adelia takut nanti ayahnya akan bertanya kenapa matanya bisa sembab.
"pah Adel berangkat sekolah dulu". ucap Adelia tanpa menatap papanya
"makan dulu sayang nanti kamu kelaparan di sekolah loh". ucap Arsawijaya dengan lembut. Sedangkan Aditya dan Elina hanya tersenyum kecut.
"tidak pah aku sudah terlambat". ucap Adelia tanpa menatap papa nya lagi
"kamu kenapa Del kenapa tidak menatap papah sama sekali". ucap Arsawijaya dengan bingung.
"kamu kenapa nak. Kenapa mata mu?" ucap Arsawijaya dengan bingung.
Adit dan ibunya seketika bergetar. Mereka takut nanti Adelia akan menceritakan semuanya. Tapi Adelia malah menyelamatkan mereka.
"tidak apa kok pah cuma kelilipan semalam". jawab Adelia dengan tersenyum manis.
Huh untung saja dia tidak bicara yang sebenarnya. ucap Elina dalam hati.
maafkan aku pahh. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya takut nanti papah akan memarahi Adit dan Ibu. Maafkan aku pah. ucap Adelia dalam hatinya.
"aku berangkat sekolah dulu pah". ucap Adelia dengan senyumnya yang masih ia pertahankan.
"iya sayang, tapi kamu bawa roti ini ke sekolah yah nak". saran Arsawijaya. Dan hanya dianggukkan oleh Adelia.
Adelia mencium tangan ayah dan ibunya. Saat ia hendak mencium tangan ibunya seketika ibunya tersenyum kecut melihatnya. Akan tetapi Adelia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan ibunya.
"Assalamualaikum". ucap Adelia sambil meninggalkan kedua orang tua dan juga adiknya di ruang makan.
"Walaikumsalam hati-hati yah Del". ucap Arsawijaya dengan lembut.
"iya pah". teriak Adelia.
Di ruang makan
Elina dan Aditya sedang membicarakan Adelia.
"idih Adelia sok nyelamatin kita ma". ucap Aditya dengan sombongnya.
"untung aja dia nyelamatin kita dari pada kita diomelin sama ayah, kan ceritanya pasti akan beda. Nanti dianya yang ngerasa sok menang gitu". ucap Elina dengan merendahkan Adelia.
"iya juga itu ma. Pasti sekarang dia merasa sudah menjadi sok pahlawan-pahlawan gitu deh ma". sambung Aditya dengan menjelek-jelekkan kakaknya sendiri.
Elina hanya mengangguk-angguk tanda setuju.
Di sekolah
Dengan mata sembab Adelia. Ketiga sahabatnya bertanya-tanya kepadanya akan tetapi Adelia tidak ingin menjawab.
"Del mata kamu itu kenapa?". tanya Friska. Adelia tetap saja diam.
"woee Del kamu itu kenapa hah? plisssss jangan ngebuat kita-kita itu marah". ucap Safira dengan suara meninggi. "lo budek yah Del dari tadi kita nanya lo". tambah Safira. Yang membuat Adelia kaget.
"e-eh sorry. A-apa yang tadi kalian tanyakan?". ucap Adelia dengan kagetnya.
Safira, Friska, dan juga Kirana hanya bisa menghela nafas mereka.
Mohon dimaklumi yah karya saya, karena saya baru pemula🤗
Jadi jangan lupa like, coment, and vote yah teman-teman.🤗