
Jun kembali kekamarnya , dengan muka datar dan terpaku didepan mejanya, Jun melihat laci kemudian tempat cutter berada,
Jun mengambil cutter merobek telapak tangannya, tanpa ekspresi nyata , mengambil wadah kecil dimeja , mengisinya setetes demi setetes, Dia mengambil pulpen tintanya,
mengisi pulpen dengan tetesan darah, Laci yang tadinya tertutup rapat, Ditarik keluar untuk mengambil buku khususnya, buku yang memiliki kertas yang terbuat dari perkamen kulit ,
"
Darah
by. Jun
Pernik tinta cair mengapung
dengan warna darah
dia terus mengalir,
terjatuh dari pena tanda tempat melabuh rasa,
merah yang membasahi melukiskan wajah sang Ibu,
Goresan demi goresan,
Titik demi titik kian mengering dan kaku,
wajahmu , rupa setiap halus rambutmu tergoreskan,
Namun,
Aku hanya bisa menuliskan bait mu,
setiap hari
dari detik tak adanya sosokmu,
Aku terus menggubris ,
Setiap keindahan yang terpapar jelas dimata,
Tersentuh oleh raba menjadi kata yang mencari indahnya hadirmu,
Namun tadi , sesaat , aku melihatnya,
Benar benar sosokmu menyerupai,
setiap kerinduan hilang,
Aku takut dengan kepalsuan nyata,
kuharap penuh , Ibu bahagia,
"
Jun berbaring menggulung kerah lengan yang disobek dari bajunya ,
merapihkan lukanya yang hampir mengering,
malam yang panjang untuk terjaga, mungkin larutnya akan meniadakan kesadaran jun yang saat ini begitu menekan emosionalnya sendiri,
...****************...
Pagi cerah seperti biasa , Adelia menyapa jun dijalan,
bersama - sama berangkat sekolah,
Adelia berkata " Jun bantu aku mengikat sepatuku!"
Adelia lupa mengikat tali sepatunya
"Hem, oke" Ucap Jun
setelah membetulkan tali sepatu jun berdiri dan menatap adelia , muka mereka berhadapan, Adelia melotot , namun terlihat menambah cantiknya adelia, Jun terpanah sebentar , "Apa?" jun berkata didepan Adelia denga lembut,
"Hem, Tidak, Jun sudah sarapan?" tanya adelia
"Sudah del" jawab jun
adelia terkaget, Adel bertanya lagi " Jun sudah mandi?" pertanyaan Adelia hanya mengecek jawaban dari jun namun terdengar konyol .
Jun mencium tubuhnya dan berkata "Sudah kok!"
Adel tambah kaget itu perubahan yang sangat aneh bagi pandangan sifat jun yang Adel lihat,
Pikirannya terus bertanya-tanya , " Dia baik baik saja, jawabannya biasa saja , tidak salah, tapi kok serasa salah ya" Adelia bingung diapun berpikir hingga dirinya berada dikelas
Adelia menempatkan tasnya dibangku, berlari keruangan peronika berada,
"Peronikaaa" Adel memanggil peronika
"Apa?" jawab peronika
"Jun berubah sikap padaku" Ucap Adel
"Hah, maksudmu?" Tanya peronika
Adelia menjelaskan, perubahan Jun saat ditanya dia tidak mempuitiskan kata kata nya,
Peronika tak percaya , dan berkata "Apa dia sakit?"
"Dia sehat, baunya segar , mukanya juga tampan, hem" Jawab Adelia tak perduli ungkapannya bagaikan menceritakan kekasihnya,
"hadeh, ngawur, yaudah nanti pulang sekolah kita pura pura buat rapat tim puisi saja !" ucap Peronika
"Baiklah, aku kembali dulu , sudah bell masuk" Ucap adelia
"Ada , nih " Jawab Jun
selang beberapa waktu pelajaran , Adel bertanya "Jun ada penghapus pulpen?"
Jun berkata" Ada adel, ambil saja itu" menunjuk kearah Tip-x dimeja,
Adelia membuka buku , mencoba menulis puisi seperti saat dia berpuisi bersama ayah dan ibu peronika beberapa waktu lalu,
"Aaaaaarggg" Adelia sedikit berisik,
"Adelia kenapa kamu?" Guru killer Mtk sedang mengajar,
"Hehe, tidak apa apa pak guru, adel hanya menjatuhkan pulpen " Mengangkat pulpennya dan alasan itu ampuh
Guru kembali mengajar , dan adelia menyerah melanjutkan rencananya akan merawat jun dengan peronika diruang club saja,
......................
Ruangan club ,
Peronika dan adelia sibuk menatap jun ,
Peronika maju kearah panggung kecil diClub mereka , membacakan puisi yang pernah dibacanya,
Jun tengah memperhatikan, jun juga sedang menulis bait baitnya dibuku barunya,
Adelia menatap jun terus,
peronika juga sudah selesai, tapi jun hanya menulis dan menulis,
"Jun" panggil peronika
"Iya?" jawab jun,..
"Hah , !!!JUNNNNN?" tanya peronika teriak
" Hah, kenapa sih peronika?" jawab jun (normal)
"oh iya , aku ada janji" ucap jun
"Tunggu , kau janji dengan siapa?" tanya adelia dan peronika juga penasaran
"Dee terma , katanya dia mau mengajakku kerumahnya" Jawab jun,
"Aku ikut, aku ikut" ucap adelia dan Peronika
"Oke oke, ayo" ajak jun
"Adelia, sepertinya jun baik baik saja tetapi kenapa kita khawatir seperti ada yang salah kan?" ucap bisik peronika kepada adelia
" iya peronika aku merasakan sesuatu yang benar tapi itu adalah kesalahan, gimana ya bilangnya" jawab bisik Adelia kepada peronika
"Kalian kenapa bisik bisik?" jun menanyai mereka
"Tidak apa apa" ucap adelia dan peronika mengikuti jun menuju rumah Dee terma
......................
"Hai jun , kau datang juga!" Dee terma menyambut mereka
"Ara ara , kenapa dua gadis mengikuti jun?, apakah takut jun akan berpaling?" Tanya Dee terma kepada peronika dan Adelia
Adelia dan Peronika berkata "Tidak kami hanya teman"
"Sudah sudah ayo kita masuk" Ajak Dee terma
Apartment yang lumayan luas , meja makan yang telah terisi lauk pauk untuk makan malam,
"Ayo makan, " Dee terma tersenyum kepada jun layaknya ibunya,
Adelia yang lapar melihat kue , juga terlupa dengan masalahnya , peronikapun begitu , sambutan hangat dan candaan ringan mereka mewarnai suasana kekeluargaan sederhana,
waktu yang telah datang untuk kembali pulang, para anak anak diantar Dee terma oulang kerumah masing masing
...****************...
Jun sampai dirumah , dia tertidur lelap untuk hari yang cerah,
Adelia sudah makan malam dirumah dee terma dan tidak ikut ayah dan ibunya makan, tapi Adelia hanya ngemil beberapa sayuran,
"Kalian bertiga Pergi kerumah nona penulis?" Ibu adelia ingin mendengar ceritanya,
Adelia menceritakan hal yang terjadi hari ini,
" Ibu rasa Jun tidak apa apa biarkan dia tenang seperti sekarang, kamu tetaplah seperti biasa berteman denganya," Nasihat ibu kepada adelia
"Iaa maaa" Jawab Adelia
" Hem, jika Jun tak seperti biasanya , seram sekali ya, kita bisa menganggap itu memang aneh," ucap Ayah adel
mereka bertiga dibuat bingung ,
namun mereka melupakan hal itu, tetapi jika ingin berbicara bersama selalu ujung pembicaraan mengarah ke sifat jun,
karena sudah waktu istirahat untuk tidur mereka mengakhirinya, Adelia pun tidur dikamarnya
peronika tengah terbangun berkata "Hem , "
hausnya membuat dia berjalan kearah kulkas membukanya dan mengambil minum dinginnya, dahaganya sudah hilang , sekembalinya kekasur matanya tidak lagi terpejam " Yah jadi melek gini, hem, sebentar lagi pagi tiba, apa aku mandi saja ya" Peronika pergi mandi, bersiap berangkat kesekolahnya dia membangunkan ibu dan ayahnya tepat waktu ,
kemudian mereka sarapan roti bersama,