
Haidar membonceng Adelia dengan mengikatkan jaketnya ke perut Adelia dan perutnya dan juga menahan tangan Adelia agar selalu memeluknya. Agar Adelia tidak jatuh. Haidar melajukan motornya untuk mencari sebuah rumah sakit terdekat tetapi ia tidak menemukannya juga.
Disisi lain
Dirumah Vania
Vania dan teman -temannya sekarang merasa sangat ketakutan. Ia sangat khawatir dengan Adelia.
"Van, apakah Adelia mati?" tanya Sherly yang sudah ketakutan sedari tadi.
"Kalau Adelia ma-ma-mati terus dia gentayangan. Terus dia mencari siapa pembunuhnya. Tidak tidak aku belum ingin mati". tambah Mika yang sangat ketakutan.
"husst jangan berisik. Kalian tenang saja tidak akan terjadi apa-apa". ucap Vania yang kelihatan ikut panik juga.
"tenang bagaimana maksd loh Van?". tanya Mira.
"aku tidak ingin dihantuin dan juga tidak ingin masuk penjara. Tidak tidakkkk". terik Fany.
"aku juga Van. Ini semua gara-gara kamu Van". tunjuk Mika.
" kenapa loh tunjuk aku". ucap Vania yang sudah mulai emosi.
"andai saja bukan karena cinta buta mu itu semua ini tidak akan terjadi Van". sambung Mika yang juga sudah emosi.
"eh kalian kenapa malah ikut-ikutan". tambah Vania.
"karena kamu yang ngajak". Jawab Mira. Kini mereka berlima sudah emosi dan juga panik.
"Dan lagi kamu juga kan yang mulai menamparnya". Tambah Mira.
"diammmmmmmmm bacot". teriak Vania dengan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"heeeee kenapa loh marah hah semua ini salah mu". ucap Sherly.
"tapi kalian juga ikut ". jawab Vania yang tidak ingin di kalah.
"heee andai saja kau tidak mengajak kami, kami tidak akan ikut dengan kau". ucap Feny.
Mereka berlima sudah emosi sampai ke ubun-ubun sehingga mereka sulit untuk dihentikan.
Tanpa mereka berlima sadari ayahnya Vania yang baru saja pulang dari kantor lewat didepan kamar Vania dan sempat mendengar pembicaraan mereka. Mendengar semua itu Ayah Vania kini tidak bisa berkata-kata lagi ia merasa sangat terkejut. Ia tidak menyangka anaknya sekarang sudah menjadi seorang pembunuh.
"VANIA" teriak Ayahnya Vania.
Mereka berlima menoleh kesumber suara dan seketika tubuh mereka menjadi bergetar kembali. Mereka berharap ayahnya Vania tidak mendengar semuanya tapi nihil yang mereka duga adalah salah.
"KALIAN MEMBUNUH ADELIA ?" ucap Ayahnya Vania dengan menekan semua kata-katanya.
Mereka berlima hanya terdiam dan menunduk.
"sekali lagi aku tanya KALIAN MEMBUNUH SESEORANG?". tanya sekali lagi.
Tetapi mereka tetap saja diam.
"JAWAB". bentak sang Ayah. Seketika mereka berlima pun kaget. Tetapi mereka tetap diam karena mereka sudah sangat ketakutan dan juga bergetar seluruh tubuh.
"dengan kebisuan kalian, berarti aku anggap itu 'Iya' kalian membunuh ADELIA." ucap Ayah Vania dengan suara yang pelan dan seketika menjadi meninggi.
"maafkan Vania Ayah. Vania takut masuk penjara". ucap Vania sambil berjongkok memeluk kaki ayahnya dan menangis sesegukan.
"sudah terlambat. Penyesalan memang datangnya belakangan. Jadi sekarang tanggunglah semua kesalahan mu. Sekarang Ayah tidak akan ikut campur lagi. Pertama kalinya kamu Vania membuat ayah malu sangat sangat malu. Karena cinta buta mu itu kau menjadi seperti ini. Seorang pembunuh. Sekarang terimalah karma mu. ucap ayah Vania dengan kekecewaan terhadap anaknya. Ia hendak meninggalkan mereka berlima tetapi ayahnya meminta sesuatu. "kartu kreditmu ayah sita selama kamu di penjara nanti hingga kamu tobat." ucap Ayah Vania sambil meninggalkan mereka berlima.
"hah" teriak Vania.
Akhirnya keempat teman Vania pun pulang meninggalkan Vania sendirian di kamarnya.
"bagaimana ini aku sangat takut". ucap Vania dengan takutnya. "ayah benar penyesalan selalu belakangan. Maafkan aku ayah. Vania menyesalllll huhuhu". tangis Vania.
Di rumah sakit
"baringkan dia". ucap salah satu suster yang ada dirumah sakit.
"dek, apakah ada keluarga adek yang bisa kami hubungi?". ucap suster sebelahnya.
Saya tidak tahu nomor keluarga Adelia. Tapi mungkin ponsel Adelia ada di tasnya.ucap Haidar dalam hati.
"sebentar suster". ucap Haidar.
Haidar berlari ke parkiran untuk mencari tas Adelia yang ia simpan di bagasi motornya. Dan ia menemukan ponsel Adelia. Untung saja ponsel Adelia tidak memiliki sandi atau pola apapun.
"huft untung saja ia tidak memberikan sandi ponselnya". ucap Haidar
Haidar mencari kontak yang bisa ia hubungi di ponsel Adelia. Haidar memindahkan nomor ayah Adelia ke ponselnya. Ia pun menelfon ayahnya Adelia dan untung saja ayahnya Adelia pun mengangkatnya.
"halo dengan siapa ini?" suara ayah Adelia.
"om saya Haidar teman sekelas Adelia" . ucap Haidar dengan suara yang panik.
"ohhh Haidar. Kenapa nak? Sepertinya kamu ada masalah yah sama Adelia". tanya Ayah Adelia.
"begini om apakah om sekarang bisa pergi ke rumah sakit *****. Adelia .....Adelia tadi. hmmmm..... itu anu om." ucap Haidar dengan berbata-bata. Ia berusaha menahan air matanya dan juga merasa takut terhadap ayahnya Adelia.
"anu itu apa si Haidar. Adelia kenapa?" tanya ayahnya Adelia yang juga sudah mulai panik.
"om kerumah sakit ini sekarang Adelia dalam bahaya om kumohon secepatnya". Ucap Haidar. Ia tidak bisa menjelaskan semuanya melalui ponsel.
"baiklah saya akan kesana". ucap Ayah Adelia dengan buru-buru mematikan panggilan.
Haidar mondar-mandir di depan pintu ruang UGD. Berharap dokter bisa secepatnya menangani Adelia. Sambil menunggu keluarganya dan juga keluarga Adelia.
Tampaklah ayah, ibu, dan juga Aditya yang sedang berlari menuju ke arah Haidar dengan penuh kecemasan.
"Haidar dimana Adelia?" tanya ayah Adelia.
"A-a-Adelia ada di dalam om." jawab Haidar dengan gugup.
"kenapa Adelia bisa menjadi seperti ini Haidar". kini emosi ayahnya Adelia tidak bisa ditahan lagi. Ia meninju tembok yang ada di sampingnya. Dan itu membuat mereka menjadi sangat kaget dan juga takut.
"ceritanya panjang om".jawab Haidar sambil mengusap air matanya.
Dan tampaklah juga keluarga Haidar yang berlari menuju kearah mereka.
"Haidar kamu tidak apa-apa nak?" tanya ibunya Haidar.
"Haidar tidak apa-apa kok bun". jawab Haidar.
"Tapi anak saya yang kenapa-kenapa". sindir ayahnya Adelia.
"Haidar apa yang sebenarnya terjadi sayang?".
"ceritanya panjang bun". jawab Haidar
"dari tadi itu yang cuma bisa kamu jawab ceritanya panjang om ceritanya panjam om". ledek ayahnya Adelia.
Haidar menceritakan semua kejadian yang hanya ia lihat dan juga yang ia curigai.
"Haidar hanya melihat Adelia yang sudah tergeletak di lantai yang sudah dipenuhi dengan darah". ucap Haidar.
"terus kenapa bisa kamu tahu kalau Adelia ada di cafe itu?" tanya ibunya Haidar.
" itu tadi Haidar curiga dengan Vania yang tiba-tiba datang dan juga mengajak Adelia bun" jawab Haidar.
"siapa Vania?" tanya ayahnya Adelia.
Jangan lupa like, koment, and vote yah 😊