Adelia

Adelia
Luka


Dulu hatiku beku, kamu yang hangatkan


Dulu hatiku terluka, kamu yang obati


Dulu aku sering sendiri, kamu yang selalu menemani


Dulu aku begitu mempesona di matamu


Entah kemana hangatmu kini


Entah apa salahku


Sungguh aku tak mengerti


Kamu dengan sengaja ciptakan lara


Saat aku menganggapmu begitu berarti


Kini aku kembali sendiri, menatapmu begitu ceria bersamanya


Harusnya dulu aku tak membuka hati untuk mencintai


Karena pada akhirnya kini, aku terluka lagi


Aku mencoba melupakan semua tentang kita.


Aku kubur setiap kenangan di tempat yang terdalam.


Aku buang semua yang berkaitan dengan mu.


Aku tutup kisah ku sebagai pengagum mu.


Aku melepaskan dirimu dari ikatan sebagai teman.


Aku akan menata ulang kekacauan di hati selama ini.


Kau pun telah membentangkan jarak yang jauh agar kita tak bisa bertemu.


Kau juga telah menanamkan rambu-rambu untukku agar tidak menghubungimu lagi.


Beberapa waktu aku berhasil baik baik saja.


Namun, sialnya selalu datang rindu sampai dirimu hadir di mimpi ku bertubi-tubi, berhari-hari bayangmu mengikuti langkah kaki dan menyiksa hati.


Sebegitu dalamnya aku mencintaimu, padahal kamu tak pernah aku miliki dari dulu.


Bagaimana caranya agar aku bisa baik baik saja tanpamu?


Seperti kamu yang sekarang kulihat begitu bahagia bersamanya.


Bagaimana caranya agar aku tak pernah merindukanmu?


Seperti yang sudah berhasil kamu lakukan sekarang.


Sungguh kamu terlalu berarti bagiku, tapi kamu bisa dengan mudah melupakan semuanya.


Ini sangat menyakitkan hatiku.


Ketika lembaran-lembaran kosong yang hanya jadi hiasannya


Ketika pena ini tak dapat lagi aku gerakkan


Mungkin ini adalah fase dimana aku tidak ingin melakukan apa-apa.


Tak ada lagi sebuah cerita


Tak ada lagi sebuah senyuman manja


Semuanya hancur bersama luka yang kau tinggalkan di ujung sebuah cerita.


Tak pernah kurasakan luka sepedih ini, sesakit ini dan sebajingan ini.


Perih hati bagaikan disayat ribuan pedang tajam


Merobek hatiku yang paling dalam


Menghancurkan tubuhku yang sudah tidak ada lagi sebuah harapan.


Ingin ku benci dirimu dengan segala penyesalan


Ingin ku teriaki dirimu ditepi jurang yang paling kejam


Ingin ku balas semua luka-lukaku yang pernah kau tancapkan


Tapi aku tak bisa!


Aku terlalu mencintaimu dengan segala luka.


Terimakasih karena telah mengajarkan aku terluka tanpa harus meluka.


Kau penulis luka terhebat


Aku penikmat luka terdahsyat


Entah sampai kapan aku tersiksa melihatmu berbahagia dengannya, konyol memang, karena jelas aku yang salah dalam hal ini, aku yang memaksa untuk masuk ke dalam kehidupanmu padahal aku tau kamu laki-laki yang tak pernah menyakiti pasanganmu sendiri.


Namun, apakah semua ini mutlak kesalahanku?


Apakah kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang kamu perbuat padaku sekarang?


Seandainya saja dulu kamu tak membuat aku nyaman berada di sampingmu


Seandainya saja dulu kamu tak mencurahkan semua kasih sayang yang tak pernah aku dapatkan darinya


Seandainya saja dulu kamu tak memberikan aku janji bahwa kita akan selalu bersama dan baik-baik saja


Ahh, mungkin semua hanya harapanku yang ketinggian, dan untukmu itu semua adalah hal sepele yang bisa kapan saja kamu lupakan.


Kamu bertanya "Yang, baik-baik saja, kan?"


Apa kamu pernah berfikir bagaimana aku disini yang keadaannya tak sama denganmu yang berbahagia disana.