
" Ra, Mama minta tolong ambilkan hem Kakakmu di kamar, Mama mau buat seragam untuk acara pernikahanmu.
Rara menuju kamar Nussa, pelan dibukanya handel pintu. " Bau khas Kak Nussa" batin Rara sedih. Rara memutar anak kunci lemari pakaian Kakaknya, diambilnya salah satu hem kakaknya itu.
" Kak Nussa.. Rara kangen.." Rara mencium hem Nussa dengan lembut. " Kenapa tidak ada kabar beritanya dari Kak Nussa.
"Kak Nussa sedang falling in love dengan Kak Niken, mereka sedang berbahagia." Rara membatin sedih.
" Rara.. dibawah ada Erlangga, dia mau ajakin keluar nak!" Mama setengah berteriak dari ruang keluarga, Rara terkejut, buyar sudah lamunannya.
" Tunggu sebentar Kak! Aku ganti baju dulu. Kakak silakan duduk dulu."
Sore yang cerah Erlangga mengajak Rara ke pantai Alam Indah, melihat sunset di ufuk barat. Suasana pantai sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang ada di pantai.
Erlangga menggenggam tangan Rara erat, berjalan beriringan. Hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu, karena menjelang tiga hari sebelum hari pernikahan mereka tidak boleh bertemu.
" Aku pulang dulu ya Ra..? " Erlangga tiba - tiba mengecup kening Rara. Ups Rara terlonjak kaget, hendak menolak tapi Erlangga membawa Rara kedalam dekapannya.
" Kak.. ! " Rara hendak protes, tapi Erlangga tetap saja kekeh memeluk Rara. Membelai rambut Rara yang panjang.
" Ijinkan aku Ra, memelukmu sebentar.. Besok tiga hari lagi kita akan menikah, dan segala sesuatunya adalah takdir yang Kuasa. Kita tidak tahu apakah Tuhan mentakdirkan kita berjodoh atau tidak, setidaknya aku sudah berusaha mencintaimu dengan segenap hatiku. I love you Rara.."
" Kak Erlangga kok tumben lebay..? Tiga hari lagi kan Kak! Aku sah buat Kakak. Dan aku milikmu." Ujar Rara akhirnya menghibur seorang laki - laki yang sebentar lagi akan jadi suaminya.
Lelaki itu sangat mencintai Rara dengan segenap hati. Perasaan sayangnya tidak main-main, Rara suka dengan Erlangga adalah dengan lelaki yang penurut, tidak pernah menuntut jika Rara tidak mau bersentuhan secara fisik, ya Erlangga sangat menghargai Rara.
Rara sudah mewanti-wanti tidak ada ciuman, kontak fisik yang terlalu jauh. Karena Rara hanya mau setelah menikah baru Rara akan berikan.
Rara memejamkan matanya, kantuknya tiba - tiba datang, padahal dia belum melaksanakan shalat Isya, belum membersihkan diri selepas pulang bersama Erlangga. Ada tugas kampus yang belum diselesaikan.
" Ra... ?" Tiba - tiba suara Mama mengagetkan Rara yang sudah hampir terseret arus mimpi.
Mama Rara tersenyum " Wah.. ternyata anak Mama mengantuk ya..?"
" Eh, Mama.. ngak apa Ma, daripada Rara tidur,kan belum shalat belum membersihkan diri. Ada apa Ma?"
Rara berusaha bangun dan duduk di tempat tidur,ketika Mama menghampirinya dan duduk di tempat tidur Rara.
Mama membelai rambut Rara, membawanya dalam pelukan.
" Sebenarnya Mama berat Ra, sebentar lagi Mama akan ditinggal kamu menikah nak! Kakakmu Nussa juga tidak ada disini, dan Mama dirumah cuma sama bibik, coba kalau setelah nikah kamu gak dibawa Erlangga pindah menempati rumah barunya,dan kalian tinggal disini, Mama akan sangat senang Ra."
Mama menangis, Rara tidak tega melihatnya, dulu Mama berjuang sendirian meneruskan usaha almarhum Papa. Penuh perjuangan, tapi Mama wanita hebat, bahkan Mama enggan untuk menikah lagi demi menjaga perasaan cintanya pada almarhum Papa.