
Rara sibuk di dapur, rambutnya dibiarkan tergerai, karena masih agak basah setelah mandi keramas.
" Wangii sayang.. " Nussa mencium istrinya dari belakang.
" Kebiasaan Kakak ni, suka bikin kaget. Gosong Kak, masakan aku!"
Rara protes ketika Nussa mencium bibirnya.
" Berangkat klinik jam berapa Ra? Kakak antar ya ?"
" Jam delapan Kak, tapi kan Kakak berangkat jam delapan, aku diantar Mang Diman juga bisa, atau bawa motor sendiri juga gak masalah si Kak."
" Kakak pingin antar sayang.."
Tepat jam delapan kurang sepuluh menit mereka sudah otw ke klinik.
" Ra, Kakak pikir setelah kamu lulus kuliah, mending kamu pegang klinik saja. Kakak gak mau kamu jadi perawat beneran, yang ada kamu ikut mandiin pasien, iya kalau pasiennya cewek, lha kalau cowok gimana coba Ra?"
" Emang gimana si Kak kalau pasiennya cowok?" Hmm Rara sengaja bertanya, alih - alih mau menggoda suaminya.
" Pokoknya Kakak gak mau Ra, tangan Rara hanya boleh menyentuh punya Kakak saja!'
" Haizz.. Kakak ni so sweet pake banget !"
" Awas ya Ra, kamu godain Kakak Mulu ntar malam Kakak ganggu tidurnya."
" Ya.. Siapa takut Kak! Paling Kakak gak tega liat Rara tidur pules."
" Kasihan si Ra,liat kamu kecapaian semenjak praktek di klinik. Kan kamu bisa minta ganti Ra sama perawat lain, ngapain sungkan - sungkan itukan klinik punya sendiri."
" Iya.. Kakak sayang, hari ini terakhir deh, besok - besok cuman sebentaran saja."
Pintu terbuka, sepasang suami istri masuk.
Rara sedang mempersiapkan tempat pemeriksaan USG, sedang dokter Amel sedang menanyai pasien.
" Baik, ayo kita liat Dede bayinya dulu perkembangan nya seperti apa." Kata dokter Amel mempersilakan pasien Nyonya Niken ke atas tempat tidur.
Rara bergegas membuka baju hamil Nyonya Niken dan memberi gel di oleskan ke perut.
" Bayinya bagus, berat badannya juga sesuai,air ketuban nya juga jernih, sepertinya jenis kelaminnya cewek. Lihat itu anaknya lincah di dalam perut."
Rara berdiri di samping jauh ke belakang dokter Amel. Setelah dokter Amel selesai memeriksa, Rara mendekat membersihkan gel di perut Nyonya Niken.
" Rara gimana kabarnya?" Rara mendongak ke arah suami Nyonya Niken. " Deg..!"
" Kak Erlangga..!" Rara ragu berucap, karena mengenali orang di jaman sekarang susah, kebanyakan orang sekarang memakai masker.
" Kakak hutang penelasan sama aku?" Kata Rara, sekarang mereka bertiga berada di ruangan Direktur Utama yaitu ruangan si empunya klinik.
" Maafkan Kakak Rara, sebenarnya melepasmu dan memilih tidak hadir dalam pernikahan itu karena Kakak merasa cinta terpendam antara kamu dan Nussa perlu disatukan, meskipun itu sangat menyakitkan di antara aku dan Niken.
" Sebelumnya aku memang sudah tahu Nussa memang sangat mencintaimu, menyayangimu, tapi aku dengan naifnya meminta Nussa untuk membujukmu supaya mau menerima cintaku.
Bahkan keluarga aku, Papa dan Mama aku suruh untuk meminangmu. Tapi Ra setelah kepergian Nussa ke Aussie, kamu tidak sadar lama Ra, dalam ketidaksadaran mu Nussa lah yang kau sebut - sebut. Itulah yang meyadarkanku bahwa kalian memiliki perasaan yang sama."
Rara mengangguk - angguk kan kepalanya
" Terimakasih Kak Er, telah menyatukan cinta aku dan Kak Nussa, dan aku juga minta maaf kepada Kak Niken, mungkin telah menghancurkan impian Kak Niken menikah dengan Kak Nussa."
***to be continue***