Nussa & Rara Get Married

Nussa & Rara Get Married
Bab 17


Dokter telah selesai memeriksa Nussa dan sudah keluar ruangan.


" Ra, panggilkan perawat Ra, Kakak mau buang air kecil."


" Eh.. Kakak lupa ya? Rara kan juga perawat. Mau pipis pake pispot atau ke kamar mandi?"


" Panggil perawat sayang.. Kakak pingin ke kamar mandi saja." Pinta Nussa.


" Ngapain si Kak, malu - malu Rara kan istri Kakak! Tuh kan Kakak masih lemas, mending pakai pispot aja ya ?"


" Rara sudah terbiasa Kak menghadapi kek gini."


Rara mengambil pispot yang ada di dalam kamar mandi sedetik kemudian Rara menurunkan celana yang dipakai Kakaknya. Deg - deg an juga si tapi Rara pura - pura profesional, padahal ini baru pertama kalinya.


" Maaf Ra, Kakak jadi ngrepotin kamu ya?" Ujar Nussa pelan.


" Rara kan istri Kakak, itu kewajiban istri kepada suami, baik sakit ataupun sehat harus tetap dilayani kan Kak! Apalagi surga istri ada pada suami setelah menikah Kak!"


" Baju Kakak basah, berkeringat Rara ganti semua ya?"


Rara dengan telaten melepas baju Kakaknya tubuh Nussa sudah polos ditempat tidur, Rara membasuh tubuh Nussa perlahan. Hmm... debaran di dadanya sudah tak diperdulikan lagi, tatapan lembut Nussa yang sedang melihat


Rara telaten mengurus nya. Bahkan ketika Rara membersihkan bagian bawah Kakaknya Rara seolah cuek, baru pertama Rara melihatnya, sedangkan Nussa juga bersikap biasa saja, seolah menikmati perawatan dari istrinya.


"Rasanya segar banget Ra, berasa bersih dan segar tubuh Kakak, badan Kakak masih lemas, mungkin efek kehilangan banyak darah."


Sedetik kemudian Rara menyuapi Nussa sampai habis.


" Sekarang minum obat Kak ! Seharian aku di kampus, baterai handphone ku low dan aku matiin, setelah selesai seminar lanjut kerja kelompok di rumah Agnes, disitu baru bisa aku charge Kak. Ternyata pihak rumah sakit berkali - kali telpon, kontak ke istri sama Mama, kebetulan Mama baru nyampai di bandara."


" Berarti tadi ada Mama Ra?"


" Dah malam, Kakak tidur gi..!"


" Ya udah, kamu juga tidur Ra. Kamu kan capek seharian di kampus dan langsung kesini ngerawat Kakak."


" Tapi Rara takut ketiduran si Kak, soalnya kalau ada apa - apa sama Kakak gimana? "


" Tidur Ra, Kakak sudah sedikit enakan, ntar Kakak bangunin Rara pake toa."


" Iya.. Toa masjid kali Kak! Kakak bisa saja.. Pokoknya ntar Kakak bangunin Rara ya, kan Kakak tahu, Rara kalau udah tidur kayak apa."


" Iya.. Rara sayang.." Jawab Nussa cuek.


Nussa memperhatikan Rara dari tempat tidur pasien, kasihan pikirnya, benar - benar kelelahan adiknya yang sekarang statusnya sudah jadi istri. Tubuh Nussa masih lemas, mungkin dengan tidur besok tenaganya akan pulih.


Tepat tengah malam Rara terjaga, segera Rara turun dan menuju tempat tidur pasien. Ditempelkan tangannya ke dahi Kakaknya.


" Syukurlah suhu tubuh Kakak normal" Rara hendak kembali ke tempat tidur tapi tangan Rara ditahan Nussa.


" Eh Kakak ni ternyata gak tidur ya?"


" Gak bisa tidur Ra, temeni Kakak tidur disebelah Kakak, jangan disitu."


" Sempit Kak! Bahaya juga.. Kakak ada infus ntar kena infus Kakak!"


.


" Aku tidur dikursi, sebelahnya Kakak."


" Kalau dikursi mending kamu balik ke tempat tidur mu tadi Ra.. Kakak mau Rara disebelah Kakak! Kalau gak mau juga gak ap Ra, udah Rara tidur lagi."