
Nussa memasuki kamarnya " Lho kok kosong? Barang - barang aku semua kemana?"
Sedetik kemudian Nussa keluar, ditujunya dapur, hendak menanyakan kepada bibik.
" Bik, barang - barang aku mana? Kamar aku jadi kosong?"
" Maaf den Nussa, bibik lupa memberitahu, sama Nyonya dimasukkan ke kamar non Rara, Nyonya marah - marah kemarin, setelah tahu kamar den Nussa dan non Rara terpisah.
Nussa mengangguk - angguk, ngak tahu nasibnya bagaimana kalau Rara marah dan ngak setuju, wajar si Mama marah kan mereka sudah suami istri, jadi gak ada salahnya sudah harus tidur bersama. Sepertinya Rara masih belum move on sama Erlangga.
" Ya udah bik, terimakasih."
" Ra.. Kakak masuk ya?' Nussa mengetok - ngetok pintu.
Ceklek.. Ternyata pintunya tidak dikunci, "Kok sepi ya.." Nussa melihat semua barangnya sudah tertata rapi masuk di kamar Rara , bahkan baju Nussa dijadikan satu lemari dengan Rara. Sepertinya Rara sedang di kamar mandi, ada suara gemericik, Nussa langsung naik ke atas tempat tidur.
Rara selesai mandi rasanya segar dan bersih, tubuhnya hanya dibalut handuk saja tadi lupa membawa baju ganti.
" Habis ngapain Ra? Mandi lagi ya?"
" Iya Kak, gerah.."
" Kamar Kakak sudah kosong, kata bibik Mama yang mindahin disini, mau gak mau ya Kakak kesini Ra."
Rara membuka lemari dan mengambil baju ganti, sedetik kemudian menuju kamar mandi.
Nussa menahan tubuh Rara, dilepaskan handuk yang melilit, Rara diam saja, perlahan baju ditangan Rara sudah terpasang. Hanya menyisakan bra dan ****** ***** nya saja yang gak dipakaikan ke Rara.
Sedetik kemudian mereka sudah di atas tempat tidur.
" Tidur Ra, kayaknya enak suasananya buat tidur."
Rara mengangguk saja, gak tahu mesti bilang apa, seperti Dejavu.
" Kakak ngak bisa tidur deh Ra.. " Nussa menggosok - gosokkan kakinya ke kaki Rara.
" Rara ngantuk Kak, badan Rara capek semua, daripada ngak bisa tidur mending Kakak pijat Rara deh, ntar jadi capek tau - tau tidur."
Nussa tersenyum, sedetik kemudian posisinya sudah duduk siap memijat Rara.
" Enak banget Kak! Kakak belajar jadi tukang pijat dimana? Kok Rara gak tau Kakak pintar memijat? Berasa jadi ngantuk Kak!"
Dalam hitungan menit Rara sudah tertidur, Nussa menghela nafas. Dikecupnya kening adiknya yang merangkap jadi istri.
" I love you Ra.." Bisik Nussa di telinga Rara.
" Eum... Kakak.. I love you too.."
Nussa tersenyum " Kirain dah tidur?"
" Ih Kakak ganggu aku.. Ciuman Kakak yang bikin aku terbangun.
Hanya dalam sekejap bibir mereka menyatu, Rara sudah polos begitu juga Nussa. Nussa melakukannya dengan hati - hati.
" Terimakasih Ra, betapa bahagianya Kakak memperoleh cinta yang seutuhnya dari Rara.
" Euamahh .. Nussa mencium bibir Rara, tangannya usil di bukit Rara. Pagi menjelang shubuh mereka melakukan lagi.
" Ternyata sesakit ini ya Kak buat jalan?" Apa karena kakak terlalu bersemangat?"
" Ya semangat lah Ra, biar kamu cepat hamil! Jangan kalah dengan Niken yang sedang hamil.
" Maksud Kakak? Kak Niken gitu?"
" Iya Rara sayang, Kak Niken dan Erlangga sudah menikah dan sekarang sudah ada baby nya jalan 3 bulan. Kakak pingin dapat anak kembar deh Ra, kan ada keturunan kembar kan dari almarhum Papa?"
Rara mengangguk, dipeluknya suaminya, tubuh mereka sama - sama polos, dan masih enggan beranjak dari tempat tidur.