
" Kenapa kak Nussa harus keluar negeri
sekarang si..?? Bentar lagi pernikahan aku kak!
Tinggal 1 bulan lagi, sedangkan urusan kakak
di Aussie ada setengah tahun. Brati kakak harus pulang di hari pernikahanku !"
Protes Rara kepada sang kakak yang saat ini berada di bandara Soekarno-Hatta, dan akan bertolak ke Aussie sebentar lagi.
" Kakak janji Ra, akan pulang di hari pernikahanmu."
Nussa mengusap rambut adiknya dengan sayang, memberinya pelukan hangat dan menenangkan. Karena suatu alasan Nussa harus menerima tawaran Mama untuk mengurus bisnis Mama di Aussie.
" Iya Ra, Kakak janji untuk pulang di hari pernikahanmu." Ucap Nussa sedih, seperti menyimpan suatu luka dalam di hatinya. Dan seandainya Rara tahu bahwa kepergiannya ke Aussie adalah cara terbaik untuk mengobati rasa cintanya yang terpendam kepada adiknya sebagai seorang lelaki terhadap seorang perempuan, bukan perasaan cinta seorang kakak kepada adiknya.
Karena memang Nussa dan Rara bukanlah saudara kandung, Nussa hanyalah seorang anak angkat yang diambil dari panti asuhan, dimana Mama Dina Mamanya Rara sebagai donatur tetap di panti asuhan tempat Nussa dulu.
Erlangga adalah calon suami Rara, Orang tua Erlangga juga sebagai donatur tetap di yayasan panti asuhan Nussa, dulu sebelum mengenal Rara, Nussa telah akrab lebih dulu dengan Erlangga, kebetulan orang tua Erlangga dan Mama Dina adalah sahabat karib, jadi mereka kadang ke panti asuhan bersama, lewat Erlangga Nussa dikenalkan ke Rara.
Waktu bertemu pertama kali, umur Rara empat tahun dan Nussa sudah sembilan tahun, itu berarti Nussa dan Rara beda lima tahun. Entah kenapa Nussa dan Rara menjadi sangat akrab, Nussa yang begitu sayang kelihatan sekali menjaga Rara mengajaknya bermain ketika Rara diajak ke panti.
Pernah Rara kecil rewel minta pulang, padahal waktu itu akan diadakan rapat bagi pengurus panti dan tamu kehormatan para donatur tetap, tapi berkat bujukan Nussa, Rara kecil menjadi diam dan berhenti menangis, Mama Dina pun jadi terkesan dengan sikap dan sopan santun Nussa, pada akhirnya Nussa diangkat menjadi anak.
Mama Dina sendiri adalah seorang wanita tangguh, dia seorang wanita yang telah ditinggal suaminya karena suatu penyakit dan akhirnya meninggal, sampai sekarang di umur Mama Dina yang sudah menjelang tua lima puluh tahun, Ma Dina masih sendiri tak ada keniatan untuk menikah lagi. Mama Dina juga hidup dari meneruskan bisnis suaminya yang maju pesat, kantor cabangnya bukan hanya di dalam negeri tapi diluar negeri pun ada.
" Kakak aku nanti kesepian di rumah Kak! Mama selalu sibuk, rumah sepi." Rara masih tetap menempel di pelukan Nussa.
" Bentar lagi kamu menikah Ra, kamu ngak akan lagi kesepian, ada Erlangga menemanimu, dan dengan menikah kelak rumahmu akan ramai dengan hadirnya anak - anak Ra." Ucap Nussa menenangkan.
Tiba - tiba Rara melepaskan pelukannya, dari kejauhan dilihatnya Niken kekasih Nussa sedang celingak - celinguk mencari.
" Sepertinya itu Kak Niken Kak!" ucapnya sedih kepada Nussa, sambil tangannya menunjuk ke arah kejauhan. Nussa mengambil ponselnya dan menspeaker suaranya, karena di bandara suaranya berisik.
" Sayang aku sudah di bandara ni, kamu dimana?" Suara kak Niken diseberang telepon.
******
Sesuka hati aku menulis hanya sekedar hoby saja, dikala iseng gak ada kerjaan.
Dan aku hanya sanggup menulis sampai di episode 20 an.
Terimakasih sudah mampir membaca, kasih like, meramaikan laman cerita aku.
Kalau ada yang butuh feedback, ok.. aku juga siap feedback balik
Mampir ya di karya aku sebelum ini