
Rara terbangun di mimpi nya Kak Erlangga bunuh diri di jurang yang sangat dalam, bahkan jenazahnya tidak bisa dievakuasi karena tidak ada alat - alat yang menjangkaunya.
" Kamu sudah bangun Ra? Ngimpi apa Ra, sampai nangis kayak gitu manggil - manggil Erlangga?"
Rara memeluk Nussa erat " Aku ngimpi Kak Erlangga bunuh diri Kak!"
" Maafin Kakak Ra, Kakak belum bisa menemukan dimana Erlangga bersembunyi, kontak handphonenya non aktif, tapi Mama Papa Erlangga kemarin kesini Ra, meminta maaf, dan itu ketika kamu berangkat kuliah. Itupun mereka tak tahu dimana Erlangga berada.
Nussa membelai rambut Rara, memberikan ketenangan. Kasihan Rara, mengapa cintanya harus kandas, tanpa alasan jelas. Nussa bersedih, justru setelah Rara menjadi miliknya,menjadi istrinya, perasaaan bersalah menyelimuti perasaannya, kasihan Rara pikir Nussa, pernikahan dengan Erlangga yang diimpikan lenyap sudah.
" Sebenarnya Rara pingin bertemu Kak Erlangga, Rara mau minta penjelasan, mengapa dia berbuat seperti itu Kak, padahal Kak Erlangga lah yang menggebu - gebu menikah cepat, tapi ujung - ujungnya dia seperti ini Kak!"
" Masih malam Ra, mau tidur lagi? "
" Iya Kak.." Rara mengangguk pelan.
Sejurus kemudian Nussa keluar dari kamar Rara. "Padahal Rara pingin tidur bersama Kak Nussa, kan Rara sudah sah jadi istri Kakak " Batin Rara sedih.
Nussa keluar kamar "Seandainya tadi Rara memintanya untuk menemani tidur pasti aku penuhi, biasa nya Rara bersikap manja, sekarang Rara seperti menjaga jarak saja" Nussa membatin.
***
Siang ini Rara sengaja memasak masakan kesukaan Kak Nussa, dibantu bibik. Tepat pukul sebelas siang Rara sampai di kantor.
" Selamat siang nona Rara." Begitu sambutan karyawan di kantor Mama.
" Ada non, sedang bersama sekretarisnya, sepertinya sekretaris nya sedang memberi laporan."
" Ok terimakasih, saya langsung kesana saja deh.."
" Assalamu'alaikum, tok tok tok.. " Rara memberi salam sambil mengetuk pintu.
" Seorang wanita berparas cantik yang membuka kan pjntu." Seperti nya Rara baru melihat sosoknya, apakah dia karyawan baru, kok Rara gak tahu ya.
" Maaf saya mau bertemu dengan Kak Nussa." Kata Rara cepat, sebelum wanita itu bertanya.
" Maaf nona siapa ya? Apakah sudah membuat janji, kok bagian informasi gak ada telpon kalau mau ada tamu."
" Maaf tadi saya yang minta sendiri untuk tidak langsung memberitahu Kakak, saya pingin buat kejutan."
"Maaf sebelum nona siapa ya? Pak Nussa sedang sibuk tidak mau diganggu, nona harus membuat janji dulu, atau paling tidak ke bagian informasi."
Rara menghela nafas panjang, hmhm.. " Mau ketemu Kakak plus suaminya sendiri saja kok susah ya"
" Ya sudah sampaikan ini kepada Kakak, pasti Kakak tahu." Rara menyerahkan kotak makanan kepada wanita cantik dihadapannya. Perasaanya jadi kebat - kebit tak karuan. Moodnya jadi hilang. Kotak makanan itu Kakak sudah hafal, paling Kak Nussa akan tahu itu dari Rara yang sekarang sudah resmi jadi istrinya.
Rara keluar dari gedung, berharap Kak Nussa akan berlari mengejarnya atau semacamnya lah. Tapi ditunggu - tunggu gak ada tanda - tanda Kak Nussa akan keluar. Bahkan bunyi handphonenya yang dinanti tak kunjung berdering.
Dan ketika sampai malam pun Kak Nussa tidak ada tanda - tanda akan pulang, Rara gelisah, di ruang keluarga Rara tak tenang melihat acara televisi, kenapa Kak Nussa tak memberinya kabar ya? Bahkan ucapan terimakasih atas kiriman makanan pun tak ada.