
" Ra.. Kamu lagi ngapain, sibuk apa? Mama telpon berkali - kali handphonemu gak aktif seharian !"
" Maaf Ma, habis baterai Ma, posisi ada di kampus lagi seminar, lanjut bikin tugas kelompok. Emang ada apa si Ma? Mama kapan pulangnya?"
" Mama sudah pulang, kamu temenin Mama di rumah sakit, Mama tunggu sekarang juga!"
" Tapi Ma...? Rara pulang rumah dulu boleh? Mandi dan ganti baju Ma, seharian di kampus sudah gerah ni.."
" Gak usah ! Langsung kesini saja dulu." Tegas Mama, kalau sudah seperti itu Rara gak bisa berkutik.
" Mama.. Rara kangen !" Dipeluknya Mamanya erat.
" Siapa yang sakit Ma?" Kata Rara ketika mereka menuju lorong - lorong rumah sakit.
" Kita ke kantin dulu Ra, Mama lapar."
" Yaelah Mama ni.. "
"Seharian gak dirumah, apa kamu sudah ijin suamimu?"
" Sudahlah Ma, Kak Nussa sendiri yang antar Rara ke kampus, Rara juga bilang pulang malam, tadi baterai handphone habis Ma, baru di charge ketika di rumah Agnes."
" Jadi selama menikah kamu dan Kakakmu tidur masih seperti dulu ya, gak tidur satu kamar?"
" Iya Ma.. Rara kasihan sama Kak Nussa yang terpaksa nikahin Rara demi menggantikan posisi Kak Erlangga Ma." Lirih Rara.
" Kalian ni.. Sebenarnya bodoh atau bodoh hah?"
" Maksudnya apa si Ma? Rara dah capek di kampus, dah gerah pingin mandi ganti baju, eh suruh rumah sakit, gak jelas deh mau tenggok sapa, ujung ujungnya malah ke kantin."
" Perlu kamu ketahui Rara..! Erlangga tidak hadir karena mengetahui bahwa Kakakmu diam - diam jatuh cinta sama kamu, dan dia juga tahu bahwa kamu sendiri cinta sama Kakak mu ! Iya kan Mama benar? Dihari yang sama kalian sakit, setelah perpisahaan Nussa ke Aussie.
" Rawatlah suamimu, dia berbaring belum sadar, mobilnya pecah ban, Kakakmu banting stir menabrak pohon. Mama baru sampai di bandara ada telpon dari rumah sakit, Mama langsung kesini."
" Dimana ruangannya Ma ? Rara pingin lihat Kak Nussa kata Rara menjadi panik."
" Mama pulang dulu, Mama juga butuh mandi membersihkan diri. Kamu mandilah disini semua keperluanmu dan Kakakmu sudah dibawakan bibik semua."
Rara menatap Nussa dengan intens, suami. sekaligus Kakak tercinta, ternyata perasaan nya sama.
" Kak Nussa bangun Kak!" Rara menyetuh wajah, tangan Kakak nya, memancing biar Kakaknya mau bangun."
Lama Rara mencoba membangunkan Kakak nya tapi nihil, Rara akhirnya berinisiatif untuk mandi, semua keperluan sudah tertata rapi di lemari rumah sakit.
Rara selesai shalat dan menghampiri tempat tidur Kakaknya, Rara membelai tangan Nussa, lama - lama Rara tertidur.
Rara terbangun ketika ada sentuhan lembut di pipinya.
" Kakak sudah sadar? Aku panggilkan dokter ya Kak!"
Tangan Nussa menahan Rara yang hendak beranjak pergi
" Mana yang sakit Kak? Biar dokter priksa?"
" Kakak baik - baik saja sayang.. Tak usah panggil dokter. Tidurlah di tempat tidurmu nanti badanmu sakit semua."
Bukan Rara namanya kalau tidak kekeh memanggil dokter datang, tangan Rara menekan tombol yang terhubung dengan perawat jaga di luar ruangan.
" Syukurlah Pak Nussa sudah siuman, keseluruhan gak ada apa - apa. Tapi mungkin Pak Nussa masih lemas, untuk ke kamar mandi kalo tidak kuat Pak Nussa bisa memakai pispot dulu, mandi di wash lap aja di tempat tidur, nanti ada perawat yang akan membantu Pak Nussa."