
Niken tersenyum " Sebetulnya hampir sama si aku dengan suamiku Ra, aku juga tahu perasaan kalian berdua saling cinta dan sayang, tapi Nussa tak berani mengungkap perasaaannya terhadap mu Ra, yang perlu kamu ketahui Nussa tidak pernah menyatakan cintanya sama aku, tapi Nussa membiarkan aku memperlakukan seperti layaknya seorang kekasih."
" Satu hal lagi Ra, camkan ! Kau sudah bahagia sekarang bersama Nussa, jangan kamu bertingkah kepada suamiku, sehingga suamiku Erlangga akan jatuh cinta lagi kepada mu Ra! Karena aku masih yakin suamiku masih sangat mencintai mu!"
Rara tersenyum, ternyata Kak Niken benar - benar agak kekanakan - kanakan. Tangannya manja nempel di tangan Erlangga, persis seperti dulu dengan Kak Nussa, Rara sama sekali gak cemburu, justru Rara bahagia, setidaknya rasa bersalahnya kepada Erlangga sedikit berkurang.
" Jangan khawatir Kak Niken, Rara sudah bahagia dengan cinta Kak Nussa, dan buat Kak Erlangga, Rara pesan lupakan Rara, belajarlah mencjntai Kak Niken, apalagi ada seorang bayi cantik di dalam perut Kak Niken."
" Salam buat Nussa ya Ra.." Kata Erlangga, ketika Kak Niken sudah merengek minta pulang. Kalau gak pake masker mungkin mereka akan tahu kalau diam - diam Rara tersenyum simpul melihat tingkah Niken.
Tiba - tiba Rara merasakan perutnya mual sekali. " Huff.. kenapa perutku ? Perasaan sudah sarapan kok mual begini ya? Toilet aku harus ke toilet " Seru Rara berbicara sendiri.
Semua isi perut Rara dikeluarkan semua, sampai merasakan lidah berasa pahit. Rara membasuh muka, dan keluar dari toilet di ruangan Rara.
" Kenapa Ra?" Ternyata dokter Amel sudah duduk di sofa.
" Aku ketok - ketok pintu, gak ada jawaban. Tapi aku lihat masih ada sepatumu di depan pintu. Maaf jadi nylonong masuk Ra."
" Gak tahu dokter, ni perut gak enak banget rasanya, mual sekali. Setelah muntah semua lega rasanya."
" Kapan terakhir datang bulan? Kayaknya terakhir kamu datang bulan bareng saya kan? Sekarang saya sudah haid satu Minggu Ra."
Iya ya dok, aku belum ya?" Kata Rara bingung.
" Ayo ke ruang obgyn." Dokter Amel mengandeng Rara dengan segera.
" Eh dokter Amel !" Rara jadi kaget, kok cepat banget menyimpulkan kalau Rara hamil.
" Kan benar tebakanku Ra, sudah ada kantung kehamilannya." Dokter Amel kegirangan senang bukan main, berasa seperti Mama.
***
Tepat pukul empat sore Rara sudah sampai rumah, mandi dan melaksanakan ibadah shalat ashar. Setelahnya Rara makan, berasa lapar karena habis terkuras semua isi perutnya. Rara juga meminum vitamin untuk ibu hamil, tadi dokter Amel yang memberikannya
" Ra..! Tidurmu pules sekali Ra, perasaan sekarang kalau tidur nambah pulesnya pake banget."
" Kakak..! Aku ketiduran yah.. Padahal niatnya nunggu Kakak pulang,eh malah tidur pulas."
" Shalat magrib berjamaah yuk..!"
Rara mengangguk dan segera turun dari tempat tidur. Tapi tiba - tiba perut Rara mual sekali seperti tadi siang.
" Huek... " Berakhirlah di toilet kalau sudah seperti itu.
" Ra, kamu sakit? Nussa berlari menuju kamar mandi, dengan telaten memijat leher belakang, memberinya minyak kayu putih.
" Udah Kak,sudah enakan ayo kita shalat dulu, waktunya hampir habis."
" Kalau sakit tidur lagi saja Ra.. Kakak suapin ya? Atau mau dikerokin dulu biar anginnya keluar?"
" Gak usah Kak, bentar lagi makannya nunggu enakan dulu, tadi udah makan si Kak, tapi ini terbuang lagi, kalau gak dikasih makan kasihan bayi di perut ntar kelaparan Kak!"
" Bayi? Maksudnya kamu hamil sayang?"
Rara memberikan hasil print USG tadi siang.
Nussa mengecup kening Rara, memberikan pelukan bahkan perut Rara dielus pelan.
" Alhamdulillah sebentar lagi kita akan jadi orang tua Ra, kita jadi Mama Papa. Sehat - sehat ya nak di perut Mama."
**tamat
dwpu**