
Tepat pukul sebelas malam Rara terbangun, Nussa membelai pipi Rara, sentuhan itulah yang membuat Rara terbangun.
" Kakak..!" Pekik Rara pelan.
" Maaf, Kakak jadi bangunin kamu tidur. Terimakasih ya, kiriman masakannya. Enak Ra.."
" Kakak sibuk, ada trouble, setelah Marina menyelesaikan laporan, dia bilang ada seseorang menitipkan kotak makanan."
" Kakak berlari turun ke bawah ternyata Rara sudah pulang. Kakak minta maaf.. Baru akan Kakak telpon Rara, ternyata keduluan telpon dari Niken, akhirnya Kakak jadi lupa Ra."
" Gak papa Kak.. Kakak sudah makan? Apakah Kakak baru pulang dari kantor? Baju Kakak masih baju kantor?"
" Iya Ra, tadi Kakak sudah makan, ada masalah sedikit di kantor, tadi lembur dengan Marina dan ada beberapa karyawan di bagian administrasi.
" Tidur lagi ya.." Nussa mencium kening Rara lembut.
" Bluss " Wajah Rara memerah, mungkin kalau ini siang hari Rara bakal ketahuan kalau sedang tersipu malu, sayang ini malam hari, dan Rara tidur dengan lampu yang redup.
Rara terngiang-ngiang cerita Kakaknya Nussa barusan, kalau Kak Niken tadi siang menelpon, kira - kira mereka membicarakan apa ya. Apakah Kak Niken sudah tahu kalau Kak Nussa sudah menikahinya, hmhm Rara sebel sebenarnya dengan Kak Niken, dulu Kak Niken bertingkah manja dengan Kakaknya, dia juga memonopoli Kakaknya Nussa.
Dan sekarang ada saingan baru selain Kak Niken di kantor yaitu perempuan cantik bernama Marina. Huff Rara menghela nafas dan membuangnya. " Aku harus sabar, harus ikhlas apapun yang terjadi sejatinya Allah lah pemegang nasib.
***
Pagi hari yang cerah Rara sedang sibuk di dapur, menunya nasi goreng.
" Masak apa Ra? " Nussa mengagetkan di belakang tubuh Rara, seperti berbisik di dekat telinga Rara.
Hati Rara jadi berdesir tak karuan. Posisi seperti itu seperti posisi akan memeluk dari belakang.
" Nasi goreng aja Kak! Gak pa kan Kak?"
" He eh si Kak!" Rara nyengir malu ketika dari belakang tubuh Rara Nussa membolak balik nasi goreng. Adegan pagi yang mesra untuk sepasang suami istri. Bibik jadi malu, urung niatnya membantu di dapur.
" Berangkat jam berapa ke klinik bersalin Ra?"
" Jam sembilan Kak." Jawab Rara canggung.
" Kakak antar ya, sekalian Kakak berangkat kantor."
Rara mengangguk kan kepalanya, mereka menikmati nasi goreng di meja makan berdua.
Setelah makan Rara masuk kamar berganti baju, menyemprotkan parfum. Mulai hari ini Rara praktik di klinik bersalin ibu dan anak, dan kebetulan itu adalah klinik milik keluarga Mama yang dibangun dari Kakek Nenek Rara dahulu kala.
" Udah siap Ra? " Nussa tiba - tiba sudah dibelakang Rara.
" Haizz .. Kakak ni ngagetin aku ya!"
" Gimana Ra,praktek di klinik bersalin?" Tanya Nussa ketika mobil sudah melaju.
" Enjoy aja si Kak, Rara di bagian pemeriksaan kehamilan, bantu dokter periksa bumil Kak, ngasih cairan di perut buat USG Kak."
" Kalau bantu orang melahirkan udah pernah belum Ra?"
" Udah pernah juga Kak. Sebulan yang lalu aku praktek di rumah sakit Kak, di rumah sakit malah lebih komplit kasusnya. tapi aku suka aja si Kak!"
Tiba - tiba handphone Nussa berdering
" Ambil handphone Kakak di saku Ra! Kamu jawab."
Tangan Rara menjangkau saku baju Nussa mengeluarkan benda pipih dari dalam kantong atas.