
Rara memasuki kamar di rumah Tante Dita, sudah malam, semua orang sudah akan beristirahat untuk persiapan acara pernikahan besok.
" Kak Nussa sudah tidur belum ya" Batinnya Rara menjadi gelisah, ini kali pertama mereka akan tidur dalam satu kamar dan satu tempat tidur.
Lampu kamar sudah mode redup, Kak Nussa sepertinya sudah tidur, syukurlah Rara menghela nafas lega.
Setelah membersihkan diri, menggosok gigi, mencuci muka. Pelan Rara naik di tempat tidur, takut mengganggu Kakaknya yang sudah terlelap.
Tiba - tiba tangan Kak Nussa melingkar diperut Rara, Kak Nussa memeluk erat tubuh Rara yanga posisinya membelakangi Nussa.
" Tidur Ra.. Kakak kelonin ya.. Kamu ingat kan, Rara kecil suka tidur ditemani Kakak, kadang - kadang Rara tiba - tiba lari ke kamar Kakak karena takut, sekarang kok gak kayak dulu ya, Mau masuk kamar aja mengendap - endap Ra."
" Hii... ke ge Er an Kakak! Aku tuh mengendap - endap takut Kakak bangun, jadi ya kek gitu deh.." jawab Rara membela diri.
Rasanya jantung Rara bergemuruh hebat, setelah menikah perasaan Rara seperti naik turun kalau didekat Kakaknya Nussa.
***
Jam empat pagi Rara terbangun,alarm tubuhnya adalah jam segitu, dilihatnya Kak Nussa masih terpejam tangannya masih saja nempel di tubuh Rara, kayak takut ditinggal saja.
" Jam berapa Ra? Kayaknya masih malam, kok sudah bangun sayang..
Nussa mempererat pelukannya, membelai rambut Rara lembut. Detik kemudian mereka sudah hampir berciuman. Tapi ups..
" Ra.. Ra.. " Seperti suara si Rere memanggil - manggil.
Rara lekas turun
" Maaf Ra jadi mbangunin kamu ni.."
" Kamu mau kan jadi penerima tamu dengan Kak Nussa Ra? Kebetulan ada satu berhalangan hadir karena suaminya sakit Ra. Tukang riasnya juga udah datang."
" Ok siap, ak mandi dulu ya Re."
" Ada apa Ra?" Tanya Nussa, yang ternyata empunya sudah duduk di tempat tidur.
" Kita diminta tolong jadi penerima tamu Kak, acaranya dimulai jam delapan pagi, jadi jam segini harus bersiap - siap, semalam Tante Dita sudah menjelaskan, katanya tukang riasnya juga udah datang. Aku mo mandi dulu Kak! Kakak juga siap - siap lho."
" Iya Rara sayang.." jawab Nussa cuek.
" Masih gelap udah bikin rayuan pulau kelapa ya si Kakak!"
***
Tepat pukul delapan acara ijab kabul dimulai, Rara jadi teringat peristiwa pernikahan nya, sedih juga, waktu itu semua panik, karena Erlangga yang dinanti tidak datang.
Rara menitikkan air mata sedih, bagaimana kabar Erlangga saja Rara gak tahu. Dia berhutang penjelasan kepada Rara.
" Kamu nangis ya Ra? Kamu ingat pernikahan kemarin kan ya? Maaf.. tak terpikirkan oleh Kakak kalau kau akan bersedih seperti ini."
" Aku gak nangis Kak! Mata aku gak enak banget kalau dirias kek gini, kayak ada yang ngeganjel deh, jadi pingen diucek - ucek tapi takut rusak."
" Ya udah, sini Kakak lihat, Kakak betulin ya."
" Ih Kakak! Apaan si Kak! Lebay deh..? Tamu - tamu udah mulai berdatangan Kak, acara resepsi segera dimulai lho!"
Nussa menarik nafas sedetik kemudian membuangnya " Kasihan Rara, berarti perasaan cintanya kepada Erlangga masih tersimpan rapi dihatinya, meskipun kini Nussa telah menjadi suaminya. Janji nya kepada Mama Dina yang tak akan menceraikan Rara tergiang - ngiang. Nussa rela melepas Rara jika Rara sendiri yang meminta, meskipun itu sangat berat bagi Nussa.