My Prince My Husband

My Prince My Husband
Kesepakatan


Malam ini Hanida sibuk berhias diri, entahlah dia juga heran dengan kelakuannya. Bukankah ini hanya makan malam biasa, bukan kencan, ngapain dia repot-repot pilih baju dari tadi tidak selesai selesai.


"huft....ngapain sih aku harus panik gini? Santai Hanida, pakai baju sesukamu, ga usah berlebihan. Jangan jatuh untuk kedua kalinya. Ingat itu ini semua demi Ayah dan Ibu. So, santai saja...hahaha" Hanida mengoceh dan tertawa terhadap dirinya sendiri.


Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, dia masih trauma dan takut dengan kisah masa lalunya. Dia masih takut untuk jatuh cinta dan akhirnya sakit untuk kedua kalinya.


"Oke fiks, aku harus tegas dengan Si Satrio jika menikah untuk selamanya aku terima. Tapi kalau hanya sementara, sorry fiks aku akan menolaknya malam ini," Hanida membusungkan dadanya dan menepuk dadanya sendiri. Dia menguatkan hatinya yang sudah terlalu lemah dan lelah


"Sudah cantik , saatnya menunggu sang pangeran datang," Hanida memakai dress lengan panjang dan menutupi mata kakinya, berwarna coklat dan memaki sedikit polesan make up tipis tipis tanpa memakai perhiasan apa pun di lehernya. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai secara natural. Ya bisa dibilang sangat sederhana tidak ada yang spesial, tetapi wajah natural Hanida tetap memancarkan kecantikan gadis itu. Cantik alami, tanpa dibuat buat apalagi kalau dia tersenyum membuatnya semakin manis.


"Manis,tapi kenapa Kevin meninggalkanku..huft. Kevin lagi kevin lagi...hah..." Hanida memandangi wajahnya di cermin entahlah tiba tiba teringat dengan mantannya.


Tiba tiba pintu kos diketuk Ibu Marinten,


"Hanida, ada tamu cowok tampan, katanya mau jemput Hanida." Bu Kos memanggil Hanida dari luar kamar Hanida


Hanida membuka pintu kamarnya perlahan.


"masak ganteng sih Bu, menurutku dingin bangets ga pernah ada senyum senyumnya," Hanida mementahkan opini ibu kos


"Eh, masak sih nduk wong tadi masnya tersenyum ramah bangetsss sama Ibu. Kayak pangeran turun dari kayangan" Bu Kos memuji berapi api.


"Ah Ibu bisa aja, nggih mpun Bu, Hanida berangkat dulu nggih. Nanti hanida mungkin pulangnya aga larut. Jangan dikunci dulu nggih Bu pagarnya, ga enak kalau harus bangunin Ibu,"


" ga pa pa nduk, nanti Ibu tunggu sampai kamu pulang"


"terimakasih Bu, hanida berangkat dulu"


Hanida berlalu sambil mencium tangan Bu Kos.


Hanida menghampiri Satrio yang sudah duduk manis di kursi ruang tamu, benar kata Bu Kos, malam ini satrio tampil sangat elegan. Kemeja hitam, celana jeans dengan paduan jam tangan yang bermerk, rambut tertata rapi benar benar menunjukkan kelas yang berbeda dari Hanida.


Hanida menarik napas panjang...


"Kamu kenapa? Gugup?" satrio mengawali pembicaraan kali ini.


"Engga,...hanya belum terbiasa saja," jujur detak jantung hanida sudah tidak karuan iramanya. Makin cepat dan makin cepat.


"Ayo langsung saja kita berangkat, keburu larut" satrio melangkah keluar, hanida mengikuti Satrio seperti itik mengikuti induknya.


Satrio membukakan pintu mobil untuk Hanida, Hanida yang belum terbiasa menjadi serba kikuk.


Selama perjalanan dua orang itu hanya terdiam,tak ada satu kata pun yang terucap.


Hingga sampailah mereka pada restoran bernuansa Jawa klasik, tapi masih terlihat modern.


"Kita sudah sampai,ayo turun, atau mau aku bukakan pintunya lagi?"


Hanida kaget dan gugup


"Oh tidak usah, saya bisa sendiri" Hanida segera keluar dari mobil satrio


Mereka berdua menuju meja yang sebelumnya telah dipesan satrio Sambil menunggu makanan yang dipesan, satrio memulai pembicaraan.


" Hanida, ada beberapa hal yang akan aku sampaikan sebelum pernikahan kita benar benar dilaksanakan" Satrio langsung mengawalinya tanpa basa basi lagi.


Hanida merasa ini bukan malam romantis, lebih tepatnya makan malam sakartis. Melihat sikap orang di depannya membuat hanida ingin segera meninggalkan tempat ini.


"Baiklah aku juga ada yang mau aku sampaikan," Hanida juga tidak mau kalah,kalau dia tegas aku juga akan makin tegas, hanida membatin tingkah pria itu.


"Kalau begitu silahkan kamu sampaikan apa permintaan kamu. Selama itu bukan nyawaku, aku pasti bisa mengikutinya,"


" Oke, pertama aku akan menerima lamaran itu jika kita berniat menikah untuk selamanya,bukan sementara,bukan untuk bercerai. Tetapi kalau kamu memang punya kekasih dan berniat berapa tahun lagi kita bercerai aku menolak lamaran itu," Hanida mengucapkan sambil menahan kegugupannya, sungguh ini konyol mana mungkin pangeran berpikir menikah untuk cerai,tapi itulah kenyataan dari imajinasi Hanida.


"Hanya itu yang kau mau? Itu mudah bagiku, tidak mungkin aku menceraikanmu, masa depan kesulthanan bisa hancur. Tapi kalau aku menikahi selir tentu kau tidak keberatan kan?" Satrio mencoba menggoda Hanida.


"Apa?" Hanida kaget


"Kenapa? Bukankah biasa Sulthan memiliki permaisuri dan juga selir," Satrio makin terkekeh


"Tapi,,,, apa kamu sekarang punya pacar atau sedang mencintai wanita lain? " Hanida malah penasaran dengan kisah cinta pangeran.


"Hei, aku bukan laki laki yang mudah patah hati. Kalau aku punya pacar kamu sudah aku tolak dari kemaren sebelum kamu dipanggil ke Kesultanan"


"Ah, aku ga percaya pasti kamu lagi patah hati karena tak.disetujui orang tua, oh malangnya nasibmu pangeran..hiks....."Hanida sambil berakting menangis seolah mengejek pangeran


"Ah, bukan itu yang mau aku bahas disini. Aku tidak punya pacar, tetapi aku punya mimpi dan cita cita"


"Maksudnya??" Hanida malah bingung


"Tolong, buatlah permintaan kepada kedua orang tuaku. Mintalah untuk beberapa tahun, kalau bisa 5 tahun kita tinggal dulu di luar kesulthanan. Aku ingin membesarkan perusahaan dan melakukan sesuatu tanpa terikat dengan aturan kesulthanan. Kamu tetap bisa belajar di kesulthanan setiap hari, tapi mintalah untuk dalam jangka waktu itu kita tinggal di apartemenku," Pangeran memelas kepada hanida


Hanida sedikit kaget dengan permintaan pangeran, dia makin penasaran seberapa berat tinggal di kesulthanan. Tapi tak masalah ini justru menguntungkan Hanida, dia masih bisa bebas ketemu siapa pun atau pergi kemana pun tanpa dikawal.


"Oke, aku akan membuat permintaan itu. Aku juga suka dengan itu. Tapi btw bener ya kamu ga punya pacar? Jangan jangan kamu pengen tinggal di.luar karena pacar kamu? " Hanida menaikkan satu alisnya


"Kamu ga percaya sama aku?" Pangeran makin salah tingkah.


"Eh, percaya. Toh ga da hubungannya juga sama aku."


"Hem, maaf pangeran dari tadi saya keceplosan ngomong aku kamu. Mohon maaf dengan segala hormat," Hanida baru menyadari kalau omongannya tidak sopan. Dari tadi dia membayangkan ngomong dengan Pria Bus bukan Pangeran. Hadew...


" tidak masalah, toh kalau sudah bersama kita juga akan biasa dalam berbicara,"


Hanida tersenyum manis pada pangeran.


Deg..tiba tiba pangeran merasakan dadanya berdetak lebih cepat melihat senyum manis hanida.


Pangeran segera mengalihkan pandangannya pada makanan yang diantar pramusaji


"ayo hanida kita makan, aku sudah lapar"


Hanida lagi lagi hanya mengangguk dan tersenyum.


Pangeran semakin gila dibuatnya


"Ish, kenapa dia tersenyum terus, sok manis", batin pangeran.


"ada apa Pangeran, ada yang salah? sepertinya pangeran mengatakan sesuatu?"


"Tidak ada, ayo habiskan makanannya, setelah ini aku antar kamu pulang"


"apa pulang? ga ada jalan jalan gitu,tahu gitu ngapain capek capek dandan..hadew..." Hanida membatin di hatinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


#akhirnya bisa up juga 2 hari ini


#Terimakasih atas like dan comentnya


#tunggu kelanjutan kisah Hanida dan Satrio


#Doain autor sehat selalu ya guys


#Happy Reading😊😊😊😊😊