My Prince My Husband

My Prince My Husband
Temu Manten


Sudah dua hari kedua pengantin baru berada di bandung, hari ini mereka dijemput oleh pak Narto membawa mobil travel kesulthanan karena akan memboyong keluarga besar bandung. Kedua pengantin, kedua orang tua pengantin dan beberapa kerabat dekat yang rumahnya dekat dengan rumah Bandung.


Semuanya sudah berkumpul hari ini di rumah Hanida, mereka juga menyiapkan beberapa barang yang akan dijadikan sebagai pengantar mempelai wanita yang diantarkan ke rumah mempelai laki-laki. Temu manten akan dilaksanakan 2 hari setelah pengantin sampai di Kesulthanan.


Pak Narto sudah sampai sejak kemaren,karena kalau langsung PP Bandung-Jogjakarta Pak Narto tidak sanggup. Hari ini semua barang yang akan dibawa ke acara Temu Manten di Jogajakarta dimasukkan ke dalam Mobil, Semua sudah siap dengan membawa tas bawaan masing-masing,karena semuanya pasti membawa baju ganti untuk beberapa hari di Jogjakarta, karena rencananya juga setelah temu manten mereka akan jalan jalan dulu berwisata di daerah Jogjakarta. Rombongan sudah siap berangkat


"Bismillahirahmanirrahim....", Pak Rahmat memulai dengan Doa sebelum keberangkatan iring-iringan pengantin.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Iring iringan pengantin telah sampai,mereka semua diantar ke Hotel dekat dengan Kesulthanan, kecuali kedua pengantin yang memang harus tinggal di Kesulthanan untuk melaksanakan acara siraman malam sebelum Temu Manten, sebenarnya siraman ini lebih cocok sebelum akad nikah, tetapi karena keluarga Hanida orang sunda makanya tidak masalah jika siraman dilaksanakan setelah akad nikah.


Malam ini Hanida pertama kali tidur di kamar Satrio di Kesulthanan. Nuansa jawa yang sangat kental juga menghiasi kamar Satrio, ranjang yang terbuat dari kayu jati tua dengan ukiran ukiran di bagian kepala ranjang, hiasan kelambu putih menutupi bagian atas dan samping ranjang dengan beberapa tiang penyangga di masing-masing sudut ranjang. Bunga sedap malam dan melati sengaja ditaruh di kamar pengantin ini, agar nuansa pengantin baru masih terasa. Beberapa almari dari kayu jati, sebagai tempat baju sudah disiapkan. Jendela besar juga terlihat di samping kamar dengan meja dan kursi yang berada di bawah jendela, sangat cocok kalau dibuat bersantai minum teh hangat pada pagi hari. Hanida lama memandangi setiap sudut kamar, hingga Satrio mengagetkan Hanida, menutup mata Hanida dengan kedua tangan Satrio.


"Ihhh...Mas Satrio jahil deh...."Hanida tersipu malu kalau sudah ketemu Satrio.


"Kamu lihatin apa,koc sampai bengong begitu?"


"Lihatin kamar mas yang luar biasa luas ini, beda dengan kamar Hanida yang sempit. Kamar kita memang terpisah jauh ya mas sama kamar Ayah dan Bunda?


di depan kamar kita masih ada satu ruangan seperti ruangan keluarga dan kita kayaknya beda kompleks dengan tempat Ayah Bunda"


"Iya memang benar sayang, kompleks kita beda sama Kamar Raja dan Permaisuri. Ya ga terlalu jauh juga, cuma beda rumah aja. Jadi kamu ga usah khawatir kalau dipantau sama Raja dan Permaisuri,kita punya privasi sendiri. di sini juga ada dayang-dayang khusus untuk keluarga pangeran beda dengan yang ngurusi di kerajaan pusat. "


"ooo...selesai resepsi temu manten ajak aku jalan jalan muter kesulthanan ya Mas"


"Iya tidak usah khawatir,kalau disini aku banyak nganggurnya beda kalau aku di luar kesulthanan malah aku sibuk ngurus perusahaan, ga ada waktu hanya untuk sekedar jalan-jalan, istirahat yuuk....capek aku"


Satrio merebahkan tubuhnya pada ranjang, dia harus mempersiapkan fisik untuk acara besok. Hanida pun menyusul tidur di sampingnya karena dia juga merasa capek.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Acara siraman hari ini dilaksanakan nanti malam, Hanida sudah dari tadi siang dipingit oleh dayang-dayang kesulthanan untuk diluluri badannya dan berbagai persiapan sebelum acara siraman.


Malam ini Hanida memaki kemben, dengan ronce bunga melati di dada dan kepalanya. sedangkan satrio hanya memakai kemben dan kalung bunga melati. Acara siraman pun berjalan dengan lancar.


Hanida melihat ke arah Satrio demikian juga dengan Satrio, senyum kedua insan pengantin ini tiba tiba mengembang di bibir mereka. Hanida merasa bahagia mendapat senyuman manis dari Satrio, seakan akan masalah dengan Kevin sudah dia kubur dalam dalam. Tiba tiba di perut dan sekelilingnya seperti beterbangan kupu kupu cantik berwarna warni, yah..Hanida terpesona dengan wajah tampan pangeran Satrio.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pagi hari ini semua orang sibuk mempersiapkan temu manten yang akan dilaksanakan pukul 10.00 WIB dilanjut dengan resepsi pukul 13.00 WIB.


Acara temu manten hanya dihadiri kedua keluarga penganten, sedangkan undangan pejabat dan kolega Kesulthanan dilaksanakan saat resepsi.


Saat temu manten, kedua mempelai memakai pakaian adat Jawa dengan segala asesorisnya, tampak Hanida semakin cantik dan terlihat semakin dewasa. Sedangkan Satrio juga tampak semakin gagah dan berkharisma.


Keduanya melaksanakan temu manten yang dilaksanakan di bawah tarub, pengantin perempuan membasuh kaki pengantin laki laki dan melaksanakan sungkem kepada suaminya. selanjutnya kedua pengantin dibawa ke pelaminan dilanjutkan dengan acara sakral lainnya.


Tibalah acara resepsi yang mengundang kolega kesulthanan, mulai dari pejabat pemerintah, pengusaha,artis dan kenalan atau sahabat sahabat keluarga kesulthanan. Tidak ada satu pun yang Hanida kenal, tapi bagi Hanida seolah olah tamunya ga pernah habis. Pipi Hanida sudah capek tersenyum terus dan Kaki Hanida sudah capek berdiri.


"Mas,tamunya kok ga habis habis?"berbisik ke telinga Satrio


Tiba-tiba muncul Nenek Kevin di hadapan Hanida yang tidak Hanida sadari kapan kedatangannya. "


Selamat ya cah ayu, akhirnya kamu dapat jodoh yang sesuai denganmu. Selamat Yaa,", Nenek memeluk erat Hanida seolah olah merasa kehilangan.


"Terimakasih Nek,,,", Hanida terisak pelan di pelukan Nenek.


"Dapat salam dari Kevin dan ucapan selamat untuk kamu, Kevin tidak bisa kembali ke Indonesia dalam waktu dekat,"


"Ga apa apa Nek, terimakasih"


Nenek melenggang pergi meninggalkan kedua pengantin karena antrean di belakang nenek sudah panjang.


"Siapa Kevin?", bisik Satrio di telinga Hanida. Hanida yang ditanya demikian jadi kaget.


"Temen,nanti aku ceritain kalau di kamar", Satrio telihat kecewa dengan jawaban istrinya , dia merasa tidak puas.


"Hai, Satrio, Selamat Yaa", Tiba-tiba muncul wanita cantik seringgi 165 cm, tersenyum manis dengan lesung pipi yang terlihat di kedua pipinya ketika tersenyum.


deg....


Dada Satrio bergemuruh, wanita yang ditunggunya selama puluhan tahun dan pernah dia bermimpi menjadi suaminya kini tiba tiba muncul di hadapannya. Satrio tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali, tubuhnya tiba tiba terasa kaku, mulutnya terkunci, hanya tatapan sendu dan sedih dia tunjukkan pada wanita yang tiba tiba muncul di depannya.


"Mas,,,," Hanida menjawil tubuh Satrio agar segera menyalami tangan Wanita yang sedari tadi sudah ditodongkan ke wajah Satrio.


Satrio akhirnya tersadar dari lamunannya


"Eh. rengganis lama tidak jumpa, terimakasih sudah hadir di pernikahanku"


"Iya,kamu jahat ya Sat, nikah ga undang undang aku, untung ayah dapat undangan dari Kesulthanan jadi aku bisa tahu. Kapan kapan aku ingin jalan dengan kalian berdua, selamat ya satrio dan Hanida"


Rengganis tersenyum manis walau di matanya sebenarnya memendam rasa kecewa,.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sudah kembali ke Jogja"


"Ga apa apa, ya sudah aku kesana dulu ya", Rengganis meninggalkan kedua mempelai dan mata Satrio tidak berhenti memperhatikan kepergian Rengganis.


"Hem...hem..."Hanida mencoba membuyarkan tatapan Satrio


"aeh. maaf itu tadi temen masa kecil", tampak wajah gugup Satrio dan wajah kecewa Hanida.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Rengganis??


Siapa Dia??


Tunggu Next Ceritanya yaa


Jangan lupa Vote dan koment๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™