My Prince My Husband

My Prince My Husband
GALAU


Semalam hanida tidak bisa memejamkan matanya, kejadian itu seperti berputar putar di atas kepalanya.


Bagaimana bisa baru beberapa minggu lalu dia dicampakkan di hari pernikahannya, sekarang malah dilamar keluarga kesulthanan.


"Sebenarnya berkah ataukah musibah?", hanida mendesah di dalam pikirannya.


Hanida hanya tidak bisa membayangkan akan hidup di dalam keluarga kesulthanan dengan berbagai macam aturan, ga bisa hang out bareng temannya dan yang paling dia ga suka akankah dia akan dicintai Pangeran, ini pernikahan yang diawali dengan perjodohan bukan karena cinta.


"Terima tidak terima tidak, hadeeh....pusinggggg", hanida mengacak ngacak rambutnya.


"Aku harus telepon Ibu, " Hanida bergegas mengambil handphonenya.


Tut....tut...tut...tut....


"Assalamu'alaikum...Hallo sayang, bagaimana kabarnya? Ibu bener bener khawatir nak," suara diseberang sudah memberondong Hanida dengan pertanyaan penuh kekhawatiran.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik bu, hanida disini baik baik saja. Gimana keadaan Bapak sama Ibu?"


"Alhamdulillah Bapak sama Ibu baik baik saja, Bapak juga sudah sehat karena tahu kamu di jogja."


"Alhamdulillah kalau begitu bu, Hanida disini juga baik baik saja, Alhamdulillah orang orang disini baik baik, mau membantu Hanida ketika Hanida susah. Bu, tadi malam aku diundang ke Kesulthanan, ini terkait sama Kakek Wiryo. Aku dilamar untuk pangeran, tapi aku bingung Bu haruskah aku terima?"


"Ya Allah Hanida, apa ibu tidak salah dengar. Iya memang dulu kakekmu adalah tokoh yang sangat disegani masyarakat Jogja, kalau Ibu sih terserah kamu saja Hanida. Tapi Ibu berharap kamu bisa menerimanya biar juga segera melupakan Kevin, ibu tahu lukamu sangat dalam. Tapi mungkin saja dengan menikah kamu bisa bangun dari keterpurukan. Tapi Ibu akan selalu mensupport apa pun keputusanmu"


"Jujur Bu Hanida galau, tapi mungkin Hanida harus menerimanya setidaknya dengan begini nama baik keluarga kita akan membaik setelah semua yang terjadi padaku"


"Kamu ndak usah khawatir tentang gosip tetangga, Bapak sama Ibu ga pernah peduli dengan omongan mereka. Yang terpenting buat Ibu kamu bahagia Nak," Ibu menitikkan air matanya


"Ya Allah Bu, ini adalah bakti Hanida untuk Ibu. Hanida berjanji pada Ibu, apa pun yang terjadi nanti adalah demi keluarga kita"


"Baiklah Hanida, Ibu hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu. Ibu tunggu kabar baiknya nak, nanti semuanya akan ibu sampaikan sama Bapak. Bapak pasti juga mengikuti apa keputusanmu"


"Baiklah Ibu terimakasih,salam untuk Bapak, Hanida mau berangkat kerja dulu. Wassalamu'alaikum


"Waalaikumsalam.wr.wb."


************


Pekerjaan di Galeri seni hari ini tidak terlalu banyak, istirahat siang pun bisa lebih lama dari biasanya. Ini adalah keberuntungan bagi Hanida, kurang tidur semalam membuat kepalanya sedikit nyut nyutan, badan juga lemes. Ingin di jam istirahat ini bisa dia gunakan untuk rebahan di ruang istirahat.


"Kamu kelihatan capek banget Nid? Apa kamu kurang enak badan?" tanya septira teman segaleri Hanida.


"Kamu tidak makan dulu?"


Hanida menggelengkan kepalanya


"Sepertinya tidur lebih aku butuhkan saat ini,"


"Baiklah nanti aku bawakan makanan dari luar biar bisa kamu makan saat bangun nanti"


"Terimakasih Septira, kamu memang baik. "


Hanida melenggang ke ruang istirahat. Segera hanida merebahkan dirinya ke sofa


Pukul 15.00


Hanida mengerjapkan matanya perlahan, dan mengucek pelan pelan. Dia baru tersadar dia ada dimana


"Astaghfirullah jam berapa ini?" hanida benar benar bingung kenapa tidak ada yang membangunkannya.


"Bagus ya belum menjadi menantu kesulthanan saja sudah seenaknya sendiri. Apalagi kalau jadi istriku? " suara bass tiba tiba mengagetkan Hanida, tampak laki laki berjaz abu abu duduk di sofa seberang mengamati tidur Hanida dari satu jam yang lalu. Hanida segera melirik jam tangannya, dia hanya bisa meringis tertidur selama 2 jam dan apesnya kenapa harus ada pengeran di sini.


"Maaf Pangeran, aku tidak sengaja tidur sampai jam segini. Tadi awalnya mau tidur saat jam istirahat. Sekali lagi mohon maaf" Hanida menunduk tidak berani menatap wajah pangeran.


"hhh, kali ini aku maafkan kalau kamu ulangi lagi Gaji kamu aku potong, tapi tentu ini tidak gratis. Nanti malam temani aku makan malam. Jangan berpikir macam macam, kita harus meluruskan apa yang terjadi di antara kita."


"Terimakasih Pangeran atas pengertiannya. Baik nanti malam saya akan bersiap"


Jantung Hanida berdetak tidak karuan, jujur ini bukan ajakan kencan tapi sudah membuatnya dag dig dug tidak karuan, apalagi kalau diajak berkencan beneran.


"Nanti malam aku jemput jam 20.00, jangan membuatku nanti menunggu terlalu lama. Aku datang kamu harus siap," tatapan dinginnya dia arahkan ke arah Hanida.


"Baik Pangeran,,,," Hanida tak habis pikir kenapa Pangeran menjadi sangat dingin terhadapnya, iya sih dulu juga cuek dingin tapi lebih dingin saat ini. Mungkin karena hanida tertidur saat jam kerja.


Pangeran berlalu meninggalkan Hanida. Hanida hanya bisa meringis merutuki kebodohannya, dia melihat sebungkus makanan di atas meja.


"Ini pasti dari Septira"


Hanida langsung melahapnya, jujur dia sebenarnya sangat kelaparan