My Prince My Husband

My Prince My Husband
Kost Lama dan Orang-orang Baik


Kost kostan itu masih sama seperti setahun lalu saat Hanida meninggalkannya. Rumah sederhana dengan beberapa kamar berukuran tidak terlalu besar, tetapi lingkungannya sangat bersih, karena Ibu kost selalu rajin membersihkannya. Dia Ibu Marinten Ibu Kost Hanida, yang lembut penyanyang dan selalu perhatian dengan anak-anak kost. Bahkan telat bayar kost pun hanya ditanya alasannya kenapa dan ga pernah memarahin.Ahh, Hanida jadi sangat rindu sama Bu Marinten.


Tiba di kostan lama Hanida, Ibu kost Marinten menyambutnya dengan senyum sumringahnya. Hanida sedikit lega, ibu kostnya masih sama seperti dulu dan bahkan sepertinya masih belum bertambah usianya. Mungkin bisa jadi karena kesabarannya Allah memberikan fisik yang selalu sehat untuk Ibu Kostnya.


"Assalamu'alaikum Ibu..." sapa Hanida dan langsung mencium tangan Bu Marinten.


"Wa'alaikumsalam, Ya Allah genduk Nida, makin tambah cantik saja, bagaimana kabarmu ? Ayo masuk nduk", Bu Marinten dengan bahagianya mengajak Hanida masuk.


"Alhamdulillah Ibu,Hanida baik sekali kabarnya, maaf Ibu, datang tanpa kabar-kabar, Ibu sehat to ? ", walau asli bandung karena lama di Jogja Hanida sudah terbiasa dengan aksen bahasa jawa


"Alhamdulillah, rumah Ibu itu selalu ramai dengan anak-anak, jadi Ibu ga pernah kesepian,seolah olah Ibu punya keluarga 10 di rumah ini, tentu Ibu sangat bersyukur dan bahagia. Oh iya nduk, ada apa pagi pagi sudah sampai sini ? Lho, bukannya kata Lani kamu hari menikah to nduk ?, " Ibu Marinten tersadar kalau sebenarnya hari ini dia juga dapat undangan, tapi karena jauh akhirnya Bu Marinten tidak berangkat, rencananya mau kirim kado via pos saja.


"Maaf Ibu, ceritanya panjang sekali. Intinya Hanida tidak jadi menikah, karena calon suami Hanida Ibunya sakit dan Hanida memutuskan sementara waktu mencoba meniti karir di jogja Bu, supaya Hanida juga bisa memberikan waktu untuk Ibunya Mas Kevin," Hanida bercerita dengan tatapan kosong dan mata berkaca kaca.


"Ya Allah Nduk, sudah kamu jangan bersedih. jodoh sudah diatur sama Gusti Allah, tidak bisa diminta dan juga tidak bisa ditolak. sing sabar,,,Wes di sini ada Ibuk,ada Lani,ada teman teman yang lain, anggap kami saudaramu semua. ada apa apa bilang sama kami, Oh iya Alhamdulillah ada satu kamar yang masih kosong, kebetulan anaknya dapat pekerjaan dan pindah kost karena terlalu jauh. ayuk Ibu antar, ndang mandi dan istirahat dulu," sambil memeluk tubuh Hanida.


"Inggih Bu, terimakasih banyak, Hanida beruntung mengenal Ibu. tapi Bu uang kostnya kalau Hanida sudah dapat pekerjaan Ga pa pa ya Buk," Hanida mencoba tersenyum kembali.


"Iya Ga pa pa nduk, kamu sudah tahu Ibuk iki bagaimana. santai saja anggap rumah sendiri", Hanida diantar Bu Marinten ke kamarnya.


Akhirnya Hanida masih mendapat satu kamar, ya meskipun luasnya hanya 3 x 4 m dan fasilitas seadanya sudah cukup membuat nyaman Hanida. Apalagi dia seperti bernostalgia dengan masa masa masih kuliah.


Setelah Hanida membersihkan diri dan menata semua barang barangnya. Hanida segera menghubungi ibunya bahwa dia sampai di jogja dengan selamat.


Hari ini agenda Hanida adalah mencari informasi lowongan pekerjaan dari teman teman kenalannya.


"Assalamu'alaikum..", Hanida mengetuk pintu kost Lani, temannya yang masih setia di kostan Bu Marinten dan sudah bekerja.


"Wa'alaikumsalam..", Lani membuka pintu kamarnya dan kaget saat melihat salah satu sahabat kuliahnya muncul di hadapannya


" Tunggu Hanida, kenapa kamu ada disini. Bukankah hari ini kamu menikah ?? Eh tunggu, jangan jangan aku mimpi ? ", Lani mencubit pipinya dengan keras


"Ouw, aku tidak mimpi, Hanida kamu bisa jelasin sekarang ke aku ? " Lani menyerocos tanpa memberi jeda Hanida untuk menjelaskan.


"akan aku jelaskan Lani, izinkan aku masuk dulu ke kamarmu," Hanida memohon kepada Lani


"O iya, ayo masuk dulu, aku tak sabar mendengar ceritamu," Lani penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


Kemaren dia baru meminta maaf pada Hanida kalau tidak bisa menghadiri pernikahannya karena ada tugas mendadak dari kantor. Tapi sekarang sahabatnya yang harusnya di pelaminan malah masuk ke kamar kostnya.


"Baiklah, puaskan tangismu disini..tapi berjanjilah setelah ini kamu tak akan menangis lagi," Lani menghibur sahabatnya walau belum tahu apa yang terjadi.


" Lan, apa aku tak pantas menikah dengan Kevin ?, " Hanida akhirnya bersuara


"Siapa bilang kamu tak pantas ? Apa yang terjadi dengan pernikahanmu Hani?,"


Akhirnya Hanida menceritakan semua kejadian hingga mengantarkan dia ke kos bu marinten ini.


"terus sekarang apa yang akan kamu lakukan ? " Lani mencoba membuka pikiran buntu Hanida


"Oh iya aku kesini juga mau bertanya padamu, mungkin ada pekerjaan yang cocok buatku. Aku ingin segera bekerja biar pikiranku tak memikirkan Kevin setiap waktu," Hanida mendesah


" Uhmm...sementara ini belum ada di kantorku. Tapi, aku ada pekerjaan Freelance, maukah kamu membantuku mengajar di sanggar tari. Yah, setidaknya itu dulu dijalani, sambil menunggu dapat pekerjaan tetap. " Lani memberikan saran kepada Hanida


"Uhm,,baiklah tidak terlalu buruk...aku akan terima pekerjaan mengajar tari bersamamu. thanks Lani, kamu memang sahabat terbaikku" mereka berdua berpelukan dan Hanida mencoba tersenyum bahagia.


"kamu sudah makan Hani ?? " , Lani sedikit curiga dengan tampang Hanida, jangan jangan sejak kemaren dia tidak makan.


"kamu tahu aja kalau aku belum makan..."sambil memegang perutnya.


"Oke, ini aku ada nasi uduk 1 bungkus. kebetulan aku sudab terlambat ini jadi tidak sempat makan. makanlah..."menyodorkan sebungkus nasi uduk pada Hanida


"tapi Lan, kamu kan belum makan, ga enak aku," Hanida mencoba menolak


"Terima ini atau aku tidak akan membantumu sama sekali," Lani masih seperti yang dulu suka memaksa, tapi memaksanya yang baik baik. Hanida hanya bisa nyengir


"Baiklah, aku terima tapi kamu janji ya di kantor sarapan. Kalau begitu aku ke kamar dulu, makasih Sarapannya, sering sering saja begini,,hehehe" Hanida tertawa tapi tanpa makna.


"Okelah apa sih yang engga buat kamu. Nanti sore aku jemput jam 3 pergi ke sanggar. jangan sampai ketiduran," sambil mengunci pintu kamar


"Oke Boss siap...Ya sudah hati hati ke kantornya. Salam buat pak bos kamu",


" Oke Pak Bos aku orangnya gendut, tua, istrinya empat, mau jadi yang kelima ??? " sambil mengedipkan matanya.


"Oh No...kabur aja deh aku...sampai nanti sore Zeyenk...daa" Hanida ngacir meninggalkan kamar Lani. Lani hanya bisa geleng geleng kepala.


Hanida tersenyum dengan kejadian pagi ini, "Allah masih sayang aku,pasti ada hikmah di balik semua ini" .