
Seperti yang dijanjikan ibunya hanida pagi ini mereka akan ke penjahit Nilam.
"Kamu sudah siap Hanida?" seru ibu dari kamarnya
"sudah Bu, ayo lekas berangkat sebelum panas matahari menyengat"
Mereka bergegas ke penjahit Nilam dengan berjalan kaki. mereka tidak sengaja berpapasan dengan para tetangga
" wah, mau kemana Bu sari?" sapa Bu Midun tetangga Hanida
"Mau ke penjahit Nilam Bu,"
"Wah, sudah mau membuat baju pengantin lagi ya Bu Sari, Alhamdulillah ya setahun bisa koleksi Baju kebaya. nanti saya bisa pinjam kalau anak saya mau nikah"
tidak tahu itu sindiran ataukah pujian, tetapi Hanida dan Bu Sari merasa gerah.
" Alhandulillalh Bu, memang inilah jalan terbaik dari Allah untuk anak saya, kami permisi dulu ya Bu Midun," Bu Sari langsung menyeret lengan Hanida agar cepat cepat pergi dari situ, sebelum tetangga tetangga lain mendengar dan menambahkan hal lainnya yang akan menambah sakit hati mereka.
"Kamu ga usah dengerin apa kata mereka nak, biarkan mereka berkata sesukanya, kamu harus tetap bahagia dengan pernikahanmu sekarang."
"Baik Bunda, Hanida tidak apa apa kok. lihat Hanida bisa tersenyum," Hanida tersenyum manis kepada Ibunya.
Sampailah mereka di rumah penjahit Nilam,
"Assalamu'aalikum...."
"Waalaikumsalam, eh Bu Sari..mari masuk Bu, tumben pagi pagi sudah berkunjung, ada perlu apa nih?" Bu Nilam menyapa Bu Sari dan Hanida
" Maaf Bu, mungkin ini sedikit merepotkan Bu Nilam, begini satu minggu lahi anak kami mau menikah, maksudnya Hanida mau menikah, apakah Bu Nilam bisa membuatkan kebaya yang pas buat Hanida walaupun waktunya mepet."
" ehm, bukannya dulu Hanida pernah membuat kebaya Bu, kenapa tidak pakai itu saja?"
"Maaf Bu Nilam, bukannya apa-apa, tapi baju itu ada kenangan buruk bagi anak saya, saya tidak mau anak saya terkenang yang buruk buruk di hari bahagianya" Bu Sari mencoba menjelaskan pada Bu Nilam.
" Baiklah, tetapi tentu ongkosnya jauh lebih mahal, karena tentu saya harus nglembur dan mengesampingkan pesanan pelanggan yang lain."
" Ga pa pa Bu Nilam, yang penting sebelum hari H, kebaya itu sudah jadi"
"Baiklah, sekarang kamu pilih modelnya Hanida. "
Hanida akhirnya memilih milih model kebaya yang sesuai dengannya. Humm, memori itu seperti diputar kembali. beberapa bulan lalu dia juga memilih kebaya pernikahan, sekarang memilih lagi, tiba tiba dada Hanida terasa sesak, dia tidak mau berlama lama. akhirnya asal tunjuk saja dia memilih modelnya.
" Okay, nanti H-2 silahkan kebayanya diambil kesini ya Hanida"
"Baik Bu Nilam"
Setelah sampai di rumah Hanida dan Ibunya dikagetkan dengan mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"siapa bu, sepertinya ada tamu" Hanida bertanya pada ibunya
"Tidak tahu juga Nida, sepertinya memang iya ada tamu"
mereka bergegas masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum,wah..ada tamu ya Pak?"
"Waalaikumsalam. Iya Bu, ini utusan kesulthanan ada perlu dengan Hanida"
"Mbak Hanida, kami utusan kerajaan disuruh mengukur tubuh Mbak Hanida untuk keperluan pembuatan baju pengantin yang dipakai saat resepsi"
" ooh iya Mbak, silahkan diukur. saya saja atau juga Bapak/Ibu?"
"Semua anggota keluarga akan diukur mbak, nanti ada baju seragam untuk resepsi"
"Baiklah mbak, silahkan diukur dulu Hanidanya, Ibu tak buatkan minum dan makan dulu. Jauh jauh dari Yogya pasti pada lapar khan?"
" wah, jadi merepotkan Ibu"
Ibu akhirnya berkutat membuat masakan dan minuman di dapur.
"Mbak,untuk resepsi kan bajunya juga kebaya khan? pakai adat Jawa?," Hanida serasa ingin tahu baju apa yang akan dia pakai untuk resepsi nanti.
"Bener mbak Hanida, semuanya nanti adat jawa. Mbak Hanida ga usah khawatir pasti nanti mbak Hanida akan tampil cantik, karena memang mbak hanida sudah cantik"
Hanida tersipu malu
" ah. mbaknya bisa bisa ajah"
Tiba-tiba ponsel Hanida berdering, Hanida mengangkat telp
"Halo Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam. Hanida, ini nenek nak"
"Nenek?
"Iya, neneknya Kelvin, kamu bisa kemari nak, Kevin sakit Nak, nenek mohon sebentar saja kamu luangkan waktu kemari"
tut...tut...tut.,..