My Prince My Husband

My Prince My Husband
Prolog


Malam ini Hanida tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Jantungnya berpacu berlomba dengan jarum jam yang memutar di atas dinding kamarnya. Malam ini adalah malam terakhir baginya sebagai seorang gadis.


Hanida Florencia, gadis berumur 23 tahun, berparas cantik,hidung mancung,bibir tipis,bertubuh tinggi semampai, berkulit putih bersih,dengan ciri khas lesung pipih ketika tersenyum di kedua pipinya.


Besok adalah pesta pernikahannya dengan lelaki yang amat dicintainya, Kevin Sentiano, lelaki tampan bertubuh atletik yang selalu jadi dambaan semua wanita, keturunan keluarga terpandang di Kota Bandung.


Rasanya Hanida sudah tidak sabar menantikan hari esok, ketika dia syah menjadi Nyonya Kevin.


Hanida hanya bisa membolak balikan tubuhnya karena bagaimana pun caranya dia tetap tidak bisa memejamkan matanya.


Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke chat whatsapp hp OVO miliknya,


Honey, sudahkah kamu tidur ?? (Chat dari Kevin)


Belum Mas, ada apa ?


(Hanida membalas)


Ada sesuatu yang ingin mas sampaikan


(sepertinya suasananya semakin serius)


Iya Mas


(Jantung Hanida semakin berdetak tidak karuan)


Maafkan Mas (Mengiba)


Kenapa minta maaf mas ?


(Penuh tanda tanya dipikiran Hanida)


Ibuku jatuh sakit, jantungnya kambuh, sepertinya kita harus menunda pesta pernikahan ini, aahh dan sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pernikahan ini,Ibuku menolaknya dan memendamnya sampai jatuh sakit begini. Sekali lagi maafkan aku


(Penjelasan dari Chat Kevin pada Hanida)


Dunia seakan akan runtuh, Hanida tidak habis pikir, besok adalah pestanya dan sekarang dibatalkan secara sepihak begini.


Hanida tidak membalas pesan dari Kevin, badan Hanida sudah lemas dan tidak kuat melakukan apa pun.


"Apa salah Hanida Ya Allah ...", lirih hanida dengan air mata yang sudah mengucur deras dari matanya. Apa yang harus dia lakukan, semua undangan sudah tersebar, catering yang tidak habis sedikit juga sudah terpesan, dan semua itu tentu tidak mudah bagi kedua orang tua hanida yang hanya pegawai biasa.


Hanida tidak kuat membayangkan bagaimana terlukanya kedua ibu bapaknya. Malu dengan semua tetangga dan semua kolega ayahnya dan juga harus menanggung segala hutang akibat biaya pernikahan Hanida yang batal.


"Ya Allah, kuatkan Hanida, aku harus menyampaikan kabar ini kepada kedua orang tuaku sebelum esok hari tiba", Hanida memberanikan diri.


Untunglah Hanida terlahir menjadi wanita yang kuat, dan sudah terbiasa dengan masalah yang sering mendatanginya. Tapi jujur bagi Hanida inilah masalah terbesar saat ini.


Dengan keberanian yang dia paksakan Hanida mengetuk pintu kamar ibunya,


"Ibu maaf menganggu malam-malam, bisa bicara sebentar Ibu ?? ", Hanida mencoba membangunkan Ibunya.


Ibu Hanida keluar dengan wajah masih mengantuk


"Ada apa Hani, kau membangunkan Ibu di tengah malam padahal Ibu baru satu jam an tidur sehabis menyiapkan buat besok", Ibu Hanida mengomel sambil sesekali menguap karena masih mengantuk.


Hanida tidak bisa menahan air matanya dia langsung menubruk ibunya, sesenggukan tidak karuan, bahkan tidak bisa mengatakan apa pun kepada ibunya. Tangis Hanida pecah, dia menangis tertahan di dada ibunya.


"Maafkan Hanida Ibu, Hanida tidak pernah mau mendengarkan apa kata ibu, " hanida akhirnya bisa mengatakan sesuatu.


"Ada apa sayang, besok kamu mau menikah kenapa harus menangis,harusnya kamu bahagia", hibur Ibunya


Ibu Hanida syok mendengar penjelasan anaknya, apa yang akan dia lakukan. Semuanya terasa buntu seolah tidak ada jalan keluar.


"Ibu aku mohon maafkan aku, aku sudah memikirkan apa yang akan Hanida lakukan,". Hanida mencoba menyakinkan ibunya


"Apa yang akan kamu lakukan nak, jangan melakukan sesuatu yang bodoh. Kita bisa membatalkan semuanya, ibu tidak masalah menahan malu asal kamu jangan melakukan macam-macam", Ibu Hanida mengancam anaknya, dia takut anaknya akan berbuat nekad.


"katakan sama ayah dan sama semua orang, kalau hanida kabur dari rumah. Hanida tidak mau menikah karena Hanida tidak mencintai calon suami Hanida dan katakan pada mereka kalau Hanida masih ingin menjadi wanita karir sebelum menikah. " Hanida menjelaskan panjang lebar pada kedua ibunya.


Dengan begitu Hanida berharap kedua orang tuanya tidak terlalu dipermalukan oleh sikap keluarga Kevin. Setidaknya orang orang tidak akan menganggap bahwa putri Ibunya dicampakkan di hari pernikahannya.


"Tapi Hanida kamu mau pergi kemana ? ", Ibu Hanida sedikit khawatir.


"Aku akan pergi keluar kota Bu, menemui temanku disana, aku akan bekerja disana dan aku berjanji akan membayar semua hutang akibat kegagalan pernikahanku ini.", Hanida menggenggam tangan ibunya erat


Ada kekhawatiran di mata Ibu hanida, seolah tak rela membiarkan putri kesayangannya pergi dalam keadaan sakit hati dan menderita.


"Tapi kamu harus janji pada Ibu Hanida, bahwa kamu akan baik baik saja. Dan selalu kabari ibu dimana pun kamu berada", Ibu hanida meneteskan air matanya yang sudah tidak terbendung lagi.


"Hanida janji ibu, I Love You, aku akan kembali setelah semua orang melupakan kisah piluku ini Ibu. Hanida akan baik baik saja, ada Allah yang melindungi Hanida", Hanida memeluk ibunya erat sebagai tanda perpisahan. Dia tidak mau berlama lama takut akan membangunkan ayahnya dan semuanya malah akan kacau.


Hanida mengemasi barang barang penting yang sekiranya dia butuhkan. Hanida pun bingung dia akan pergi kemana, yang ia tahu ia harus pergi jauh. Menenangkan diri dan mencari pekerjaan yang pantas.


"Ah, aku akan pergi ke Yogayakarta, menemui teman kuliahku,toh aku sudah tinggal disana selama beberapa tahun aku kuliah. Aku akan menghubunginya setelah sampai di sana."


Hanida melangkahkan kaki dengan pelan, keluar rumahnya. Dia tidak mau membangunkan yang lain. Ibu Hanida mengintip dari balik jendela kamarnya ketika Hanida keluar dari halaman rumahnya.


Hanida kembali memandangi rumahnya yang sudah didirikan tenda di depan rumahnya, semuanya sudah siap, hiasan pelaminan yang begitu indah dengan nuansa putihnya juga telah berdiri megah di depan rumahnya.


"Tapi ah, sepertinya ini semua memang bukan untukku. Maafkan aku ayah , ibu...anakmu sepertinya belum bisa membahagiakanmu",


Hanida segera berjingkat meninggalkan rumahnya sebelum ada orang yang lewat di depan rumahnya. Hanida memesan taxi online menunggu di depan gang rumahnya.


*


Keesokan paginya,


Semua orang heboh, pengantin yang mau dirias tidak ada di dalam kamar. Ayah Hanida berteriak teriak mencari hanida.


Ibu Hanida pun harus tetap berakting seolah olah Hanida memang kabur dari rumah.


Sampai akhirnya ayah hanida menemukan sepucuk kertas yang ditulis Hanida.


'Ayah,maafkan Hanida. hanida tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, semua sudah dibatalkan. Aku tidak mencintai calon suamiku dan aku akan berkarir setinggi mungkin. Maafkan anakmu Ayah, Ibu.


I Love You All


"Dasar anak kurang ajar, " geram ayah Hanida


"Apa yang terjadi Sayang " Ibu Hanida hanya bisa menangis dan mengambil surat Hanida.


Keadaan menjadi hening,sound sistem dimatikan, perias berkemas kemas kembali,bahkan tak ada senyum satu orang pun di rumah itu. Semua masakan yang sudah dimasak dibagi bagikan kepada tetangga dan semua tamu yang terlanjur datang.


Semua peratan dan perlengkapan juga sudah dibersihkan semua. Tetangga yang membantu akhirnya juga turut undur diri, dan sebelum pulang mereka menguatkan Pak Broto dan Ibu Sari.


Kini hanya tinggal Pak Broto dan Ibu Sari , Ayah dan Ibu Hanida. Mereka duduk terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Jauh di lubuk hati mereka, mereka hanya ingin anaknya kembali dan baik baik saja. Itu sudah cukup bagi mereka.


#Maaf Banyak Typo


#Bagaimana kelanjutan hidup Hanida ??