
Hanida memasuki sebuah ruangan yang sangat kental dengan nuansa Jawanya, meja kursi semuanya terbuat dari kayu jati asli dan sepertinya usianya sudah puluhan tahun dilihat dari mengkilapnya yang alami dan sedikit ukiran pada masing masing sisinya. Meja setebal 10 cm di depan Hanida menunjukkan kekuatan dan kekokohan pemilik dari rumah ini. Aneka makanan terhidang di depan Hanida, semuanya masakan khas jogja, baru melihatnya saja Hanida sudah ngiler dan akhirnya Hanida hanya bisa menelan ludah karena sepertinya makan malamnya belum bisa dimulai.
Hanida kembali teringat kejadian kemarin waktu Bang Diman Abdi dalem kesulthanan menghampirinya di sanggar
"*Maaf apa benar ini dengan Mbak Hanida ? " Bang Diman bertanya dengan sopan dan lembut
"Inggih benar saya Hanida, ada yang bisa saya Bantu Bapak ? ", Hanida tak kalah lembutnya, bagaimana pun selama ini Hanida sudah belajar lebih banyak untuk meningkatkan kelemah lembutannya, walau tahu sendiri aslinya Hanida bukanlah gadis lemah lembut.
"Maaf Mbak, besok malam Anda diminta untuk menghadiri makam malam ke keluarga kesulthanan, besok akan ada yang menjemput ke kost mbak Hanida," Hanida hanya bisa terbengong mendengar ucapan Bang Diman.
"Maaf Mbak, apa saya salah kata ? ", Bang Diman bingung dengan reaksi Hanida.
"Oohh...tapi kok saya dapat undangan ?, jujur saya bingung pak ?, "
"tidak usah bingung yang penting besok datang dan akan dijelaskan sendiri oleh kanjeng ratu, saya permisi dulu Mbak Hanida," Bang Diman meninggalkan Hanida sambil tersenyum sendiri*.
"Kamu sedang melamun apa Nak ? " Kanjeng ratu membuyarkan lamunan Hanida.
"Oh, tidak apa-apa Kanjeng Ratu, mohon maaf sebelumnya saya agak kaget dengan semua undangan ini ? apa saya ada salah nggih Kanjeng Ratu ? " Hanida sedikit tergagap ketika tiba tiba kanjeng ratu membuyarkan lamunannya.
" Tidak usah bingung cantik, kamu memang sengaja Ibu undang kemari. jangan panggil kanjeng ratu, panggil saja dengan Ibu", Kanjeng Ratu tersenyum manis ke arah Hanida.
" Nggih Kan....Eh....Ibu.....", Hanida menggaruk lehernya walau tidak gatal.
"Kita tunggu anak saya datang ya Nduk, anaknya masih perjalanan ke sini. Dia memang sedikit susah, sudah diwanti wanti jangan telat tapi tetap saja kebiasaan dia telat." kanjeng ratu mengomel sendiri.
"Sudahlah Ibu, jangan perlihatkan kebiasaan ngomelmu pada anak putri kita, nanti belum belum dia sudah takut sama ibu duluan," Kanjeng Sulthan menimpali omongan kanjeng ratu. Ya tanpa Hanida sadari ternyata di meja makan sudah duduk bersama Kanjeng Sulthan dan Kanjeng Ratu.
Hanida hanya bisa tersenyum dalam kebingungan, dalam hatinya banyak pertanyaan yang muncul "kenapa harus panggil Ibu, kenapa aku dianggap putri mereka, ahh...apa aku jangan jangan putri kerajaan yang hilang dan akhirnya ketemu. wahh...pasti asyiikk kayak cerita novel.eh dongeng", Hanida senyam senyum sendiri tanpa dia sadari seseorang yang telah dinantikan kedatangannya sudah berdiri di sampingnya.
"Hem..hem...," laki laki itu tak lain adalah pangeran,berdehem melihat Hanida yang sejak tadi senyam senyum tidak jelas,, ahh...dasar Hanida.
" Wah anak lanang akhirnya sudah datang, ayo duduk le...kita makan malam bersama "Kanjeng ratu terlihat sumringah melihat kedatangan anak laki lakinya.
Hanida akhirnya tersadar dia sudah terbawa khayalannya, sesaat dia menoleh ke arah laki laki yang berdehem tadi.
"What???" Hanida melotot dengan sedikit menahan keinginannya untuk berteriak, akhirnya dia menutup mulutnya sendiri.
" Nggih Ibu...saya pernah bertemu dengan pangeran di...hem...di kantor," Hanida menunda mengutarakan kalau pernah bertemu di bus.
Pangeran yang sejak tadi hadir belum mengutarakan satu kata pun. Dia tahu sesuatu akan terjadi padanya.
"Baiklah karena kita berkumpul semua akan aku utarakan keinginan dan harapan dari Kesulthanan kepada pangeran maupun kepada cucu Mbah Sosro Suwiryo Mbak Hanida," Hanida sedikit kaget kenapa Kanjeng Sulthan tahu tentang kakeknya.
" Kesulthanan memutuskan untuk mengikat tali kekeluarga masyarakat Jogja dan Keluarga Kesulthanan maka pangeran harus menikah dengan Mbak Hanida, keputusan kesulthanan tidak bisa diganggu gugat kecuali pihak perempuan mengajukan keberatannya,"
"Jadi yang bisa menolak hanya wanita itu, aku tidak bisa, apa apaan ini ? " Pangeran protes di dalam hatinya.
"Bagaimana Nak Hanida apakah permintaan dari kesulthanan ini memberatkanmu ? " Kanjeng Sulthan menanyai Hanida yang sejak tadi hanya terbengong bengong. sepertinya cita citanya mau makan enak hanyalah impian belaka. Bagaimana mau menghabiskan makanan, mau menelan ludah saja sekarang sulitnya minta ampun.
Hanida tidak bisa menjawab, dia menoleh pada pangeran tapi yang dia dapati hanya wajah dingin. Mau menjawab dia tidak tahu harus menjawab apa
"Ehm...maaf Kanjeng Sulthan ini sesuatu yang sungguh mengagetkan saya. Saya bukan siapa siapa bagaimana bisa menikah dengan pangeran. apa ini tidak apa apa ? "
"Kamu yang terpilih nak, tidak ada yang salah, " Kanjeng Ratu menguatkan Hanida.
"Kalau begitu bolehkan saya meminta waktu, Hanida harus menyampaikan ini ke Bapak/Ibu ? . " sepertinya ini jalur teraman agar tidak salah berucap Hanida menggumam dalam hati.
"Baiklah Nak, berapa lama kamu membutuhkannya ? "
"Ehm, satu minggu bagaimana Ibu ? "
"Baiklah, Pangeran bagaimana menurut kamu nak, Hanida cantik kan ? saya rasa kamu pasti setuju ? " Kanjeng Ratu mencairkan suasana tegang dengan menanyai pangeran.
"Sudahlah Ibu, keputusanku disini tidak penting, apa pun yang ayah ibu katakan adalah mutlak. Saya bisa apa ? Saya izin mohon diri dulu Ibu, saya mau melihat kamar sudah lama saya tak mengunjunginya. " Pangeran berlalu dan sedikit melirik ke arah Hanida yang sejak tadi menunduk entah apa yang dicarinya, sedikit senyuman terbit di bibir pangeran.
" Baiklah Nak, biar Ibu yang menemani Hanida makan disini. sepertinya dia masih canggung bersamamu, maklumlah kamu itu terlalu dingin nak untuk para cewek. " Kanjeng Ratu dan Sulthan terkekeh bersamaan.
"Ayo, Hanida dimakan nak, makan yang banyak biar kenyang."
*Ya Allah mimpi apa aku semalam....
Jerit Hanida di dalam hatinya*