My Prince My Husband

My Prince My Husband
Lamaran


Pagi ini keluarga Hanida terlihat begitu sibuk, kerabat-kerabat dekat hilir mudik membantu memasak dan persiapan yang lain. Hanida tidak diizinkan menyentuh apa pun, apalagi sampai membantu memasak. Hanida memakai kebaya warna biru dan polesan riasan sederhana dan terlihat sangat anggun dan cantik. Bapak/Ibu Hanida tampak terlihat sumringah, mereka berharap semoga pernikahan anaknya sekarang akan berjalan lancar dan tidak ada kendala apa pun.


Memang yang diundang di acara lamaran hanya beberapa tetangga dan tetua yang ada di kampung Hanida. mereka semua sudah berkumpul dan menunggu kedatangan mempelai laki-laki.


Hanida merasa deg deg an, ini bukan pertama kalinya dia menunggu lamaran laki laki. tetapi nuansanya tetap berbeda, kalau dulu memang dia begitu mencintai dan mengharapkan calon pengantinnya, tetapi sekarang dia tidak tahu perasaan senang atau sedih yang dia rasakan, yang ia tahu saat ini dadanya berdebar cukup keras. Perasaaan khawatir dan takut akan hadirnya sebuah kegagalan lah yang menyebabkan Hanida merasa seperti ini.


"Alhamdulillah rombongan sudah sampai gerbang desa, semuanya harap segera bersiap,"kata salah satu tetangga Hanida.


Selang 5 menit kemudian bener rombongan iring iringan 5 mobil memasuki pelataran rumah Hanida. Hanida semakin gugup, tangannya sampai sedingin es, padahal dulu waktu lamaran Kevin tak sebegininya.


Semua keluarga kesulthanan turun dengan membawa beberapa hantaran yang kalau dikumpulkan sebanyak satu mobil penuh isinya hanya hantaran saja. Aneka buah, kue, pakaian,make up, perhiasan, dll tampak berjejer penuh di ruangan depan yang memang tempat prosesi lamaran.


" Assalamu'alaikum.wr.wb. mohon maaf mengganggu waktu dan mungkin cukup merepotkan dari keluarga besar Hanida, kedatangan kami kemari adalah ingin mengutarakan niat baik Kami sebagai orang tua dari anak Kami Satrio, kami mewakili Satrio berniat untuk melamar Hanida sebagai istri anak saya dan sekaligus nanti akan menjadi bagian dari keluarga Kesulthanan. Bagaimana Hanida dan keluarga apakah lamaran putra Kami diterima?" Sulthan mengawali acara lamaran dan langsung pada intinya.


" Waalaikumsalam.wr.wb. sebelumnya kami dari keluarga Hanida mohon maaf kalau dalam penyambutan Kami banyak kekurangan. Kami selaku orang tua Hanida menyerahkan semua keputusan sepenuhnya kepada Hanida. Silahkan Hanida kamu jawab, kamu terima apa kamu tolak lamaran dari pangeran Satrio"


Hanida tertunduk malu, tidak tahu harus mengatakan apa. sungguh lidah terasa kelu dan seolah olah tidak bisa mengeluarkan kata kata, dengan tarikan napas akhirnya Hanida mengutarakan keputusannya.


"Bismillah, Hanida menerima lamaran pangeran."


"Alhamdulillah....."serentak semua yang hadir mengucapkan Hamdallah.


Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penentuan hari pernikahan. Keluarga Hanida menginginkan akad nikah tetap dilaksanakan di rumah Hanida, untuk resepsi wajib dilakukan di Kesulthanan. Selanjutnya acara dilanjutkan makan bersama.


Satrio memandang Hanida dari tempat duduknya, nampak Hanida sedang bercengkrama dengan keluarganya dan keluarga kesulthanan. Satrio mengingat pertemuan pertamanya dengan Hanida, Satrio senyum senyum sendiri.


"Hem...hem....kayaknya ada yang jatuh cinta nich. " terdengar suara membuyarkan lamunan Satrio.


" Eh, ..." Satrio tergagap dengan suara cempreng adiknya.


"Sabar Kak, akad nikah 1 minggu lagi. cepat kok itu nanti juga kalau sudah halal bebas mau memandang 24 jam sekalipun. hehehe" Adik satrio menggoda kakaknya.


"Apaan sih dek, Kakak cuma lihat itu kok mereka sudah dekat sekali seperti sudah kenal lama," bela Satrio


"Nanti aku sampaikan salam Kakak sama Hanida,daaa...aku kesana dulu ya kak" adik Satrio tersenyum nakal ngerjain kakaknya.


Satrio hanya bisa geleng-geleng kepala. tiba -tiba dadanya terasa berdebar debar saat wajah cantik Hanida tersenyum manis padanya.


memang selama ini Satrio tidak pernah memiliki hubungan serius dengan seorang wanita. tetapi bukan berarti dia tidak pernah jatuh cinta, dulu dia pernah jatuh cinta dengan seorang wanita yang begitu dekat dengannya. wanita ini pernah berlabuh di hatinya bahkan sampai saat ini, dia adalah teman kecil Satrio. rengganis namanya, tetapi sejak rengganis harus kuliah ke luar negeri mengikuti keluarganya Satrio tidak pernah mendapat kabar darinya. andaikan kau tidak menghilang rengganis, pasti sudah kuajukan pada keluarga kesulthanan dirimu menjadi calon istriku. Ah, sepertinya kita memang tidak berjodoh.


"Baiklah, karena waktu telah siang kami keluarga kesulthanan undur diri. untuk keperluan akad nikah nanti akan kami kirimkan utusan untuk mengantarkan kemari sebelum acara akad nikah." satrio terbangun dari lamunannya ketika mendengar Sulthan sudah pamit undur diri.


kok cepat sekali rasanya, bahkan aku belum berbicara sepatah kata pun pada Hanida. fuhh....susahnya....


Hanida hanya bisa memandang kepulangan keluarga kesulthanan dengan perasaan sedikit tidak rela karena dia tadi sepertinya belum berbicara sepatah kata pun dengan pangeran.


Ya sudahlah, lagian juga ga ada yang mau dibicarakan.


" Hanida sekotak perhiasan ini kamu simpanlah, " Ibu hanida datang membawa kotak perhiasan pada Hanida.


"Kenapa mereka membawakan perhiasan sebanyak ini bunda, apakah Hanida tidak terlihat seperti perempuan matre."


" Tidak nak, ini sudah adat Kesulthanan, memberikan yang terbaik untuk mempelai wanita. simpanlah meskipun kamu enggan memakainya."


" Baiklah bunda, bunda...apakah mas Satrio bisa mencintai aku, secara kita menikah karena dijodohkan. bahkan aku pun belum merasakan mencintai mas Satrio" Hanida mencoba meluapkan uneg unegnya pada Ibunya.


" Percayalah nak, cinta akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalanya waktu. aku lihat tadi Satrio sering mencuri pandang padamu," goda Ibu Hanida


" Ah, Bunda bisa ajah...." Hanida tersipu malu dengan godaan ibunya.


" Ayo, Hanida kamu segera istirahat. jangan sampai capek dan sakit, satu minggu lagi kamu menikah. besok kita ke penjahit Nilam, semoga bisa membuat kebaya yang bagus dalam waktu singkat untuk akad nikah nanti."


" Kenapa ga pakai yang dulu saja Bun?"


" Jangan nak, Ibu pengen kamu bahagia tanpa trauma masa lalu"


Hanida hanya bisa tersenyum pasrah dengan keputusan Bundanya.


# Maaf Kalau banyak typo


# Mohon Like dan Comentnya yaa🙏🙏🙏