My Prince My Husband

My Prince My Husband
Kamar Pengantin


Akhirnya Hanida mengajak pangeran Satrio memasuki kamar pengantin untuk istirahat, Hanida tahu pasti Satrio capek setelah perjalanan jauh yang ditempuhnya.


"Mas Satrio mau bersih-bersih dulu? saya antarkan ke kamar mandi, jangan lupa bawa ganti", Hanida menjelaskan takutnya Satrio tidak terbiasa mandi di kamar mandi luar kamar.


"Okay, antarkan aku ke kamar mandi dulu untuk ganti baju, gerah rasanya" Satrio mengambil baju ganti di kopernya.


"Nanti saya tunjukkan kamar mandinya mas, setelah itu aku tinggal ya merapikan baju mas ke dalam Almari"


"Terserah deh, oh iya mana handuknya?"


"Oh iya bentar mas aku ambilkan", Hanida segera mengambilkan handuk di almari untuk Satrio.


Setelah Hanida mengantarkan Satrio ke kamar mandi, Hanida segera berjingkat ke kamarnya untuk melepas semua asesoris dan kebaya yang ia pakai. setelah itu dia berganti kaos rumahan dan membersihkan make up yang menempel di wajahnya, setelah itu dia merapikan baju baju Pangeran ke dalam almari.


rasanya canggung banget, aneh, jika harus ada lelaki yang tiba tiba menghuni kamarnya. tiba-tiba dia baru sadar kamarnya sekarang sedang dalam nuansa pengantin baru, tampak hiasan bunga bunga di seluruh bagian sisi ruangan, sepray putih bertabur mawar di atasnya.


"Hummm,ngapain dihias segala sih, wong mau tidur aja" ngedumel Hanida di dalam hatinya.


"btw, lama bangets sih Satrio di kamar mandi"


"Hem..hem....gantian kamu yang mandi sana, bau kecut tuh..."tiba-tiba Satrio sudah muncul di kamar.


"Ihhh...ngeledek,masih wangi ni badan, meskipun emang sedikit gerah. ya udah aku mandi dulu, kalau ada sesuatu tunggu aku sampai selesai mandi" Hanida berlalu sambil menyampirkan handuk di bahunya dan mengucir rambutnya ke atas seperti ekor kuda. Penampilan Hanida yang serba seadanya ini membuat pangeran senyum senyum sendiri.


Satrio memandangi kondisi kamar yang tadi belum sepenuhnya dia lihat.


"kayaknya tidur siang habis mandi pasti enak, eh iya aku belum shalat ashar"


akhirnya Satrio melaksanakan shalat ashar, setelah menunaikan shalat dia merebahkan tubuhnya di kasur, karena kecapean Satrio terlelap dengan cepatnya.


Hanida selesai mandi masuk ke kamarnya,


"sepi banget, kemana tuh anak?"


Hanida pelan pelan melangkahkan kakinya, setelah dilihatnya Satrio tertidur pulas di atas kasur.


"Kamu pasti capek banget Mas, ternyata kalau pas tidur gini kamu kelihatan imut dan makin ganteng, ga salah aku menerima pinanganmu,"Hanida memandangi wajah polos suaminya ketika tidur dan tanpa dia sadari dia begitu terpesona dengan ketampanan pangeran.


Hanida segera mengalihkan pandanganya ketika Satrio bergerak menggeliatkan tubuhnya.


aish..hampir saja aku ketahuan memandang wajahnya, bisa malu aku.


Cepat-cepat Hanida memalingkan mukanya dan melanjutkan berhias di depan cermin, menyisir rambutnya dan menyapukan bedak tipis ke wajahnya. selanjutnya dia melaksanakan shalat ashar yang hampir saja dia kelupaan gara-gara memandangi wajah Satrio.


Setelah selesai shalat, Hanida merasa capek banget, ingin dia merebahkan tubuhnya pada kasur empuk kesayangannya tetapi disana ada Satrio.


Ya Allah, aku ingin rebahan dan tidur nyenyak,tapi disana ada suamiku, haruskah aku menyusul tidur di sampingnya. hadew...tapi ga papalah kita kan sudah syah, lagian dia juga lagi nyenyak tidur, berangkat....eh berangkat tidur maksudnya


Batin Hanida berperang melawan malu dan egonya, akhirnya Hanida merebahkan tubuhnya di samping Satrio. Tidur miring membelakangi suaminya, dia tidak berani miring menghadap suaminya, jujur jantungnya tidak kuat. sekarang saja rasanya sudah berdegup kencang jantungnya. Karena lelah akhirnya Hanida tertidur juga.


Pukul 17.30 WIB


Hanida terbangun mendengar suara ketukan pintu kamarnya, dia melihat jam ternyata sudah 1 jam an dia tertidur. tapi ketika mau bangun perut Hanida terasa berat, seperti ada yang menindihnya.


Ulala, tangan Satrio memeluk erat perutnya dari belakang tubuh Hanida.


Ya Allah kuatkan jantungku


Pelan pelan Hanida memindahkan tangan suaminya dan segera beranjak dari tempat tidur. Hanida membuka pintu yang sedari tadi diketok ketok.


"Eh Ibu, ada apa? maaf tadi Hanida ketiduran habis capek bangets"


"Iya ga pa pa, Ibu hanya mengingatkan nanti habis magrib suaminya jangan lupa diajak makan,apa dia juga masih tidur?"


"Iya Bu, Mas Satrio masih tidur kelihatannya kecapek an banget. Nanti aku bangunkan kalau sudah adzan magrib"


"Ya sudah ibu ke dapur dulu menyiapkan makan malam,"


"Siapa yang datang Nid?" Satrio ternyata sudah bangun dan duduk menyederkan punggungnya di ranjang.


"Ibu, tadi mengingatkan kalau habis magrib jangan lupa ajak kamu makan malam"


"Ooh,kamu ga bantu ibu masak?


"Biasanya bantu sih, tapi hari ini karena aku tadi ketiduran akhirnya ga bantu..hehehe" Hanida cengar cengir merasa bersalah tidak menyiapkan makan malam suaminya.


"Eh Nid, kamar pengantinnya sepertinya sudah bener bener dipersiapkan untuk nanti malam"


"eh,nanti malam emang ada apa mas? bukankah acara sudah selesai?"


"Acara kita lah, kamu sudah siap?" Satrio mengerling nakal pada Hanida. Hanida hanya tersenyum malu, entah kenapa Satrio makin gemas melihatnya.


"Udah ah mas jangan dibahas, Hanida malu,udah yuuk kita shalat magrib, mas Satrio mau shalat di Mushola bareng Bapak atau mau shalat di rumah?"


"Emm, aku ikut Bapak aja ke Mushola, kamu shalat sendiri di rumah ya."


"Okay mas, nanti aku bilang ke Bapak, kamu siap siap gih, udah adzan tuh.."


Satrio bersiap ke mushola dan Hanida sendirian di kamar. Dia teringat kata kata Satrio, segera dia geleng gelengkan kepalanya, tidak mau membayangkan yang lebih jauh.


"mana mungkin dia mau sama aku, dia kan tidak mencintaiku. hufff, lebih baik nanti malam langsung tidur dan bermimpi indah. tapi kalau dia bener bener minta bagaimana?? haduh koc aku jadi bingung gini" Hanida memukul mukul pelan kepalanya


"Biarin deh, pasrah aku apa yang akan terjadi malam ini, kamar pengantin yang akan jadi saksinya"


Bersambung....


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Maaf banyak typoπŸ™πŸ™πŸ™


Jangan lupa Vote dan Koment YaaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™