
"koc diam saja sih Nid,kamu marah?"
"Engga,kenapa harus marah?"
"Mungkin saja",kan aku tanya Nid, Satrio sengaja menjalankan motornya pelan pelan agar bisa ngobrol sama Hanida.
"Maafin Rengganis ya Nid,dia pasti ga sengaja hanya terbawa suasana",
Hening.....
"Nida,kamu lapar?"
"Hu um",
"O,jadi kalau lapar kamu jadi diem gini ya?"
"iya,"
"Mau makan apa?"
"Terserah mas,asal jangan ke tempat yang mengandung unsur kenangan mantan"
akhirnya Hanida mengeluarkan kata katanya.
"Maaf, aku tadi ga bermaksud begitu, ga tahu aja tiba tiba Rengganis juga muncul"
"Mas,berhenti kita berhenti di depan itu sepertinya ada mie ayam enak,ayo kita coba mas"
"Boleh," Satrio memarkirkan motornya di depan sebuah kedai mie ayam,kedainya ramai sepertinya memang enak makanannya.
"Bang, mie ayam 2 mangkok ya", seru Hanida ke abang penjual
"minumnya apa?"
"Es degan aja dua", Hanida tidak bertanya pada Satrio maunya apa. sepertinya Hanida sudah mulai menjadi istri yang otoriter.wkwkwk
keduanya diam tanpa kata menunggu mie ayam pesanan mereka jadi, Hanida tampak serius memperhatikan hpnya dari tadi. sedangkan Satrio asyik menikmati wajah Hanida yang cemberut tanpa senyum sejak tadi
ternyata kalau cemberut gitu jadi imut ya.... Satrio terkekeh geli melihat tingkah Hanida. yang dipandangi tidak merasa kalau dipandangi, malah asyik cemberut sambil mengotak atik hpnya. Akhirnya pesanan mereka pun datang...
"Hummm...lama aku tak menikmati mie ayam, sepertinya lezat" Hanida menghirup dalam dalam aroma mie ayam pesanannya, Satrio tersenyum geli melihat tingkah Hanida.
Hanida tampak lahap menikmati mie ayam, makanan favoritnya. Setelah keduanya menghabiskan makanannya, Satrio segera membayar dan mengajak Hanida pulang.
Sampai di rumah....
Hanida langsung menuju kamar dan berbersih di kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, dia duduk di kursi dekat jendela besar di kamarnya, membaca beberapa berita hari ini di hpnya. Tak dihiraukannya suaminya yang sedari tadi menunggu Hanida berbicara.
"sepertinya memang Hanida lagi ngambek,"batin Satrio.
"Hanida...."
"Iya mas,,,"
"Apa yang membuatmu mendiamkan mas seperti ini?"
"Apa mas pengen ngomong sesuatu?"
"Engga,engga ada Nid,aku mau ke kamar mandi aja," Jengkel Satrio dengan sikap Hanida,katanya ga ada apa apa,tapi lihat itu dia cuek banget.wanita seperti ini biasanya sedang marah.batin Satrio
Setelah keluar kamar mandi Satrio segera mengambil buku bacaannya dan membawanya keluar. Dia juga tidak menyapa Hanida sama sekali.
"Eits, kok dia kayaknya ikut marah ya? padahal harusnya kan yang marah aku,biarin aja deh,siapa suruh ngajak aku ke tempat kenangan sang mantan," Hanida komat kamit sendiri.
Seharian ini kedua pengantin baru itu diem dan tidak berbicara satu sama lain. Bahkan saat makan malam pun keduanya hanya diam, entah sampai kapan keduanya akan tetap diam seperti itu.
"Mas....", Hanida tahu kalau diem diem man pasti laki laki paling jago, akhirnya dia menyerah juga.
"humm...",Satrio sudah mau memejamkan matanya tiba-tiba kaget dengan suara panggilan Hanida. senyum smirk di bibir Satrio, dia merasa menang.
"Kenapa mas ikut diam sih?"
"Lhoh,lha ga ada yang mau mas ajak omong ya mas diam donk"
"Harusnya mas ga gitu,,,"Dahi Hanida berkerut dengan tingkah tak bersalah suaminya.
"Lha gimana?"
"ahhh...tahu ah..."
Satrio terkekeh dengan tingkah istrinya
"Iya mas minta maaf,mas dimaafin kan? lain kali mas ga akan ngajak kamu ke tempat yang ada kenangan sama mantan. Mas janji"
"Beneran loh yah?"
"Iya, mas tadi juga kaget waktu rengganis muncul"
"Aku malu mas tidak tahu apa apa tentang kamu, sedangkan rengganis seakan akan tahu semuanya dan banyak kenangan mas sama dia. Sedangkan kita g ada kenangan apa pun"
"Kata siapa ?"
"Maksud mas?"
"Laki laki dalam bus yang minta minum sama kamu,laki laki dingin"
"Jadi mas ingat? aku ga berani bertanya itu sama mas,takut jangan jangan bukan mas.walau aku yakin itu pasti mas,"
Satrio mengacak acak rambut Hanida dan menarik Hanida ke pelukannya. Hanida memeluk erat pangeran dan merebahkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
"apa aku bisa bilang istriku sedang cemburu ya?"
"Apa cemburu,engga lah mas, Hanida kecewa aja sama Mas, masak ngajak jalannya ke tempat yang penuh kenangan sama Mantan, ga adil kan rasanya"
"Iya,maaf, ahh Hanida katakan kamu cemburu biar mas bahagia"
Hanida merasa lega telah mengungkapkan semua uneg unegnya. akhirnya dia tertidur di pelukan suaminya