My Prince My Husband

My Prince My Husband
Find Job


Setelah Lani berangkat bekerja Hanida menghabiskan sarapannya. Setelah sarapan, mandi dan bebersih diri dia bingung mau ngapain.


sambil menunggu nanti sore,sebaiknya aku mencari lowongan pekerjaan, mungkin saja setelah nasib cintaku yang kandas, nasib hidupku berubah, fighting


Batin Hanida menyemangati dirinya sendiri


Dia scroll semua informasi di website dan mencoba menghubungi teman temannya yang masih dia simpan kontaknya.


Hampir jam 10.00 pagi tapi hasilnya nihil, tak satupun yang bisa memberikan informasi menyenangkan baginya.


Huft....


Hanida menghela napas dan meletakkan kepalanya ke meja kecilnya. Ya di kamarnya hanya ada meja kecil dan kursi yang kondisinya ya sedikit mengenaskan. Rambut Hanida yang tadinya rapi kini sudah acak acakan tidak karuan.


sebegitunya yaa cari kerjaan...


Tiba tiba ponsel Hanida berdering


Hanida mengangkat dengan mata terpejam dan kepala masih tergeletak di meja


"Hallo, Asaalamu'alaikum dengan Hanida disini..." Hanida menjawab dengan suara parau, lemas tak bertenaga.


"Waalaikumsalam. Heh, lagi ngapain kok lemas begitu ? ", Suara Lani yang cempreng menggelegar terdengar di seberang. Hanida segera menjauhkan speaker hpnya dari telinganya.


"Apa sih Lan, suara kamu kayak bledek taukk...putus asa ini aku dari pagi hubungi sana sini ga ada yang bisa bantu pekerjaan buatku. stress rasanya...",


"Ooo....kirain keracunan sarapanku," Lani cekikikan di seberang


"Dasar...kenapa ga diracunin beneran aja, biar ga ngrasain hidup seberat ini," dengan kesalnya Hanida menjawab leluconnya Lani.


"Hush, ngomong sembarangan. Eh, Han kebetulan deh ini aku kasih info ke kamu. Kata Pak Catur sebenarnya mau dibuka lowongan karyawan di Galeri Seni anak cabang perusahaan. Mumpung belum dibuka, tadi aku uda nego sama Pak Catur kalau cocok kamu bisa langsung kerja, jadi kalau bisa sekarang kamu ke perusahaan, pakai pakaian yang rapi dan dandan cantik," Lani menjelaskan panjang lebar dan Hanida hanya bisa melongo tidak percaya. Hanida membatin


Benar khan aku bilang Allah akan mempermudah hidupku setelah kesulitanku.


Semangat Hanida


Hanida segera bangkit dan mempersiapkan diri untuk pergi ke perusahaan Lani.


***


"Selamat Pagi Tuan Muda, akhirnya Anda bisa berkunjung ke perusahaan," Pak Rahmat memberikan salam hormat kepada kedatangan CEO Perusahaannya.


Laki laki yang disebut Tuan Muda tadi melenggang dengan wibawanya memasuki ruangannya. Semua karyawan tertunduk hormat kecuali yang kaum hawa sambil melirik wajah tampan CEOnya.


Bagaimana mereka tidak melirik, CEO itu setinggi 175 cm, Wajah asli Asia tetapi sangat Tampan, Rahang Kuat, dada atletis, hidung mancung dan kulit sebersih kapas melenggang di depan mereka mana mungkin mereka menyia nyiakannya. Balada kaum hawa


"Selamat Pagi Semuanya senang bertemu dengan kalian semua, mohon maaf baru bisa bergabung hari ini. Insya Allah saya akan disini terus, memantau perusahaan, karena perkuliahan saya di Bandung sudah selesai. Mohon bimbingan dan kerja samanya." CEO itu memberikan sambutan pertamanya. Semua mata memandang takjub khusunya kaum Hawa.


"Perkenalkan nama saya SATRIO ARYA KUSUMA, " CEO itu lupa memperkanlkan namanya selanjutnya ia membungkuk pada semuanya dan melanjutkan masuk ke ruangannya.


*Wah, kalau CEO nya tampan dan imut gitu mau sih tiap hari ditunggui


Andai aku dilamar CEO


Ingin aku jadi sekretaris pribadinya pak CEO agar*


Lani yang salah satu karyawan di perusahaan tersebut merasa jengah mendengar ocehan para cewek-cewek di sekitarnya.


"Humm, apa sebegitunya yaa...Iya sih ganteng tapi ga usa seheboh itu,"menepuk jidatnya sendiri.


"Lani...," tiba tiba ada yang memanggil namanya. Lani menoleh ke arah sumber suara dan dilihatnya sahabatnya datang. memakai setelan celana hitam, kemeja putih, blazer hitam, rambut dikucir rapi, sedikit polesan bedak dan lipstik tipis tipis.


"Oke, tidak mengecewakan. Ayo Hanida, ikuti aku."


Lani mengajak Hanida menemui Pak Catur di ruangannya.


"Selamat Pagi Pak Catur, ini Hanida yang aku ceritakan." Lani dan Hanida memberi salam kepad Pak Catur.


"Oh Iya, kamu manis sekali Hanida. sebenarnya dia lebih cocok jadi skretaris Tuan Muda daripada harus mengurus Galeri," seloroh Pak Catur membuka percakapan.


Hanida dan Lani hanya bisa meringis berdua,


"sepertinya Laki Laki ini mesum," batin Hanida.


"Tetapi karena sekretaris Tuan Muda sudah ada dan yang dibutuhkan adalah karyawan Galeri ya tidak masalah. setidaknya Tuan Muda akan terhibur denganmu ketika berkunjung ke galeri," Pak Catur manggut manggut memberikan penjelasan.


"Keputusannya bagaimana pak," Lani tak sabar mendengar keputusan Pak Catur yang menurutnya terlalu mbulet.


"Baiklah kamu diterima Hanida, serahkan semua berkas lamaranmu kepadaku. Dan kamu bisa mulai bekerja besok di galeri,"


Hanida tersenyum bahagia dan memeluk Lani dengan spontan. sampai lupa kalau dia masih di depan pak catur.


"maaf pak kebablasan, Terimakasih Pak Catur atas semua kebaikan Anda, saya tidak akan melupakan kebaikan Anda sampai kapan pun," Hanida menangkupkan kedua tangannya sebagai rasa terimakasihnya.


"Aku lihat kamu lumayan, kalau hanya mengurhs galeri tidak butuh keahlian khusus jadi tak ada salahnya menolong kamu. Semoga kamu kerasan dan bisa memberikan kemajuan Galeri agar semakin dikenal masyarakat luas. perlu kamu tahu Galeri ini anak cabang perusahaan ini, jadi segala sesuatunya tetap di bawah pengawasan saya. Dan juga jangan lupa Galeri ini juga milik Keluarga besar Kesulthanan hanya publik jarang tahu. Baiklah, selamat bergabung nanti kamu akan diberikan wawasan dan training dengan senior di sana. ", Pak Catur menjabat tangan Hanida.


Hanida dan Lani meninggalkan ruangan Pak Catur dan karena asyiknya Hanida ngobrol dengan Lani sampai tidak fokus pada jalan yang ada di depannya.


Bukk


"Aww....," Hanida meringis kesakitan. Karena menabrak sosok tinggi di depannya Hanida sampai jatuh dan bokongnya tepat menabrak lantai.


Hanida bahkan syok saat melihat siapa yang menabraknya.


"Kau ????? ",