
Hari ini Hanida betul-betul merasa capek, setelah makan malam yang membuatnya makin ragu dan tidak nyaman dengan pernikahan yang akan dia jalani. Apa yang akan terjadi dengan pernikahannya? Dia denan Kevin yang sudah saling mencintai dan pacaran lama saja gagal apalagi ini dengan orang yang baru dia kenal dan tidak ada rasa cinta sama sekali. Memikirkannya membuat Hanida makin tidak nafsu makan, apalagi keputusan sudah dia ambil tidak mungkin dia akan menarik kembali kata-katanya.
Hari ini Hanida harus kembali ke bandung soalnya besok rencana keluarga kesulthanan akan melamar Hanida. Hanida sengaja cuti dari kerja, sepertinya memang pernikahan ini akan menguras energinya. Karena secara dia sedang kekurangan energi positif yang mendukung semuanya berjalan dengan lancar.
Hanida segera berkemas dan bersiap siap pamit ke Ibu Kost, tapi tiba tiba pintu kamar sudah diketuk Ibu Kos
"Hanida, ada tamu, katanya mau jemput kamu?"
"Sebentar Bu, ini Hanida sudah bersiap"
Hanida membuka pintu kamarnya
"Memang kamu mau kemana nak?"
"Hanida, 2 hari ini mau pulang ke bandung Bu. Ada urusan penting, emang siapa yang jemput Bu?"
"Tuh di depan, Ibu juga tidak tahu, tapi bukan cowok semalm. Yang ini sedikit tua..hehe" Ibu kost terkekeh.
"ooh, baiklah aku lihat dulu ke depan"
Di depan sudah berdiri laki laki setengah baya, dengan balutan baju kerja khusus dari kesulthanan. Oh, Hanida baru ngeh pasti utusan kesulthanan.
"ada yang bisa dibantu pak?"
"Oh, nona Hanida saya Narto, saya disuruh den Satrio mengantar Nona ke bandung dengan selamat"
Hanida duduk di kursi penumpang dengan tenang, baru kali ini pulang ke Bandung di antar mobil pribadi. Hanida hanya bisa senyum senyum sendiri, sepertinya memang keputusannya menerima semua ini bukanlah keputusan yang salah.
"Aish, koc aku jadi matre begini sih," Hanida ngedumel di dalam hatinya.
Pak Narto yang melihat dari kaca spion hanya bingung dengan tingkah nonanya.
"Ada apa nona, apa nona butuh istirahat ke toilet atau mungkin butuh makan?"
"Ohh, tidak pak dilanjut saja perjalanannya. Saya hanya belum terbiasa saja bepergian naik mobil pribadi."
"Baik Nona, setelah ini kemana pun nona akan pergi pasti den satrio akan meminta saya mengantar Nona."
"Hmm, terimakasih Pak Narto, nanti kalau waktunya makan siang kita cari makan di rest area"
"Baik Nona"
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Hanida sampailah di depan rumahnya. Hari sudah menunjukkan gelap
Rasa pegal di seluruh tubuh Hanida seakan lenyap ketika dia melihat rumah dan orang yang dirindukannya sudah ada di depan mata. Rumah minimalis ukuran 7 x 10 meter, bercat abu abu dengan berbagai macam bunga hias di depan rumah milik sudah terbayang sejak sejam lalu di pelupuk mata Hanida. Dia teringat tanaman tanaman kesayangannya dan tentunya yang paling dia rindukan adalah Bapak dan Ibunya.
Sampailah Hanida dan Pak Narto di pelataran rumah Hanida, keadaan sepi para tetangga sudah beristirahat tenang di rumah masing-masing.
Tapi tunggu ada mobil Fortuner putih keluaran terbaru tampak nangkring di halaman rumah Hanida, tidak mungkin Bapak/Ibunya membeli mobil, Hanida geleng geleng kepala.
Hanida tidak mau berpikir pusing
"Pak Narto, istirahat di sini saja, besok baru dilanjutkan perjalanannya."
"Baik Nona, kalau begitu saya tidak jadi mencari hotel"
Hanida segera memasuki rumahnya
"Assalamu'alaikum.....Bunda"
"Waalaikumsalam..., dari dalam rumah terdengar suara serempak menjawab salam Hanida.
Hanida tiba-tiba terpaku melihat siapa yang duduk di ruang tamu rumahnya. Segera Hanida tersadar dari keterkejutannya melihat sosok tersebut
"Kevin...." Hanida berkata pelan seolah tercekat tenggorokannya.
"Ini mau ditaruh dimana Nona," Tiba-tiba Pak Narto masuk membuyarkan ketegangan yang terjadi.
" Eh iya sebentar Pak Narto, Ibu ini Pak Narto supir dari Kesulthanan, malam ini biar istirahat di kamar tamu dulu ya Bu."
"Ooh..kalau begitu Hanida juga ke kamar dulu ya Bu, mau bersih-bersih juga. " Hanida melenggang ke kamarnya tanpa memedulikan Kevin yang duduk di ruang tamu.
Hanida menarik nafas panjang setelah sampai di kamarnya. Mau apa lagi Kevin datang kemari, bukankah sudah jelas kita sudah tidak ada urusan lagi. tau ah....pusing ndiri. aku mau mandi nyegerin pikiran dulu
**************************************
Hanida selesai membersihkan diri dan segera keluar bertemu Ibu dan Bapaknya, dia sangat merindukan mereka. td belum sempat peluk peluk gara-gara ada si Kelvin.
Tetapi setelah sampai di ruang tamu ternyata Kevin masih berada di sana.
"Hanida..." panggil ibunya
"Kesini nak, kebetulan kamu pas pulang, nak Kevin mau ngomong sama kamu. kalau ngomong sendiri kan semuanya akan jelas, ibu tinggal dulu menyiapkan makan malam.
mau tidak mau Hanida harus menghadapinya, dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya mau Kevin sampaikan.
" Hanida, maafkan atas kesalahanku waktu itu. itu semua diluar kendaliku dan tidak ada pilihan lain" Hanida hanya diam dan juga tidak berusaha menjawab kata-kata Kelvin. sesak dada Hanida mengingat kejadian yang telah lalu.
" Sekarang Nenek sudah sehat dan merestui hubungan kita. bisakah aku kembali melamarmu Hanida, jujur aku masih sangat mencintaimu dan tidak bisa melupakanmu.
sekali lagi aku minta maaf, berikanlah kesempatan kedua padaku."
"Semua sudah terlambat Kevin dan tidak ada lagi kesempatan"
"Apa maksudmu Hanida, apakah kamu begitu kecewa dan membenciku?"
" Besok aku akan dilamar dan semua sudah direncanakan, tidak mungkin aku membatalkan semua hanya demi seseorang yang meninggalkanku di hari pernikahanku." air mata Hanida menetes tak terbendung, jujur dia memang masih menyanyangi Kevin, kenangan selama bertahun tahun dengannya tak mungkin mudah dia lupakan, tapi sakit hati ini jauh lebih kuat dan janji yang sudah dia buat dengan keluarga kesulthanan tak mungkin dia ingkari.
"Apa?? kamu akan menikah dengan orang lain?"
"Ya itulah takdirku" Hanida menjawab dengan tegas
"Apakah kau mencintainya Hanida? tidak mungkin secepat itu kau melupakanku"
"Kenyataannya memang aku bisa melupakanmu dengan cepat, dan untuk cinta itu bisa kita wujudkan setelah pernikahan"
"Jangan korbankan perasaanmu Hanida, aku janji tidak akan menyakitimu lagi"
"aku tidak mengorbankan apa pun Kevin, ini sudah keputusanku. aku harap kamu menghargainya, seperti aku menghargaimu saat kamu memutuskan secara sepihak di malam sebelum hari pernikahan kita."
"Maafkan aku Hanida, tapi...tidak adakah kesempatan lagi?"
"tidak ada Tuan Kevin, sampaikan salamku pada Nenek, maafkan aku jika selama ini ada salah. semoga kamu akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dari aku"
Hanida pergi ke dapur menyusul ibunya, meninggalkan Kevin yang termenung seolah olah dunia baru saja runtuh menimpanya.
Ini semua salahku, tak bisa aku memaksanya membatalkan pernikahan itu. semoga kamu bahagia Hanida
"Nak Kevin, ayo makan malamnya sudah siap." teriak ibu dari dapur
"Maaf Bu, speertinya Kevin tidak bisa ikut makan. tiba tiba ada urusan mendadak yang harus Kevin selesaikan. Kevin pamit dulu ya Bu..Assalamu'aalikum.
sesak dada Hanida melihat kepergian Kevin, tetapi mau bagaimana lagi. Dia tidak bisa bersama Kevin, dia tidak mau mempermalukan keluarganya untuk kedua kalinya.
sementara itu di kamar tamu ada sepasang telinga yang menguping pembicaraan Hanida dan Kevin.
" Den, sepertinya mantan kekasih Nona ingin kembali tetapi Nona menolaknya," Pak Narto berbisik menelpon seseorang.
"Terimakasih Infonya Pak, Bapak disitu dulu jaga Nona sampai nanti pernikahan kita laksanakan."
@@@@@@@@@@@@
Maaf ya baru Up
semoga kita selalu sehat
maaf banyaj typo