My Prince My Husband

My Prince My Husband
Jalan-jalan


Suasana pengantin baru benar-benar terasa di kamar pengantin ini, kedua pengantin masih terlelap di bawah selimut mereka padahal matahari sudah menerobos dinding kamar mereka.


Hanida menggeliat dan tergagap ketika dia tahu waktu sudah siang,dia belum subuh dan "Astaghfirullah....,"Hanida kaget ketika melihat tubuh polosnya tidak memakai baju sehelai pun demikian juga dengan suami di sampingnya. Mengingat kejadian semalam membuatnya tersipu malu, segera dia bangkit menuju kamar mandi, tetapi tiba tiba rasa nyeri di bagian intimnya membuatnya susah berjalan. Dia tertatih menuju kamar mandi dan menutupi tubuhnya dengan bajunya yang sudah tergeletak sembarangan di bawah ranjang.


Setelah mandi besar dan berganti pakaian Hanida membangunkan suaminya.


"Mas bangun, sudah siang"


"ehm,,," tiba tiba Satrio menarik tubuh Hanida, dan memeluknya.


"Mas, bangun dan mandi,lihat kamu masih junub"


"ahh. males....lagii yuukkk....nanggung biar mandinya sekalian"


"Ih, Mas Satrio mesum...Hanida uda mandi mas,masak harus mandi lagi,ga mau ah"


"Yah,cemen..."


Hanida segera bangkit dari pelukan Satrio dan berlari keluar kamar mau menyiapkan sarapan untuk Satrio. Di luar kamar Hanida memegang dadanya yang tiba tiba berdetak keras tidak karuan, segera dia berlalu menuju dapur khusus untuk keluarga pangeran sebelum dadanya semakin sakit.


Sampai di ruang makan ternyata sarapan sudah terhidang di meja makan, beberapa abdi atau dayang dayang kesulthanan sudah siap dan terlihat sibuk dengan tugas masing-masing.


"Selamat Pagi Doro Putri, sarapan sampun siap."sapa Bi minah Ketua abdi dalem khusus di kompleks pangeran putra mahkota.


"Ya Allah Bi,ini setiap hari selalu ada yang memasak,terus kapan Hanida bisa menyiapkan makan untuk pangeran"


"Itu sudah tugas saya tuan putri,ndak usah khawatir,kalau nanti kepengen masak kita akan menemani tuan putri",


"Baiklah, terimakasih Bi, saya akan memanggil pangeran untuk sarapan"


Akhirnya Hanida dan Pangeran makan bersama di ruang makan, tidak ada percakapan selama mereka makan. hanya ada bunyi dentingan piring dan sendok.


"Dek, hari ini kita jalan jalan yukk"


"jalan jalan kemana mas,mas ga capek?"


"nanti kita cari yang dekat saja, tapi tempatnya cari yang romantis"


"Hum..hum...terserah mas aja deh," wajah Hanida memerah,membuat Satrio makin gemas.


akhirnya keduanya bersiap siap untuk jalan jalan hari ini, pangeran mengajak Hanida naik motor saja, karena tempatnya dekat dan lebih cepat kalau pakai motor. Keduanya berboncengan menikmati udara yang masih sejuk karena masih terhitung belum begitu terik.


sampailah mereka pada daerah persawahan dan pedesaan yang masih asri, Satrio terus menyusuri jalan desa dan motor mereka berhentikan di gubuk yang ada di tengah sawah.


'turun"


"turun, jalan jalannya disini mas"


"Iya dek, ga suka?


"Suka koc, udaranya sejuk, koc para petani tampak menunduk sama mas pas mas lewat depan mereka."


"Iya mereka perkerja di swah ini, sawah ini milikku, beberapa keuntungan perusahaan di bandung aku belikan sawah, nanti kalau bosen di kota rencananya aku mau mengelola sawah ini sambil mengurus kesulthanan. "


"Apa mas ada rencana kembali ke bandung mengurus perusahaaan mas?"


"Iya,aku masih diberikan waktu sama kanjeng mami selama beberapa tahun untuk bisa keluar dari kesulthanan, tetapi dengan syarat setiap minggu kita berkunjung ke kesulthanan dan kamu tetap belajar tentang aturan kesulthanan"


"ajari aku ya mas, "


"Tentu "


"ini den, ada singkong bakar dan jadah goreng, silahkan dinikmati bersama Doro Putri, Bibi kembali ke swah lagi ya den"


"Terimakasih Ya Bi"


Wanita tersebut kembali lagi ke sawah.


"siapa nama Ibu tadi mas?"


"Oh, itu tadi namanya Bi Aminah, dia yang mas tugasi memantau kinerja para pekerja dan juga yang ngurus hasil panen"


"Mas,ga pernah mencoba turun ke sawah"


"Engga ah, biarkan sawah ini mereka yang ngurus, biar menjadi pendapatan mereka seumur hidup mereka."


"Mas, baek bangets"


Satrio mengusap dan mengacak acak rambut Hanida, hingga rambut Hanida menjadi tak beraturan.


"Mas ..."


"Hehehe...makasih sayang atas tadi malam?"Satrio mengerling nakal sama Hanida


"Ish..jangan dibahas disini nanti ada yang dengar malu aku mas"


Lagi lagi sikap hanida membuat Satrio ingin terus tertawa.


"Mas Satrio..,."tiba-tiba ada suara wanita memanggil Satrio.


"Re ngganis?" seru satrio dan Satrio melirik ke arah Hanida,takut istrinya cemburu.


"Koc kalian berdua disini sih? Pengantin baru harusnya honeymoon,koc malah maen ke swah?"Rengganis menampilkan senyum hambarnya ke kedua pengantin baru ini


"Aku suka koc disini,sejuk dan nyaman rasanya," Hanida menjawab celotehan Rengganis


"Iya maaf, kebetulan aku tadi jalan jalan kesini bernostalgia waktu aku masih kecil bersama mas Satrio, Mas Satrio masih ingat kan, kita sering bermain di daerah ini dan mencari kerang bersama sama, kalau mengingatnya asyiik ya mas",


"Iya Nis, aku masih ingat,"Satrio bingung harus menjawab apa,dia melirik ke arah istrinya lagi, tampak Hanida memalingkan mukanya dan berpura pura seolah tidak terjadi apa apa.


"Mas Satrio, dulu waktu aku SMP waktu kena marah bapak kita juga bertemu di gubuk ini, mas Satrio yang menenagkanku sampai aku tertidur dinpangkuan Mas Satrio,"Rengganis bercerita seolah olah dia melupakan ada Hanida di antara mereka.


"Ii...i..ya Nis, aku juga ingat", kembali Satrio melirik ke arah Hanida,Hanida tampak tidak memperhatikan mereka,Hanida lebih asyik mengamati sawah yang terhampar luas.


"apa yang sedang dipikirkan Hanida sih,koc dia ga cemburu lihat rengganis deketin aku,"


hati satrio jadi tidak enak dengan Hanida


teruskan saja nostalgiamu mas,aku ga peduli. aku ga apa apa,jadi kamu beli swah ini karena masa lalumu dengan rengganis,kamu tak mau kehilangan kenangan itu. ah,mas Satrio bagaimana kamu bisa melupakannya kalau kamu terus menjaga setiap kenangan darinya


hati Hanida pun bergemuruh, berbicara sendiri di dalam hatinya .Jujur tidak tahu kenapa Hanida merasa sakit mendengar celotehan rengganis,


kenapa sih mas,kamu ga nikahin rengganis aja bukan menikahiku sehingga membuatku jadi seperti ini. ahhh...semua sudah terlanjur


"ayok kita pukang Nid,sepertinya kamu sudah capek,rengganis kita pulang duluan ya"Satrio segera mengajak berlalu Hanida dari tempat itu sebelum rengganis mengatakan yang lebih banyak lagi, dia tahu rengganis hanya ingin memanas manasin Hanida


"Ya sudahlah kalau begitu,padahal aku masih ingin ngobrol banyak sama Mas Satrio. Kapan kapan kita ketemu lagi ya mas, hati hati kalian," Rengganis memandang kepergian dua sejoli itu dengan tatapan iri dan penuh kebencian,


Awas kamu Hanida,aku akan merebut Satrio dari kamu, harusnya aku yang berada di sisi Satrio,kita saling mencintai.