
Hanida sudah lebih dari 10 menit berputar putar tidak jelas di dalam kamarnya setelah melaksanakan shalat Isya', kebetulan memang Satrio shalatnya di mushola sama Bapak sehingga dia bisa merasa agak longgar sedikit berada di kamarnya.
Hanida berjalan kemari, berputar, sambil memikirkan bagaimana caranya dia menghadapi malam ini bersama Satrio di kamar ini,
"Jika dia memintanya haruskah aku memberikannya,aahhh,aku kan istrinya sudah sewajarnya begitu, tetapi....kita tidak saling mencintai bagaimana bisa hal ini kita lakukan", hati Hanida berperang sendiri memikiirkan malam pertamanya.
"Aaaaa.....", Tiba-tiba Hanida menjerit melihat Satrio yang tiba -tiba sudah berdiri di depannya,tanpa tahu kapan Satrio masuk. (Ya iyalah dari tadi Hanida Asyiik melamun sendiri)
"Hai ada apa? Apa terjadi sesuatu?,"tanya Satrio keheranan melihat tingkah Hanida.
"Ti...tidak ada apa2, aku hanya kaget saja melihatmu tiba tiba muncul di depanku," terlihat Hanida nampak gugup.
Satrio hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat sikap lucu Hanida.
Satrio berlalu meninggalkan Hanida berganti baju koko dengan kaos santai, dan melepas sarungnya dengan celana boxer.
Hanida tercengang melihat penampilan Satrio yang santai, melihatnya Hanida tak berkedip dan kegugupan mulai menghinggapi perasaan Hanida.
Hanida segera berlalu dari kamar dengan alasan mau mengisi botol air minum.
Lama Hanida mengisi botol air minumnya, hampir 10 menit dia di dapur, bukan hanya mengisi air minum tetapi dia lebih banyak melamun dan gugup dengan sendirinya.
"Nida,kamu ngapain di dapur lama banget?", Teriak ibu dari ruang tengah, kebetulan ibu sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Eh,ini bu ambil air minum,iya ini Hanida uda selesai mau kembali ke kamar lagi,"
"Ambil air minum kok lama bangets,kamu itu gimana ini malam pertama kamu sama suami kamu jangan ditinggalin lama lama suaminya,ayo sana segera dilayani suaminya",
"Ih, ibu apaan sih," wajah Hanida memerah dan segera berlalu kembali ke dalam kamarnya.
Hanida kembali ke kamarnya, tampak Satrio sudah bersantai duduk di atas ranjang sambil membaca buku.
"Darimana Nida,koc lama banget?"
"Oh,tadi ambil minum,ketemu ibu ngobrol sebentar"
"Sini,duduk di dekat Mas,"Satrio menepuk ranjang di sampingnya
Hanida malu malu duduk di samping satrio,deg..deg....irama jantung Hanida sudah tidak bisa terkontrol. Hanida hanya bisa menunduk dan tidak berani menatap wajah Satrio.
"Tidur yuuk, mas capek, bisa minta tolong pijitin punggung mas, rasanya pegal ga hilang,"
"Baik Mas,"
Hanida segera memijat pelan punggung Satrio, dia hanya bisa berharap semoga setelah dia pijit Satrio segera tertidur.
Tetapi bukannya tidur, Satrio malah tiba tiba berbalik dan memandangi Hanida yang sedang kaget dan terlihat malu malu tidak berani memandang ke arah Satrio,
"Hei,kamu kenapa??"
"Ga apa apa,kenapa mas satrio tiba tiba bangun, ga jadi dipijat?"
"Humn, pijatanmu menggodaku,hem" Satrio mencoba merayu Hanida. wajah Hanida semakin merah, hal itu membuat Satrio semakin gemas, ingin mengecup pipi merah Hanida.
cupp,,,,tiba tiba satrio mencium dengan cepat pipi Hanida yang kemerahan.
Hanida hanya bisa melotot kaget mendapat kecupan tiba tiba dari Satrio.
"Kenapa dek, kita sudah syah ga apa apa kan mas mengecup pipimu yang menggemaskan,"
Hanida mengangguk dengan wajah semakin memerah.
Haredang, Satrio malah merengkuh bahu Hanida.
"sini tidur,aku peluk,ga apa apa kan begini, tenang Hanida aku ga akan meminta hakku sebelum kita saling mencintai dan memberikan semuanya secara tulus dan ikhlas"
"Iya mas, Hanida mengerti, terimakasih ya mas"
Pelukan Satrio benar benar membuat Hanida merasa nyaman, dada bidang Satrio seakan memberikan rasa nyaman dan aman untuk Hanida, kehangatan itu membuat Hanida yang sudah capek seharian terlelap dengan cepat.
Satrio memandangi wajah Hanida yang sudah tertidur pulas, wajah imut Hanida saat tidur membuat Satrio tersenyum senyum diri.
satrio mengecup lama kening Hanida, kemudian beralih ke mata Hanida, Selanjutnya ke pipi Hanida dan Terakhir ke bibir Hanida. Tetapi Hanida bukannya terbangun, malah semakin mengeratkan pelukan ke Satrio dan semakin pulas tidurnya.
Satrio semakin terkekeh melihat tingkah Hanida.
"Dasar, kalau tidur seperti mayat hidup, gimana kalau ada maling masuk ke kamar,kamu pasti ga akan tahu"
Satrio mempererat pelukannya dengan Hanida, sebenarnya Junior di bawah sudah memberontak dari tadi, ingin segera merengkuh dan menikmati tubuh wanita cantik di pelukannya, tetapi dia teringat dia harus melakukannya kalau Hanida sudah mencintainya. Satrio tahu Hanida masih terbawa oleh masa lalunya, masih tersisa cinta untuk laki laki di masa lalunya.
"Semoga kamu bisa mencintaiku Hanida, aku pun memang belum sepenuhnya mencintaimu, tetapi sepertinya aku mulai menyukaimu,"
setelah mengecup kening Hanida sekali lagi, Satrio akhirnya ikut terlelap sambil memeluk hangat Istri yang baru dinikahinya.
Sementara Itu
London
"argh.,..Hanida sekarang kamu telah menjadi istri orang lain, Sakit hati ini," Kevin meneguk minuman itu kembali, Kevin yang merasa putus asa dengan cintanya kini melampiaskan semuanya pada minum minuman di hadapannya. padahal sejak ikut neneknya dan mengenal Hanida barang haram itu tidak pernah dia sentuh sama sekali. Sejak kembali ke London yang Kevin lakukan kalau siang dia menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor papanya, sepulang kerja dia langsung hang out dengan teman temannya di club langganan mereka, hampir setiap malam dia seperti itu.
"Kevin, sudahlah minumnya, ayo kita pulang, melihatmu setiap malam seperti ini membuatku tak tega melihatnya, ayolah move on masih banyak cewek cewek cantik yang siap kamu nikahi." Si Remon teman Kevin yang asli dari Indonesia menenangkan sahabatnya yang setiap hari selalu mabok.
"hah, hanya Hanida yang aku cinta dan sayang mon, ini semua salahku, salahku," Kevin sudah teler dan sudah tidak sadar lagi.
Remom segera mengangkat tubuh sahabatnya dan membawanya pulang ke apartemen Kevin, tidak mungkin dia akan membawa pulang Kevin ke kediaman orang tuanya, Remon malas ditanya macam-macam oleh kedua orang tua Kevin.
"Hanida,kamu milikku kamu milikku aku akan merebut kamu dari suamimu, tunggu aku sampai aku punya kuasa melakukan semua itu" Kevin meracau tidak jelas sepanjang perjalanan pulang hingga akhirnya tertidur di mobil.
Remon yang melihat sahabatnya seperti itu benar benar sedih.
"aku tidak pernah tahu seperti apa Hanida Vin, hingga dia bisa membuatmu seperti itu, bagaimana bisa seorang Kevin harus menjadi seperti ini,aku harus bisa membuat Kevin sadar kembali siapa dia,"
Remon segera melajukan mobil Kevin ke arah apartemen Kevin.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊππππππ
Maafin author ya Satrio,Malam Pertama Cuma Pelukan Doangπππ
πππππ
Happy Reading
Jangan Lupa Vote dan Comenntnya yaa...Thank Youπππ