
"Kau ???," Devika seketika melotot dan gugup saat tahu siapa yang ditabraknya.
Lelaki itu juga sedikit kaget, tapi segera dia tutupi dengan senyum smirknya.
"Aduhh Hanida, mohon maaf Bapak teman saya tidak sengaja menabrak Anda. Saya minta maaf atas nama teman saya," Lani segera meminta maaf, karena dia tidak mau mempertaruhkan pekerjaannya hanya gara gara temannya menabrak Satrio,CEO barunya.
"Oh, tidak masalah. Apa kalian karyawan disini ??, " Satrio bertanya sambil membersihkan bajunya padahal tidak kotor sama sekali. sedangkan Hanida sejak tadi masih meringis di bawah kaki Satrio.
"Mohon maaf sekali lagi Pak Satrio, saya Lani Bagian keuangan sedangkan ini teman saya Hanida karyawan Galeri Seni, kami baru saja menemui Pak Catur," sambil kedip kedip ke Hanida
"Ayo cepat minta maaf sama Pak Satrio," bisik Lani pada Hanida sambil membantu Hanida berdiri.
Hanida sebenarnya sedikit ogah harus minta maaf harusnya ini salah CEO itu, eh pemuda Bus itu. Hanida ingat betul pemuda di bus itu adalah orang yang baru saja menabraknya. Tapi mengingat dia baru saja mulai bekerja mau tidak mau dia harus nurut sama Lani
"Maafkan saya Pak, " Hanida menunduk dan tidak berani melihat wajah CEO itu, dia takut CEOnya benar benar mengingatnya, apalagi kalau dia ingat kalau dia ngiler di pundak CEO itu. Ish, malunya. Ingin Hanida segera kabur saja dari tempat ini.
" Oke, tak ada yang perlu dimaafkan. Kenalkan namaku Satrio, kita belum kenalan waktu itu,"
"Ya Allah tu kan...dia ingat...bagaimana ini ?, Hanida gelisah di dalam hatinya.
Lani yang melihat situasi itu langsung mengeryit dan sedikit bingung.
"Iya Pak, saya Hanida. Sekali mohon maaf Bapak," Hanida meminta maaf sekali lagi hanya untuk menghindarkan pertanyaan selanjutnya atau laki laki itu berkata yang lainnya.
"Tuan Muda, Anda sudah sampai sini," Pak Catur datang mencairkan suasana tegang di hati Hanida.
"Oh iya Pak saya baru saja datang, "
"Baiklah mari segera masuk Tuan, kita bicarakan di dalam,"
Akhirnya Satrio meninggalkan Hanida dan Lani menuju ruangan Pak Catur. Sambil berlalu Satrio mellirik ke arah Hanida, di hati Satrio Hanida terlihat lucu sejak tadi tidak berani melihat wajahnya.
"Huft, Alhamdulillah Lega.....," Hanida menghembuskan napas panjangnya. melanjutkan perjalanan mereka tadi.
Setelah agak jauh dari ruangan Pak Catur, Lani segera memberondong Hanida dengan pertanyaan keponya.
"Hanida ceritakan padaku, kamu mengenal CEO ? "
"Tidak,, kamu lihat tadi dia baru memperkenalkan diri," Hanida menjawab dengan jutek
"Apa kalian pernah bertemu ? "
"Dimana dan kapan ?, "
"Ada wartawan yang sensus pagi ini, ketemu di bus saat perjalanan ke jogja kemaren,"
"apa ?? di bus ?? tunggu tunggu, mana mungkin CEO naik bus ?? " Lani menautkan kedua alisnya.
"Ya kalau ga percaya ya sudah ga usah dipercaya gitu aja repot,"
"Ih, Hanida aku kepooo.....mungkin aja nasib kamu akan mujur. Ditinggal calon suami gagal nikah, tapi ketemu laki laki kaya raya tajir melintir..So, sweet Hanida....," sambil membayangkan dan mata menerawang.
plak...
"Sakit Hanida.....!!!! " sambil memijat mijat kepalanya.
"Jangan berkhayal yang aneh aneh,"
"Aku pulang dulu deh Lan, urusanku sudah selesai. silahkan dilanjutkan pekerjaannya. Bye zeyenk...," Hanida ngeloyor keluar ruangan Lani
"Ih diajak ngobrol seru malah kabur. Dasar...," Lani melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
************
" Bagaimana Tuan Muda, Kanjeng Ratu tadi menghubungi saya. Nanti malam ditunggu makan malam di kesulthanan, saya harap pangeran mau menghadiri jamuan makan malam kali ini. Ibunda ratu sangat merindukan pangeran," Pak Catur menyampaikan pesan Ibunda Ratu kepada Satrio.
"Humm baiklah Pak Catur, sejak kembali kemaren memang saya belum berkunjung ke kesulthanan. Saya langsung menuju apartemen saya. Bagaimana kabar Ibunda dan ayahanda ?? "
"Mereka sehat semua tuan, hanya saja sepertinya mereka sangat menginginkan. hem... kehadiran cucu di tengah tengah mereka," Pak Catur menyampaikan pesan tersirat dari keluarga kesulthanan, Satrio diharapkan segera menikah.
"Kenapa buru buru Pak Catur, bukankah masa jabatan ayah masih sangat lama. Dan tentu saya masih diberi kesempatan untuk mengurus segala sesuatu di luar kesulthanan, contohnya mengurus perusahaan ini," Satrio mencoba melakukan pembelaan untuk dirinya, jujur dia sangat tidak betah kalau harus tinggal di kesulthanan.
Ya, Satrio adalah pangeran pertama keturunanan Kesulthanan Jogajakarta yang saat ini menjabat. Hidup di kesulthanan sejak kecil tentu membuat dia paham bagaimana aturan yang harus dia jaga selama menjadi pangeran. Beruntunglah dia diizinkan kuliah di bandung sambil mengurus perusahaan keluarga dan sejak itulah dia sedikit mendapat hawa segar bisa keluar dari kesulthanan. Bahkan tidak jarang dia memakai transportasi umum sambil menutupi identitas aslinya, dengan memakai topi atau kacamata hitam. Ya semata mata dia ingin melihat dunia luar.
"Maaf Tuan Muda, tapi sepertinya nanti malam Anda harus menerima hasil rapat keluarga kesulthanan. Kesulthanan membutuhkan campur tangan Anda," Pak Catur memberikan penekanan terhadap kata katanya
"Memangnya ada masalah apa di kesultanan ? ", Satrio baru saja sadar dengan kata kata Pak Catur
"Nanti malam Anda akan tahu Pangeran, sebaiknya Anda segera memikirkan untuk kembali tinggal di istana."
"Ah...ada apa lagi ini," Satrio memijat dahinya, "baru 4 tahun terbebas sekarang harus kembali lagi," Batin Satrio