XELYNE (My Destiny)

XELYNE (My Destiny)
Kebenaran


.


.


.


Di bawah sinar rembulan, seorang gadis termenung didalam kamar yang luas dengan bayangan masalalu yang selalu menghantuinya siang dan malam.


Krekk..


Terdengar suara pintu terdengar di telinganya, Ia menatap sosok perempuan masuk menghampirinya.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Christyn menutup kembali pintu kamar dan menghampirinya.


"Keluar! Aku tak ingin bertemu dengan siapapun!" Bentak gadis itu.


"Kamu belum makan sejak kemarin, tubuhmu bisa lemah lagi.." Ucap Christyn mencoba membujuk.


"Apa kamu tidak mendengar perintahku?! Aku bilang keluar! Aku tak ingin bertemu dengan siapapun! semua jahat padaku!" Jelasnya dengan nada tinggi.


Christyn duduk dipinggir ranjang, ia meraih tangan sang gadis dan menggenggamnya. "Tatap aku dan dengarkan aku.." Ucapnya membelai wajah sang gadis. "Aku tau kamu pasti tak percaya kalau kecelakaan yang menimpa ayahmu bukan sebuah ketidak sengajaan melainkan kesengajaan yang telah direncanakan.. dan aku minta maaf untuk hal itu, karena aku sudah berbohong kepadamu.." Jelas Bryan menatap dalam mata sang gadis.


"Kenapa kamu melakukan itu padaku?! Kenapa kamu menutupi semua kebenaran itu! dan apa lagi yang kamu sembunyikan kepadaku?! kamu dan bryan merencanakan semuanya dan kalian juga tau semuanya.." Ucap sang gadis dan seketika tangisannya pecah. "Seharusnya kamu biarkan aku mati saja saat itu.. aku bahkan membenci diriku sendiri! kenapa takdir tak pernah berpihak kepadaku.. sejak kecil aku tak merasakan kebahagiaan, aku tersiksa karena semua ini, sampai kapan ini berakhir.." Jeritnya dalam pelukan Christyn. Ia meluapkan semua yang ia rasakan kepada Christyn.


Christyn memeluk paksa tubuh gadis itu, dan membiarkan ia meluapkan kemarahannya padanya. "Maafkan kami, disini akulah yang salah, dan aku akan memperbaikinya.. kumohon jangan membenci dan menyalahkan kami.." Ucap Christyn .


Gadis itu mendorong tubuh Christyn dan menjauhkan diri dari Christyn. "Bagaimana kalian memperbaikinya?! Hidupku sudah hancur dan harga diriku sudah hilang, tapi kalian baru ingin memperbaikinya?!" Bentak Gadis itu.


"Hidupmu belum hancur, tetapi baru dimulai.." Ucap Bryan masuk kedalam kamar itu. "Kyra Azzahrani sudah mati, tetapi nona Xelyne baru saja memasuki cerita hidupnya.." Lanjutnya membuat kedua gadis itu kaget.


"Apa maksudmu?!" Ucap gadis itu secara bersamaan.


"Xelyne?! Maksudmu dia pewaris keluarga Valendra yang hilang itu?!" Ucap Christyn merasa tak percaya.


"Nona muda Lyne kenapa diam dan berpura-pura kaget?" Tanya Bryan bertany balik kepada gadis itu.


"Ra, jelaskan padaku?! kamu berbohong padaku?!" Tanya Christyn.


"Bagaimana kamu bisa tahu tentang identitasku?" Tanya Gadis itu sambil menunduk.


"Itu tidak penting, yang lebih penting kau harus menjelaskan semuanya terlebih dulu.." Ucap Bryan duduk tegap di sofa.


Gadis itu berdiri dan menghapus air matanya. Ia merasa sudah cukup untuk drama yang ia buat, dan semua kebohongan yang sudah ia rencanakan sudah terungkap.


Gadis itu berjalan ke arah Christyn dan menggenggam tangan Christyn. "Maafkan aku.. aku berhutang kebohongan padamu.." Ucap gadis itu.


"Kenapa kamu melakukan ini?!" Tanya Christyn. "Kamu berbohong dan merelakan dirimu untuk dilukai banyak orang padahal kamu memiliki kekuasaan diatas mereka.." Lanjut Christyn. Ia memiliki banya pertanyaan yang tersusun dikepalanya.


"Takdir tak selalu berpihak kepadaku, aku lebih memilih untuk diam daripada aku harus melawan dan malah membuat semuanya hancur, meski aku menghancurkannya dengan perlahan dengan kebohonganku.." Jelas Gadis itu.


Sebuah pohon yang terlihat rapuh dari luar ternyata ia adalah pohon yang paling kuat untuk menghadapi sebuah bandai besar yang menghadangnya.


"Tapi kamu sangat menderita selama ini.." Ucap Christyn.


"Aku sudah terbiasa.." Ucap Xelyne lalu berdiri. "Terimakasih sudah menghawatirkanku dan menolongku, sepertinya aku berhutang banyak kepada kalian.." Lanjut Xelyne.


"Kamu mau kemana? Apa yang kamu bicarakan?" Ucap Christyn.


"Sepertinya Nona muda Lendra sudah kembali, bagaimana cara kami menyambut anda..?" Ucap Bryan.


"Terimakasih untuk sambutannya, selamat anda berhasil merusak naskah yang sudah saya susun sendari lama.." Ucap Xelyne.


"Kamu akan pergi?" Tanya Christyne.


"Ya.. aku akan kembali dan sudah seharusnya aku kembali.." Jawab Xelyne.


"Tidak! Kau tak boleh pergi" Ucap Christyn menahan tangan Xelyne.


"Apa aku ditahan?"


"Ya! Kamu ditahan sampai malam berlalu, karena kamu harus menjelaskan semuanya kepadaku!" Ucap Christyn.


"Sudah malam, istirahatlah.. besok aku akan mengantarkan mu.." Ucap Bryan lalu keluar dari ruangan.


"Baiklah.. terimakasih.." Ucap Xelyne. "Kamu ingin tidur denganku malam ini, Kak?" Tanya Xelyne pada Christyn.


"Kamu memanggilku kak?"


"Ya.. seterusnya kamu akan menjadi kakakku.." Jawab Xelyne.


"Adikku yang pintar.. dengan senang hati.." Ucap Christyn.


* Keesokan Harinya..


"Kemana tujuanmu sekarang?" Tanya Bryan sambil fokus mengendarai mobil.


"Kembali ke kediamanku, sudah lama aku tak berkunjung" Ucap Xelyne kepada Bryan.


"Apa kamu tak apa? Kalau tidak kamu tinggallah ditempatku untuk beberapa waktu.." Ucap Bryan, mengingat tempat tinggal Valendra pernah terjadi kejadian yang sangat tragis.


"Aku baik-baik saja, terimakasih untuk tawaranmu.. tapi sebaiknya aku kembali kerumah dan tak ada alasan bagiku untuk tinggal ditempat anda.." Jelas Xelyne sambil sedikit terkekeh mendengar tawaran Bryan.


"Baiklah.. kita sudah sampai, jaga dirimu baik-baik.." Ucap Bryan.


"Terimakasih, saya permisi.." Ucap Xelyne sebelum keluar dari mobil Bryan dan berjalan masuk kedalam halaman rumahnya. Dan tak lama setelah kepergian Xelyne, Bryan meninggalkan tempat.