
Suasana di Kediaman William sangat riuh, semua orang tampak panik. Anna sang Ibunda Christyn yang mengetahui Putrinya diculik sangat cemas, perasaannya tak tenang.
"Bagaimana bisa kamu lalai Joe?!" Tanya Bryan sangat marah kepada Asistennya.
"Maaf, tadi nona Christyn benar-benar berada dalam pengawasan saya" Jawab Joe sambil menundukkan kepala, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Bagaimana bisa!" Ucap Bryan frustasi. "Apa kamu sudah menghubungi hpnya?" Tanya Bryan kepada Xelyne yang masih mencoba menghubungi Christyn
"Sudah, tapi tidak ada jawaban" Jawab Xelyne.
"Kerahkan lebih banyak orang untuk mencari Christyn dan telusuri kesegala penjuru kota!" Perintah Bryan. "Coba hubungi Richard" Pinta nya pada Xelyne.
"Baik." Xelyne beralih mencari kontak Richard di hpnya, namun tak lama Richard datang. "Itu dia" Ucap Xelyne menunjuk Richard, "Baru saja ingin ku telfon" Ucap Xelyne pada Richard.
"Barangku masih ada ditangan Christyn" Ucap Richard. "Pinjamkan aku laptop, aku akan mencoba melacaknya" Lanjutnya. Saat menelusuri jalan untuk mencari Christyn, ia ingat bahwa barangnya masih ada di Christyn, termasuk kalung kesayangannya yang sudah terpasang alat pelacak.
"Ini" Ucap Xelyne yang dengan cepat mengambil laptop dan langsung memberikannya pada Richard.
Richard dengan cepat langsung menyalakan laptopnya, jari tangannya menari diatas nya, ia berusaha menghubungkan alat pelacaknya ke lapto tersebut. "Joe, apa Christyn membawa kalungku?" Tanya Richard yang masih fokus.
"Ya, tadi saya lihat nona Christyn memakai sebuah kalung dilehernya, saya tidak tahu apa itu kalung anda atau bukan" Jawab Joe.
"Itu pasti kalungmu, setauku Christyn tak pernah memakai perhiasan di tubuhnya" Sambung Xelyne.
"Untuk apa kamu menanyakan hal itu! Apa Christyn tak lebih berharga dari kalungmu!" Ucap Bryan yang salahpaham.
"Diam! fokuslah pada anak buahmu, apa sudah ada hasil atau tidak" Ucap Xelyne. "Aku akan menemani Ibumu.." Ucap Christyn lalu masuk ke dalam rumah, dan menghampiri Anna yang mondar mandir seperti setrika.
Tak lama Richard memainkan laptop didepannya, senyum tipis terukir diwajahnya, "Ketemu!" Ucapnya membuat Bryan melihat kearah layar laptop.
"Dimana itu?" Tanya Bryan.
"Daerah dekat pelabuhan" Jawab Richard mengambil kunci mobil Xelyne. "Tutuplah semua akses keluar dari kota maupun negara K sekarang, aku akan menyusul ke sana, terus pantau pergerakannya.." Jelas Richard sebelum pergi.
Disisi lain..
"Ugh.. apa yang terjadi? kenapa aku bisa ada disini?" Lirihnya sambil mencoba memperjelas pandangannya.
"Nona keluarga William sudah bangun ternyata" Ucap seorang lelaku berbadan kekar penuh tato.
"Siapa kamu? Apa maumu!" Tanya Christyn ketus.
"Anda tidak perlu tau siapa saya, dan mau saya? saya hanya diperintahkan untuk menangkap anda" Ucap lelaki bertato itu.
"Siapa yang menyuruhmu? cepat katakan! Dibayar berapa kamu dan anak buahmu?" Tanya nya lagi.
"Apa kabar, nona Christyan?" Sapa seorang wanita datang menghampiri Christyn.
"Vani!"
"Kenapa kaget begitu?" Tanya Vani.
"Apa maumu?" Tanya Christyn.
"Aku hanya memiliki sedikit dendam dengan Bryan, aku pikir dengan menculikmu aku dapat memanfaatkannya" Jawa Vani berjalan mengitari Christyn. "Kamu terlalu berharga untuk keluargamu, itu akan sangat menguntungkan bagiku" Lanjutnya.
"Ck. Apa kamu yakin rencanamu ini akan berhasil?" Ucap Christyn dengan nada mengejek.
"Apa kamu meragukanku rencanaku? Tentu, karena aku sudah menghubunginya dan sebentar lagi ia datang" Ucap Vani.
Terdengar suara mobil dari arah luar, membuat Vani tersenyum kemenangan, tetapi berbeda dengan Christyn, ia malah tersenyum kecut.
"Dengar? Dia datang" Ucap Vani bangga. "Bawa dia!" Perintah Vani kepada lelaki bertato suruhannya.
Vani keluar dengan lenggak lenggoknya menemui Bryan yang datang bersama Joe yang membawa koper. Ia tak merasakan apapun.
"Saya sudah datang membawa uang yang anda minta dan akan menanda tangani kontrak yang anda buat" Ucap Bryan. "Tapi serahkan Christyn terlebih dahulu pada saya!"