
"Oh tentu tidak boleh seperti itu.. Saya ingin anda menandatanganinya terlebih dahulu" Ucap Vani menyerahkan selembar kertas kepada Bryan dan Pulpen. Terlihat Christyn
Bryan mengambilnya, ia membacanya dengan keras. "Menyetujui kontrak yang sempat dibatalkan, Memutuskan hubungan dengan pacarku, Menikah dengan anda" Bacanya mengambil point-point yang tertulis. "Saya akan menandatanganinya, tapi sepertinya masih ada yang perlu dibicarakan" Ucapnya.
"Katakan.."
"Pertama, ia bukan kekasih saya melainkan TU.NA.NGAN .." Ucap Bryan menekan kata tunangan membuat Vani kaget. "Kedua, Kontrak yang sempat dibatalkan sudah tidak berlaku lagi bagi saya, Ketiga membuat status dengan cara seperti ini sangat saya benci dan Anda buka selera saya" Jelas Bryan lalu mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkan ke arah Vani.
"Ck. Anda menolaknya dan mengancam saya? Apa tidak menginginkan Kakak anda lagi?" Ucap Vani. Terlihat pisau mengarah leher Christyn.
"Kamu terlalu bodoh! Rencanamu ini sangat rendahan, aku tak takut dengan pisau yang mengarah dileherku, yang ku takuti takdirmu sekarang" Teriak Christyn dengan memincingkan senyum kearah Vani.
"Diam atau Pisau ini akan menyakiti lehermu!" Ucap Lelaki yang menahan Christyn.
"Kalau aku tak mendapatkan itu, serahkan uang yang kau bawa dan puaskan aku, itu akan membuat Kakakmu jauh lebih aman" Ucap Vani.
"Tubuhku terlalu mahal untuk wanita rendahan sepertimu" Jawab Bryan merasa jijik dengan Vani.
"Apa kau bilang?! Bunuh Dia sekarang" Bentak Vani merasa tak percaya apa yang dikatakan Bryan.
Dorr !
Suara tembakan terdengar menggema di dalam ruangan itu, membuat Vani kaget. Pisau yang akan melukai leher Christyn jauh ketanah, kepala pria tersebut mengeluarkan darah, dan seketika tumbang. Terlihatlah dari belakang pria tersebut seorang pria yang berdiri tegap, tubuhnya terkena percikan darah segar dari pria tadi dan pistol ditangannya yang barusaja ia gunakan.
"Tuan Richard!" Pekik Vani merasa tak percaya.
"Kenapa anda terlihat kaget?" Tanya Bryan melihat ketidak percayaan Vani.
"Ck. lebih dari yang ku duga, ternyata wanita itu memiliki nilai yang tinggi" Ucap Vani.
"Saya tak segan-segan membunuh anda juga jika anda berani merendahkannya lagi" Ucap Richard menaruh kembali pistolnya di sakunya. Ia mendekati Christyn, seketika tubuh Christyn lemas dan hampir jatuh ketanah untung saja dengan sigap Richard menangkapnya dan langsung memeluknya. "Maaf.." Lirihnya lalu menggendong Christyn ala Bridal style dan membawanya keluar
"Sepertinya urusanku disini sudah selesai.." Ucap Bryan melangkah keluar diikuti Joe.
"Tidak! Aku tidak menerima ini!" Teriak Vani.
Setelah keluar dari bangunan itu, Bryan memerintahkan agar semuanya kembali, Ya.. tentu ia tak sendiri, ia datang bersama anak buahnya hanya untuk berjaga-jaga.
Sesampainya mereka di Kediaman William, mereka disambut bahagia oleh keluarga. Anna langsung memeluk Christyn dan mengecupi wajah anaknya.
"Kamu kembali! Mama sangat takut terjadi hal buruk padamu" Ucap Anna.
"Mah, aku baik-baik saja.. lihat aku tidak kenapa-napa kan" Ucap Christyn menenangkan ibunya. "Mah, Xelyne kemana?" Tanya Christyn mencari keberadaan Xelyne, karena jika ada Bryan disini tentu ada Xelyne juga bersamanya.
"Ia pergi setelah mendapat telpon dari seseorang, katanya ada masalah di perusahaannya jadi ia tak bisa menunggumu" Jawab Anna yang masih memeluk Christyn.
"Apa dia mengatakan siapa yang menelponnya?" Tanya Bryan.
"Ya, yang menelponnya Lian asistennya.." Jawab Anna. "Apa dia tidak memberi tahumu?"
"Tidak"
"Kamu tidak marah?"
"Tidak"
Bryan diam sejenak, "Tidak" Jawabnya sebelum masuk ke dalam.
"Mereka kenapa mah?" Tanya Christyn.
"Ntahlah.. ayo masuk, di luar semakin dingin" Ajak Anna.
"Mama masuk duluan saja, Aku mau bicara berdua dengan tuan Richard.." Ucap Christyn melihat Richard yang tengah duduk sendirian.
"Baiklah.. nanti ajak dia masuk juga.." Ucap Anna sebelum masuk ke dalam.
Christyn berjalan mendekat ke arah Richard yang sedang termenung memikirkan kejadian hari ini. Christyn berdiri di depannya. "Tuan" Panggil Christyn.
"Kenapa kamu tidak masuk? Udara diluar terlalu dingin dan kamu pakai baju tipis" Ucap Richard melihat Christyn di depannya, Ia melepas jaketnya dan mengenakannya pada Christyn. "Duduklah" Pinta Richard menyuruh Christyn duduk dikursi yang ia duduki tadi dan Richard berdiri di depannya. "Ada apa?"
"Terimakasih sudah datang dan saya ingin mengembalikan barang anda" Ucap Christyn menyerahkan barang milik Richard. "Dan maaf saya memakai kalung anda tanpa meminta izin terlebih dahulu" Lanjutnya ingin melepas kalung milik Richard namun tangannya dicegah.
"Pakai saja, Aku tidak melarangku untuk memakai barang milikku, semua yang aku punya juga milikmu.." Ucap Richard membuat Christyn memerah. "Jadi jangan sungkan, nyonya Xavier" Bisik Richard.
"A apa maksud anda?" Tanya Christyn terbata-bata.
"Aku berhasil menaklukkan tantangan orang tuamu, sekarang aku butuh jawabanmu untuk pertanyaanku waktu kemarin" Ucap Richard mengusap pipi Christyn. "Maukah kamu menikah denganku?" Tanya Richard membuat Christyn terdiam. "Aku membutuhkan jawabanmu"
Dengan senyuman yang terukir diwajah cantiknya, ia mengangguk pelan seraya berkata, "Ya, saya mau menikah dengan anda, tuan" Jawaban itu membuat Richard sangat bahagia, tak ada yang lebih bahagia selain mendapat jawaban dari Christyn.
"Apa kamu berkata jujur? Aku sedang tidak bermimpi kan?" Ucap Richard merasa tak percaya, untuk ke sekian kalinya ia melontarkan pertanyaan yang tak terjawab itu pada Christyn, ia mendapat jawaban yang pasti sekarang.
"Apa anda meragukan jawaban saya?" Tanya Christyn. "Dan kapan kita akan menikah?"
"Aku hanya merasa tak percaya" Jawab Richard. "Kamu ingin menikah kapan?"
"Secepatnya"
"Bagaimana jika sekarang?" Ajak Richard.
"KUA sudah tutup!" Jawab Christyn.
"Kalau begitu besok"
"Jangan bercanda tuan, itu terlalu cepat" Ucap Christyn merasa kesal dengan Richard.
"Aku tidak bercanda, jika kamu menginginkan besok aku akan mengabulkannya.."
"Apa anda sudah siap? Bagaimana dengan keluarga anda?" Tanya Christyn.
"Sangat siap, mereka sudah tahu dan tentu saja akan menerimamu"
"Bagaimana dengan opini publik? Terlalu banyak wanita yang menyukai anda"
"Itu tak penting bagi ku, sebanyak apapun wanita yang mengejarku dan menyukaiku, percayalah hanya kamu yang aku cintai hanya kamu, sayang" Jawab Richard dengan serius.