
Christyn yang menyadari itu, berpura pura tidak tahu. "Duduklah.. aku akan mengobati lukamu" Pinta Christyn
Richard menuruti perintah Christyn, ia duduk di sofa, "Aku bisa mengobatinya sendiri.." Ucap Richard menolak pertolongan Christyn, tetapi Christyn tak mendengarkan ucapan Richard, ia duduk di bawah kaki Richard
"Angkat kakimu! Biar aku melihat lukamu" Perintah Christyn.
"TidakĀ perlu, aku bisa mengobati diriku sendiri.." Ucap Richard.
Tanpa persetujuan Richard, Christyn langsung mengangkat kaki Richard dan melihat lukanya. "Lihat, kaki anda terluka pun anda tidak perduli" Ucap Christyn mengambil kapas dan alkohol yang ada di kotak P3K untuk mengobati luka Richard.
"Aku bisa mengobatinya sendiri, berdirilah.. nona tak seharusnya seperti ini" Ucap Richard mencegah Christyn agar tidak mengobati luka dikakinya.
"Diam!" Gertak Christyn mulai mengobati luka Richard pelan-pelan. "Lain kali hati-hati, ini baru percobaan untuk anda! Anda bisa menyerah sekarang jika anda mau!" Jelas Christyn yang masih fokus mengobati luka Richard dengan lembut.
"Dengan sikap nona yang seperti ini, malah membuat aku yakin untuk melanjutkannya" Jawab Richard terus menatap Christyn.
Setelah memberikan plaster untuk menutupi luka Richard, Christyn mengambil salep lalu pindah menjadi duduk disamping Richard. "Saya jauh dari yang anda bayangkan" Ucap Christyn meraih tangan kanan Richard dan menggulung lengan baju Richard memperlihatkan lengan Richard yang dipenuhi bintik merah
"Bagaimana nona tau kalau lengan ku.."
"Saya sudah menebaknya sejak awal, kalau anda pasti tidak melihat jebakan yang ibu saya buat untuk melindungi kebun herbal miliknya.." Jawab Christyn mengoleskan salep ke lengan Richard sambil meniupnya membuat sensasi sejuk terasa di lengan Richard.
"Apa ibu kamu suka berkebun?" Tanya Richard.
"Menurut mama, masakan yang diolah dari hasil perkebunan sendiri rasanya lebih enak" Jawab Christyn.
"Nona, apa kamu mau menikah denganku?" Tanya Richard namun tak mendapat jawaban dari Christyn, mimik wajah Christyn tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Aku sudah selesai, bersiaplah untuk tantangan selanjutnya" Ucap Christyn membereskan kotak P3K lalu keluar dari kamar Richard dan Richard hanya bisa menatap punggung Christyn.
.
.
.
"Papa! Jangan bercanda, bagaimana jika dia tidak tahan dingin?!" Ucap Christyn yang merasa tak percaya dengan tantangan Ayahnya kepada Richard.
"Itulah yang papamu uji, dia harus tahan dalam situasi apapun.." Jelas Anna kepada Christyn.
"Lebih baik papa hanya menyuruhnya berendam selama satu malam, bukan menyuruhnya untuk tahan dari api" Sambung William kepada sang putri yang terlihat tak tenang.
"Kamu kembalilah kekamarmu, jangan berdebat dengan ayahmu lagi, kamu tahukan itu akan sia-sia" Ucap Anna membelai rambut Christyn.
* Keesokan paginya..
Christyn menutuskan untuk keluar seharian, bersama Joe. Ia tak ingin terlalu memikirkannya lagi, dia hanya ingin bersenang-senang.
"Non Christyn, apa anda tidak lelah? Kita sudah mengitari beberapa mall di tengah kota, tapi anda masih belum mendapatkan apa yang anda inginkan? Sebenarnya apa yang anda cari?" Ucap Joe karena mereka sudah mengunjungi beberapa mall sejak pagi hingga sore, tapi Christyn masih merasa tak puas.
"Ntah.. aku saja bingung ingin mencari apa" Jawab Christyn sambil memilih-milih baju.
"Jadi semuanya sia-sia?"
"Tidak ada yang sia-sia dimataku! Kalau kau ingin kembali, kembali saja terlebih dahulu" Ucap Christyn mengambil beberapa baju.
"Tidak, saya akan menemani anda" Ucap Joe pasrah kepada adik atasannya. Ia memang ditugaskan untuk menjaga Christyn.
Disisi lain, Richard dengan luka memar di wajahnya, sedang duduk bermain catur dengan William.
"Saya tak menyangka anda menyelesaikannya " Puji William merasa puas dengan usaha Richard.
Ya, Richard baru saja menyelesaikan tantangan terakhirnya yang membuatnya cukup terkejut hingga mendapat pukulan diwajahnya yang membekas, tapi juga senang karena ia mendapatkan gadis yang ia inginkan.
"anda terlalu memuji, tuan will" Jawab Richard.
"Tapi saya ingin meyakinkan lagi, apa anda yakin dengan keputusan anda untuk menikahi putri saya?" Tanya William
"Sangat yakin, saya tak pernah meragukan keputusan yang saya ambil" Jawab Richard
"Apa yang membuat anda yakin? dan dari segimana kelebihan Christyn?"
"Dia membuat saya tenang, menatapnya saja sudah menyejukkan hati saya, perlakuan dan sifatnya yang sulit ditebak membuat saya ingin mengetahui dan masuk kedalam hidupnya lebih dalam lagi.. ia wanita yang berhasil membuat saya terpikat dalam waktu singkat, tak ada yang tidak saya suka dari dia"Jelas Richard dengan jujur sambil membayangkan wajah Christyn.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Anna.
"Seperti yang saya ucapkan diawal kepada Christyn, saya akan menikahinya setelah mendapat restu dari kalian, jadi saya mohon restui pernikahan kami" Jawab Richard dengan nada memohon.
"Bagaimana mungkin kami melewatkan menantu sehebat Tuan Richard.." Ucap Anna melihat ketulusan Richard.
"Terimakasih.. saya sangat berterimakasih!" Ucap Richard terlihat sangat bahagia.
"Tuan! Nyonya! Hah.. ahah.. Ga wat! Nona Christyn di culikk!!" Ucap Joe dengan nafas yang tersegal karena lelah berlari.