
Sinar matahari masuk ke ruangan kamar, terlihat dua insan sedang tertidur pulas dengan tubuh polos tertutup selimut dan baju yang berserakan.
"Eumh.." Lirih Xelyne mencoba membuka matanya. Terlihat wajah Bryan dengan sangat dekat, mungkin ini bukan pertama kalinya Xelyne melihat wajah Bryan dari dekat dan ia tidur dipeluk dengan Bryan, tetapi sekarang situasinya berbeda! Xelyne merutuki dirinya sendiri dan mengutuki Bryan karena tubuhnya remuk dibuatnya.
"Selamat pagi" Sapa Bryan mengecup bibir Xelyne. Xelyne tak menjawabnya, ia memeluk dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik kekasihnya. Ia malu saat mengingat kejadian semalam. "Jangan begini, adikku bisa bangun lagi, bagaimana kamu menanganinya nanti?" Bisik Bryan menggoda Xelyne.
"Diam! Badanku remuk karnamu, rasanya perih" Adu Xelyne meneteskan air matanya. Badannya terasa remuk, dan rasa perih ia rasakan dibagian bawah.
"Maafkan aku.. dan terimakasih sudah memberikannya padaku.." Ucap Bryan merasa bersalah.
"Tidak apa, cepatlah bangun kamu harus bekerja.." Ucap Xelyne saat mengingat jadwal Bryan yang telah ia minta semalam dari Joe. Xelyne mencoba meraih pakaian yang ada dilantai.
"Aku tak akan jatuh miskin bila tak bekerja sehari, dan aku bisa berangkat nanti.. ada urusan yang lebih penting yang harus ku lakukan.." Ucap Bryan menarik Xelyne membuatnya kembali tertidur di kasur dan dengan cepat Bryan mengukung tubuh mungil Xelyne.
"Bryan! apa yang kamu lakukan!" Ucap Xelyne merasa kaget.
"Aku menginginkanmu lagi.. Bolehkah aku.." Ucap Bryan sebelum menyelesaikan kalimatnya ia mendapat penolakan. "Aku berjanji melakukannya lebih lembut dari semalam.." Ucap Bryan sambil mengecupi leher milik Xelyne.
Jujur saja Xelyne sangat menikmati setiap sentuhan dari Bryan, ia tak bisa menolak karena tubuhnya sangat menginginkan sentuhan lembut Bryan.
Disisi lain, Christyn berkeliling sendiri.. Ia sangat meruntuki nasibnya yang sangat menyedihkan.
"Apa ini! takdirku terlalu menyedihkan untuk disamakan dengan takdir adikku.. lihat aku sendirian di negara ini bagaikan anak hilang!" Gerutu Christyn yang kesal melihat postingan Bryan dan Xelyne yang sudah mengonfirmasi hubungan mereka. Tanpa melihat jalan, ia tak sengaja menabrak orang membuat minuman yang ia bawa jatuh dan tumpah ke jalanan. "Buruk sekali nasibku, uangku terbuang karena minumku terjatuh!" Gumam Christyn berjongkok ingin memungut sampah kopinya.
"Maaf nona, saya akan menggantinya" Ucap seseorang yang ia tabrak.
Christyn mendongakkan kepala lalu berdiri dibantu pria tersebut. "Tidak perlu, ini salahku yang tak melihat saat berjalan.." Ucap Christyn membuang sampahnya ketempat sampah. "Seharusnya aku yang meminta maaf, jadi mohon maafkan aku" Ucap Christyn membungkukkan badan lalu pergi dari hadapan pria tersebut.
"Eh.." Pria itu hanya bisa menatap kepergian Christyn.
Christyn yang sudah jauh dari pria tersebutpun mengutuk dirinya sendiri karena ia telah menolak ajakan pria tadi membuatnya kehilangan sarapan gratis. Perutnya yang sudah berdemo meminta sarapan sedangkan Christyn hanya menahan laparnya
"Aku akan membalas perbuatan kalian!! Tunggu saja dik!! Kalian membuatku seperti gelandangan disini!" Ucap Christyn mengutuk Bryan dan Xelyne.
Bryan dan Xelyne bersin bersama.
"Sepertinya ada yang mengutuk kita" Ucap Xelyne sambil fokus dengan pekerjaan yang ia lakukan secara daring.
"Abaikan saja, lanjutkan pekerjaanmu saja" Ucap Bryan yang masih fokus dengan laptopnya.
Kini mereka sudah berada di kantor cabang milik Bryan dan melakukan pekerjaan masing-masing
ddrrtt.. Hp milik Xelyne berdering, dengan cepat Xelyne langsung mengangkat telponnya.
"Ya ada ap?" Ucap Xelyne.
...
"Kamu ada disini? Datanglah ke kantor xx, dan laporkan apa yang kamu dapatkan" Ucap Xelyne yang tampak senang.
....
"Baik aku tunggu" Ucap Xelyne sebelum menutup telponnya.
"Siapa itu?" Tanya Bryan.
"Richard.. Orang yang aku suruh untuk mencari tahu kejadian 12 tahun lalu" Jawab Xelyne jujur.
"Kalian sangat dekat?"
"Ya! Dia membantuku mendapatkan banyak informasi tentang ayah" Jawab Xelyne lagi lalu menyadari sesuatu. "Dia teman dekatku, jangan marah seperti itu.. dia juga tahu kalau aku sudah memilikimu" Ucap Xelyne, aura bahagia dapat dirasakan disekitarnya.
"Aku mengerti.. aku tak akan memikirkan apapun dan aku mempercayaimu.." Jawab Bryan lalu tersenyum melihat Xelyne.