XELYNE (My Destiny)

XELYNE (My Destiny)
Kenapa aku masih hidup?


Kyra tenggelam di danau itu, semua orang tampak panik meminta seseorang agarcmengeluarkan gadis malang itu dari dalam danau.


Bryan yang memang sedang mencari Kyra, kebetulan ia sedang mencari ditaman itu, ia menghampiri kerumunan tersebut, mencoba bertanya apakah ada orang yang melihat Kyra.


"Maaf pak, ada apa ya disini?" Tanya Bryan kepada seorang pria paruh baya.


"Ada gadis tenggelam didanau" Jawabnya membuat Bryan memikirkan kalau itu Kyra.


"Apa gadis nya seperti ini?" Tanya Bryan menunjukkan foto Kyra.


"Kalau tidak salah bentukannya seperti ini.." Jawabnya membuat Bryan melepas jaketnya dan langsung masuk kedalam danau untuk menyelamatkan gadis malang itu. Bryan membawa tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu ke permukaan dan membawanya kepinggiran dengan dibantu orang-orang sekitar.


"Kenapa ada gadis seperti ini!" Umpat Bryan sambil memberikan pertolongan pertama untuk Kyra. "Tolong panggilkan ambulance.." Ucap Bryan meminta agar ada orang yang memanggilkan ambulance untuknya.


Kyra masih tak sadarkan diri meski sudah diberikan pertolongan pertama, membuat orang-orang panik termasuk Bryan dan beranggapan bahwa ia sudah tak bernyawa.


"Kumohon bertahanlah sebentar lagi" Ucap Bryan. "Sudah ada yang menelpon ambulance?!" Tanya Bryan.


"Ya! Sebentar lagi akan segera tiba" Ucap salah satu orang.


Benar saja tak lama ambulance datang dan Kyra langsung dibawa kerumah sakit.


.


.


.


Sudah satu minggu Kyra terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan keadaan tak sadarkan diri. Raut wajah khawatir nampak pada wajah Christyn dan Bryan.


"Kyra, kumohon bangun lah.. sudahi tidur panjangmu.." Ucap Christyn menggenggam tangan Kyra.


Disisi lain..


Bryan meminta asisstennya untuk menghapus semua rumor buruk tentang Kyra dan membuat pengumuman bahwa Kyra Azzahrani sudah meninggal karena tenggelam di danau.


Ntah mengapa Bryan mengambil keputusan sendiri tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada Christyn. Ia sudah memiliki rencana lain untuk merubah nasib Kyra.


Christyn yang mendengar berita tersebutpun kaget dan langsung menghampiri Bryan.


"Apa maksudmu?!" Tanya Christyn dengan nada tinggi. "Kyra masih hidup! dia hanya sedang tertidur!" Lanjutnya.


"Aku tau.. aku tau.. tak lama lagi ia akan terbangun dari tidur panjangnya, aku akan membawanya keluar negeri untuk mengobatinya dan memberikan identitas yang seharusnya ia dapatkan" Jelas Bryan membuat Christyn bingung.


"Apa aku salah untuk membantu orang? aku ingin membantu dia, seharusnya kau bahagia" Ucap Bryan.


"Aku.. Ya, seharusnya aku senang kalau Kyra kini mendapat bantuan.. Tapi kenapa harus kamu yang membantunya.. kenapa!" Batin Christyn bertanya-tanya, rasanya sesak dan seperti ada yang hancur dari dalam.


"Kenapa diam disitu? Tidak ingin menemui Kyra untuk yang terakhir kali?" Ucap Bryan yang kini sudah melangkah menjauh dari Christyn.


Christyn tersadar dari lamunannya, ia memutuskan untuk kembali ke ruangan Kyra dan mengecek keadaannya. Christyn duduk disamping ranjang milik Kyra dan menatap wajah pucat Kyra.


"Kenapa harus kamu? Kenapa!? dan kapan kamu akan bangun?" Lirih Christyn sambil menggenggam tangan Kyra. Ntah mengapa air matanya keluar membasahi pipi.


Disaat yang bersamaan, dengan perlahan jari tangan Kyra bergerak. Itu membut Christyn kaget dan langsung mengusap air matanya. "Kyra! kamu bangun?!" Ucap Christyn langsung bangun dari tempatnya dan memastikan bahwa ia tak salah melihat. "Kamu benar-benar bangun kan?!" Tanya Christyn lagi.


Perlahan mata Kyra mulai terbuka, dengan samar-samar Kyra mulai mendengar Christyn berteriak memanggil dokter.


"Dok, bagaimana keadaan dia?" Tanya Christyn kepada seorang dokter yang baru saja memeriksa Kyra.


"Dia sudah melewati masa kritisnya, namun tubuhnya masih terlalu lemah .." Ucap sang dokter. "Saya akan kembali nanti untuk memeriksanya.." Lanjut sang dokter sebelum keluar dari ruangan


Christyn menghampiri Kyra, Ia menatap wajah Kyra yang masih pucat. "Aku tau kamu pasti akan bangun" Ucap Christyn menggenggam tangan Kyra.


Kyra dengan pandangan yang masih buram, ia menatap langit ruangannya. "Eugh.." Lirih Kyra terdengar oleh Christyn.


"Ada apa Kyra?" Tanya Christyn. "Apa ada yang sakit?"


Kyra menggelengkan kepalanya perlahan dan mengalihkan wajahnya. Ia terdiam, mimik wajahnya tak menunjukkan apapun tetapi air matanya perlahan membasahi pipi. "Kenapa! Kenapa aku masih hidup! Kenapa aku tidak mati saja!" Batin Kyra menjerit. Bukan ini yang ia inginkan, ia sungguh tak ingin ada didunia ini lagi.


"Kyra.. kenapa kamu menangis? ku mohon berhentilah menangis.." Ucap Christyn saat melihat Kyra menangis, air matanya terus membasahi pipi milik Kyra meski Christyn sudah menghapusnya. "Semuanya akan baik-baik saja.. jangan menangis.." Ucap Christyn memeluk Kyra, membuat air mata Kyra semakin pecah membasahi pipi.


Dari luar ruangan Kyra, Bryan melihat Christyn dan Kyra yang sudah sadar, dan menyaksikan semuanya. Ia duduk di depan ruangan Kyra dan memilih menunggu Christyn menenangkan Kyra.


"Apa semuanya sudah di urus?" Tanya Bryan kepada Joe asisstennya.


"Semuanya sudah saya urus, termasuk identitas baru untuk nona Lyne dan keberangkatan menuju negara Y.." Ucap Joe.


"Dalam waktu dekat kita akan kembali ke negara Y, selesaikan semua urusan perusahaan yang ada di negara ini.." Ucap Bryan lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


.


.


.