NO RELATIONSHIP IN FRIEND?

NO RELATIONSHIP IN FRIEND?
Sembilan: The actor


Malam itu Miranda baru saja tiba di salah satu bioskop paling besar di Jakarta. Dengan heels dan rok vintage juga kacamata hitam, ia memasuki gedung ditemani Rachel dan Stefy. Mereka melewati kerumunan wartawan lalu menemui seorang manager di tempat yang telah ditentukan. Seorang pria gemuk berwajah ramah menyambut mereka dengan sangat antusias.


"Sungguh kehormatan besar bisa bertemu dengan aktris sekelas internasional seperti anda," puji sang manager ketika menyambut Miranda. "Miranda Jackson. Apakah kebetulan sekali anda datang ke acara premier film kami? Oh, ada Stefany Jackson juga. Apa kabar?" Ia mengulurkan tangan menyambut Stefy dan juga Rachel. "Malam ini saya jadi bersemangat karena banyak sekali orang terkenal yang saya temui."


"Terimakasih, pak. Kebetulan saya mengunjungi keluarga. Jadi, saya senang bisa ikut melihat pemutaran film perdana yang sudah banyak dinantikan orang-orang. Saya sudah tidak sabar. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini."


"Wah, senang sekali mendengarnya. Nick sedang di ruang ganti. Mereka akan segera datang ke gedung utama. Apakah mau saya antar ke tempat duduk kalian?"


"Jika bapak tidak keberatan," jawab Miranda.


"Boleh aku bertemu Nick sebentar di ruang ganti? Kami membawa sesuatu untuknya," pinta Stefy sembari menunjukkan bunga di tangannya. Pria itu pun memberikan izin.


"Kami tunggu di dalam,ya," pesan Miranda.


Stefy melangkah dengan hati-hati karena banyak sekali orang yang berlalu-lalang. Ia mengetuk ruang ganti berwarna putih yang ditunjuk oleh sang manager. Tanpa menunggu jawaban, ia pun masuk ke dalam. Di sana banyak sekali aktris dan aktor yang sibuk berdandan sebelum memasuki acara premier. Ia bertanya kepada salah satu kru dan ketika tahu siapa yang dicari, kru itu pun menunjuk ke sudut ruangan. Lagi-lagi ia harus melewati beberapa orang sampai akhirnya tiba di tempat dimana Nick sedang mengganti kaos luarnya. Mendengar namanya dipanggil, pria itu pun berbalik dan nampak berseri-seri.


"Congratulation to my bestfriend,Nicholas Handerson, untuk film barunya. Semoga tambah sukses dan semakin bersinar," doa Stefy sembari menyodorkan bunga yang dia bawa dengan susah payah.


"Thank's. Untung aku udah ganti baju. Kalau nggak..." goda Nick dengan pandangan nakal.


"Aku sudah sering melihat tubuhmu sejak kecil. Sama sekali tidak tertarik," Stefy mencibir. "Kau tidak mau menerima bunga ini? Tanganku mulai pegal loh...ini tidak ringan."


"Oh, sorry. Thanks ya." Nick menerima dan terharu. "Sam tidak ikut?"


"Dia ada acara keluarga."


"Oh..."


Tiba-tiba Sabrina datang dan menghampiri Nick sambil menggandeng lengannya dengan manja. "Nick, kau sudah siap? Kita akan melakukan pemotretan sebelum acara dimulai. Oh, hai, Stefy. Kau datang membawa hadiah? Wah, baiknya. Seperti fans fanatik,ya."


"Aku memang fans fanatik Nick dari bayi," jawab Stefy penuh penekanan. Nick tersenyum hambar.


"Oh, sweet...ok, aku tunggu di ujung ya. Cepatlah, yang lain menunggu."


"Sepertinya dia mengusirku secara halus," Stefy berkata kesal ketika Sabrina menghilang. "Pergilah. Aku juga akan keluar dan menyusul kak Miranda dan Rachel. Lebih baik kau cari aktris lain untuk kau pacari."


"Kau juga akan melakukan hal yang sama jika aku memintamu mencari pengganti Sam?" balas Nick dengan senyum jahatnya.


"Lupakan saja apa yang barusan kau dengar," Stefy makin kesal. "Good luck!" Ia pun menghilang di balik pintu.


Acara premier film "Love Letter" berjalan lancar sesuai yang diharapkan. Film romantis yang menceritakan sepasang anak muda yang berada di bangku SMA yang bertemu kembali setelah dewasa di tempat bekerja, sampai akhirnya memutuskan untuk menikah.


Sambutan penonton bagus. Peran Nick dan Sabrina mendapat banyak pujian. Penghayatannya maksimal. Miranda pun kagum melihat karakter yang diperankan Nick sampai berbisik pada adiknya," kalau aku jadi kau, aku pasti jatuh cinta padanya. Dia pantas dicintai."


"Tapi skandal banyak. Citranya buruk," timpal Stefy yang sama sekali tidak tersihir dengan pesona Nick malam itu.


"Ok.Tapi kau harus tahu, jadi publik figur memang resikonya begitu. Apa kau tidak lihat apa yang media beritakan tentangku selama ini?"


"Bukankah kita sedang membahas Nick?"


Selesai pemutaran film dan sesi wawancara, Miranda langsung menghampiri Nick dan memberikan pelukan hangat juga ucapan selamat. "Baru kali ini aku melihat aktingmu di layar lebar. Not bad."


"Kalian menikmati filmnya? Sukurlah. Tapi masih kalah jauh dibanding akting pemain sekelas kakak," Nick merendah. "Maunya coba film thriller tapi belum ada tawaran."


"Hmmm...mungkin aku bisa merekomendasikamu ke beberapa sutradara yang ku kenal baik. Semoga kamu bisa go international dan siapa tahu kita bisa main di film yang sama."


"Really?" Mata Nick langsung berbinar-binar. "Oh ya. Sorry. Aku nggak bisa antar kalian pulang. Kami ada acara dengan para kru film setelah ini. Aku tidak ingin kalian menunggu lama. Tapi terimakasih sudah datang, kak."


"It's okey. Aku yang antar mereka berdua pulang," sahut Rachel.


"Thank's,Rachel." Nick mengusap lengan Rachel dengan rasa terimakasih. "Ok, aku harus pergi. Aku janji akan traktir kalian makan lain waktu. Sampai ketemu lagi dan terimakasih bungaya." Ia memeluk ketiga tamunya lalu menghilang ditelan kerumunan wartawan.


Miranda memakai kacamatanya kemudian berkata,"Okey, girl. Kalian mau makan makanan mexico yang pedas? Malam ini aku yang traktir. Let's go!"


"Yayyyyy!!!" seru Rachel dan Stefy bersamaan.


...😃...


"Antrian nomer 220!" suara panggilan itu terdengar di seluruh area lantai satu bagian poliklinik. Seorang gadis berseragam sekolah langsung berdiri meraih tas ranselnya lalu masuk ke ruang pemeriksaan. Sudah ada seorang perawat dan dokter yang menunggu. Dokternya masih muda, berkacamata, dan tampangnya serius.


Sang dokter memeriksa berkas yang ada di meja. Membaca beberapa menit sebelum memulai anamnesa pada pasiennya. Sementara sang pasien duduk tenang. Ia bisa mencium bau alkohol dan obat.


"Selamat sore. Saya dr. Daniel yang akan melakukan pemeriksaan hari ini. Kita anamnesa sebentar, ya. Panggilannya siapa?"


"Helen, dok."


"Ok. Masih sekolah, ya. Kelas berapa?"


"Kelas 3 SMA."


"Hmmm...saya sudah membaca riwayat kesehatanmu sebelumnya. Apakah belakangan ini sering merasakan keluhan seperti nyeri?"


"Kadang kalau terlalu lelah dengan aktivitas. Tapi tidak setiap bulan."


"Ok. Ada beberapa foto MRI penunjang yang saya perlukan. Sayangnya, foto yang kamu bawa sudah setahun yang lalu. Jadi, saya perlu foto yang baru. Ada prosedur yang harus dilakukan sebelum pengambilan foto. Jadi, mungkin kamu perlu siapkan waktu untuk ini. Boleh saya bicara dengan walimu?"


Helen menggigit bibir. "Saya baru pindah ke Jakarta. Daddy tinggal di Paris dan saya tinggal sendiri di sini, tanpa keluarga yang saya kenal. Tapi daddy datang tiap bulan untuk mengecek kondisi saya."


Dokter Daniel mencoba memahami kondisi sang pasien. "Helen, saya mengerti. Secara hukum, kamu sudah bisa membuat keputusan sendiri. Namun, dalam kasusmu ini, tetap harus ada wali yang mendampingi. Saya tidak bisa bilang kasusmu ini ringan. Jika kondisimu tidak baik, orang itu bisa menolongmu untuk menghubungi RS secepatnya."


"Kalian bisa hubungi daddy by phone. Tapi saya mohon jangan katakan sesuatu yang membuat beliau khawatir."


"Baiklah. Kita akan bicarakan hal ini setelah saya berbicara dengan walimu di telpon. Saya juga perlu mendiskusikan kasusmu dengan beberapa dokter spesialis lain sebelum menentukan langkah berikutnya. Kau bisa pulang sekarang. Kami akan menghubungimu secepatnya. Jangan khawatir, Helen. Kamu masih muda. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu."


Helen merasa lega. Dokter Daniel kelihatan perhatian meski wajahnya serius. Ia pun mengangguk dan undur diri.


...😀...