
Sarapan sudah siap ketika Keluarga Jackson dan tamunya kembali seusai jogging. Mereka makan di halaman yang sama seperti kemarin. Tak jauh dari sana ada kran air yang biasa digunakan untuk cuci tangan. Maka, ketika mereka tiba, satu per satu mencuci tangan di tempat itu sebelum mengambil tempat duduk dan memulai sarapan bersama.
Saat mencuci tangan, Nick menggunakan kesempatan itu untuk bicara dengan Stefy yang sejak tadi sengaja menghindarinya. Ia menarik lengan gadis itu, menariknya lebih dekat dan berbisik," apa kau menghindariku karena kejadian semalam?"
"Aku tidak menghindarimu. Lepaskan tanganmu,Nick!" desis Stefy sembari mengawasi sekitarnya. Untunglah Sam sedang asik bicara dengan Daniel.
"Oh, really?" mata Nick menyipit. "Kau pikir aku tidak bisa merasakan dan melihat gerak-gerikmu yang aneh sejak tadi pagi? Kau terus menempel pada Sam dan Rachel. Menghindari tatapanku...seperti sekarang. Dan menolak bicara. Look at me," pintanya penuh penekanan.
"I don't want to talk about what happend last night, do you understand?"
"What happend last night?" tantang Nick. Pura-pura tidak tahu.
Stefy terperangah. "You are really...bad guy, Nick!" hampir saja ia berteriak saking kesalnya.
"Oh, come on. It's just a kiss. Sebelum Sam, kau juga mencium banyak pria sejak kita di junior high school. Me too. Aku banyak mencium wanita tanpa ada perasaan apa pun. Karena itu bagian dari pekerjaan. Don't be so serious."
"Jadi maksudmu, kau menciumku semalam karena pekerjaan?" Stefy menatap dengan tajam. Tidak ada jawaban. "See ? Kau ini brengsek,Nick. Sudah berapa lama kita berteman? Bukan dua atau tiga tahun. You're a part of my family. We're bestfriend. Why you did it to me? Do you like me?"
"Of course not," jawab Nick spontan.
"Jadi apa tujuanmu? Kau tahu, saat ini aku marah tapi bahkan tidak bisa cerita ke siapa pun. Kau tahu kenapa? Karena tempatku berbagi cerita adalah kau. Please, jangan membuatku bingung dengan membuat masalah seperti ini,okey?"
"Hey, look.You the one who made this thing complicated. You also kissed Sam without feeling, like i did to you. It's doesn't matter for him,right ?" Nick kembali menyerang.
"What do you mean? He's my boyfriend, not my bestfriend," Stefy semakin kesal.
"Boyfriend yang setelah lulus akan mendapat predikat jomblo? He's nothing to you, right? Apa dia tahu ini?"
Sebuah pukulan mendarat di tubuh Nick tetapi tidak membuatnya bergeming. "It's not your business and shut up!" Stefy kembali mendesis. Mukanya merah. " Kau ingin semua orang dengar apa yang kau katakan? How dare you !"
"Hey, apa kalian baik-baik saja?" Sam muncul disusul Miranda. Pertengkaran pun terhenti. " Let's go. We have best breakfast today."
"Okey," jawab Stefy lalu menggandeng tangan Sam menuju meja makan. Nick mengekor di belakang.
Miranda mencekal lengan Nick dan bertanya," you okey,Nick? Sepertinya kalian bertengkar. Sejak tadi wajahmu tegang."
"I'm fine. Don't worry. Hanya salah paham. Kami biasa begitu. Ayo kita makan. Perutku sudah lapar." Nick merangkul Miranda dan bergabung dengan yang lain di meja makan.
...😃...
Sebelum memulai harinya di International High School sebagai murid pindahan, Helen memutuskan untuk menghabiskan waktu senggangnya di mall. Diawali dari salon, butik, lalu resto. Suasana Jakarta memang berbeda dibandingkan Paris. Meski begitu, ia masih bisa menikmatinya. Ia membeli perlengkapan sekolah yang diperlukan tanpa tergoda label diskon.
Ketika menunggu pesanannya datang, tanpa dipersilakan,seorang pria muda berambut ikal menarik kursi di hadapannya lalu duduk dengan kedua tangan menyilang.
"Apa sekarang kau berubah profesi menjadi penguntit?" Helen bertanya dengan tenang dan santai. Sebuah suara menarik perhatiannya. Ponselnya berteriak. Melihat nama di layar itu, membuat suasana hatinya berubah. "Untuk apa kau menghubungiku padahal kita bisa bicara langsung seperti sekarang? Mengecek sesuatu?"
"Kau masih menggunakan nomer yang lama? Why? Supaya aku masih bisa menghubungimu kembali?" pria itu tersenyum sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
Helen langsung menekan tombol di layar ponselnya lalu dengan puas dia berkata," already block."
"Kau pikir bisa menghindariku? Aku masih bisa menemukanmu di sekolah yang baru. Jika perlu, setiap hari aku akan muncul dan berdiri di gerbang sekolah."
"Sebenarnya apa masalahmu, Barco? Kenapa kau terus datang dan menggangguku? Membuat segala hal menjadi rumit. Apa hidupmu begitu membosankan? Kau ingin mengajakku bermain? Sayangnya, aku tidak tertarik. Aku berharap kau tidak muncul di hadapanku lagi seperti sekarang."
"Kembalilah ke Paris," pinta Barco akhirnya.
Helen menarik nafas pelan. "Kenapa aku harus menuruti permintaanmu?"
"Aku tidak perlu menjelaskan apa alasannya. Turuti saja apa yang ku perintahkan," desis pria berambut ikal itu dengan penuh penekanan.
"Aku pun tidak perlu menjelaskan kenapa aku harus tetap di Jakarta," tolak Helen mentah-mentah. "Pergilah. Kau hanya membuang waktumu di sini. Sebaiknya kau temani saja tunangan tersayangmu itu," sindirnya kemudian. "Aku membaca beritanya beberapa minggu lalu di koran Paris. Kalian kelihatan serasi. Tenang, tujuanku ke sini bukan untuk merusak kebahagiaan kalian. Kau bisa pergi dengan damai. Aku sudah bilang, apa yang terjadi diantara kita sudah berakhir. Aku tidak tertarik mengenang masa lalu."
Barco terdiam. Menyandarkan punggungnya beberapa saat. "Aku sudah memperingatkanmu. Jangan pernah menyesal jika hal buruk menimpamu di sini."
"Apa itu ancaman?"
Lagi-lagi Barco mencondongkan tubuhnya ke depan dengan muka serius."Ini peringatan dari seorang mantan yang masih peduli."
"Oh,Barco. Kau membuatku terharu," sahut Helen." ia pun memasang wajah serius. "Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku. Aku bukan Helen yang naif seperti dulu ketika kita masih pacaran. Dunia yang kejam ini telah banyak mengubahku. Termasuk tahu bagaimana menghadapi mantan sepertimu."
Barco mengeraskan rahangnya. "Bagitu? Sepertinya kau sudah memikirkan semuanya dengan matang. Kau benar. Mungkin sebaiknya aku menghabiskan waktuku yang sangat berharga dengan tunanganku. Aku juga heran, kenapa aku harus menyusahkan diriku sendiri untuk menemui seorang gadis sepertimu. Aku pasti sudah tidak waras."
"Jadi kau menyesal sekarang?"
"Aku akan pergi tapi urusan kita belum selesai."
"Sudah kukatakan..." Helen tidak melanjutkan kalimatnya karena Barco sudah pergi dan menghilang begitu saja. Ia tertegun sejenak dan memikirkan baik-baik apa yang terjadi barusan.Entah kenapa, air mata pun menetes perlahan tapi cepat-cepat diusapnya sebelum orang lain melihatnya.
...😃...