
Di ruang musik, beberapa siswi sibuk berlatih. Mereka berlatih vokal dan sebagian ada yang hanya duduk lalu bersantai. Cahaya matahari bisa masuk melalui kaca bening di sisi kanan ruangan. Karena itu, anak di dalam kelas bisa melihat permainan basket yang ada di luar. Kadang mereka ikut berteriak memberi semangat.
Meski ruang musik kurang tenang, namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi seorang siswi berponi miring. Dengan jarinya yang lentik, ia terus memainkan lagu kesukaannya dengan tenang dan gembira. Kadang matanya ikut terpejam sambil menikmati alunan musik itu sampai akhirnya siswa lain datang dan membuat khayalannya terurai.
"Apa kau dapat undangan malam ini?"
"Di rumah Mr. Robert maksudmu? Yes. Will you come?"
"Yeah, with my family."
"Aku rasa, ini kesempatan bagus buatku, Stef. Daddy bilang Mr.Robert punya banyak kenalan musisi klasik di eropa. Jadi, mungkin di acara nanti malam aku bisa bicara dan berkenalan dengan beberapa pianis yang berbakat."
"Yeah, Nick tadi juga cerita di mobil."
"Really?" gadis berponi mengerutkan kening.
" Ya. Dia tanya apa kau akan main nanti malam karena pemilik rumah menyukai musik klasik dan dia juga mengundang pianis- pianis muda."
" Wow, Nick punya banyak informasi ya," ucap Rachel kagum.
" No wonder. Papanya punya koneksi banyak." Stefy duduk di kursi piano. Menatap sahabatnya dengan penuh harap. " Rachel, please tell me. Do you think i'm a good person?"
Rachel tiba-tiba tertawa. " Stef, are u okey? Pertanyaan macam apa ini? You scare me. Why you so serious?"
Stefy menghela nafas. "I don't know. I'm just ...aku hanya merasa aku bukan orang baik."
"Who said that? Nicholas? Oh, come on. Dia nggak serius. Ini alasannya kenapa aku nggak mau kamu terlalu lama bicara dengan Nick. Dia akan buat kamu jadi berpikiran aneh. We both knew that he not a good guy. He always perfect in bad things."
" Yes, you right. Rachel, thankyou." Stefy memeluk sahabatnya erat-erat.
Ketika pelukan terlepas, Stefy teringat sesuatu. Dia langsung berdiri dan cepat-cepat meraih ranselnya. "Sorry, Rachel. Aku harus ketemu Sam. Tadinya aku mau langsung ke lapangan tapi gara-gara Nick, suasana hatiku jadi jelek. Bicara denganmu membuatku lebih baik. Kau benar-benar seperti ibu peri. Sampai ketemu nanti malam. See u !"
Rachel melepas kepergian sahabatnya dengan senyuman lalu kembali bermain musik. Sejenak ia tertegun. " Ibu peri?" Ia mengangkat pundaknya dan kembali berkonsentrasi pada piano.
...😃...
Pukul 19.00 tepat semua undangan telah memenuhi ruangan tengah. Pemilik rumah menyambut tamunya dengan musik klasik, minuman dan makanan yang menggugah selera. Dijamin, akan membuat semua orang melupakan program diet mereka. Sesuai dengan temanya, semua undangan yang hadir memakai kostum hitam putih. Membuat pesta itu terlihat semakin mewah. Ruangan dengan dekorasi bernuansa emas dan banyaknya mawar merah, membuat beberapa sudut terlihat berkilau. Ditambah beberapa lampu kristal dan tentu saja perkakas emas turut menambah kilauan pesta semakin gemerlap.
Mr. Robert Boncili adalah salah satu pria terhormat yang bekerja untuk kedutaan Prancis. Keluarganya cukup terpandang di kalangan pebisnis dan kalangan pemerintah. Ditambah lagi sang istri adalah pemasok kosmetik bergengsi, yang juga berkebangsaan prancis namun keturunan spanyol. Mereka memiliki dua putri rupawan yang juga bersekolah di tempat yang sama seperti Stefy dan Nick, International High School. Jadi tidak heran jika malam itu Elle Boncili dan Regina Boncili memiliki percakapan seru dengan Stefy.
Di sisi lain, Rachel tetap fokus dengan hobinya. Dia menyapa tuan rumah, bergaul dengan sesama pianis, dan tenggelam dalam pembicaraan seru seputar dunia musik klasik di Austria.
"You look stuning, as always," puji Nick.
"Gracias," jawab Sabrina dengan senyum malu-malu.
"Sampanye or cookies?" tawar Nick dengan gaya seorang gantleman.
Sabrina menggeleng. " Aku harus diet karena besok ada pemotretan di pantai. Well, do you miss me?"
"Always. Dua minggu seperti satu tahun rasanya. Apa yang kau lakukan saat liburan semester kemarin?" Nick menggandeng lengan Sabrina dan memandunya berkeliling.
" Berjemur di Maldives bersama teman- teman. That's why kulitku terlihat lebih gelap."
"I see but don't worry, honey. You still hot in my eyes," bisik Nick membuat lawan bicaranya makin tersipu.
"Oh, apa kau melihat berita di media beberapa hari ini? Mereka membahas tentang film kita yang terbaru. Banyak spekulasi beredar dan apa kau tahu, netizen paling histeria menyambut kabar cinlok antara kau dan aku. Mungkin kita perlu lebih berhati-hati ketika bertemu mereka di luar."
"Apa kau ingin kita bertemu di apartmentku? Keluargaku tinggal di lantai berbeda. Kau tidak perlu khawatir. Pintuku selalu terbuka untukmu, baby. Just call me if u want to come."
"I love too," jawab Sabrina dengan mata berbinar- binar.
Di saat semua hadirin tengah menikmati pesta, tuan rumah mengetuk gelas kaca untuk menarik perhatian. Dengan suaranya yang berat, Mr. Robert mengajak semua tamunya untuk pindah ke ruang teater. Di sana ada panggung dan juga kursi di tiap sudut sehingga para tamu bisa melihat pertunjukan balet yang sudah dipersiapkan.
"Papa meminta balerina itu datang. Dia benar- benar berbakat dan sangat sopan," bisik Elle di telinga Stefy yang dijawab dengan anggukan.
"Namanya Helen," timpal Regina. "Dia baru kembali dari Paris dan ku dengar, dia akan pindah ke Jakarta..."
" Dan bersekolah di International High school," potong Elle.
"Dan juga bergabung di club balet," Regina nggak mau kalah.
Stefy tertarik dengan berita yang baru saja dia dengar. "So, it's mean aku akan bertemu dengannya di club yang sama?"
"Absolutely," jawab Elle dan Regina bersamaan.
" Oww...okey...wow, it's surprise. Ini berita bagus," Stefy meneguk sampanye. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Ya, kelihatannya Helen memang berbakat. Semua mata memang terpaku padanya malam itu. Tinggi, dengan kulit eksotis, mata yang lembut, kulit yang halus, juga bibirnya yang sexy. Ia menyadari bahwa Helen akan jadi salah satu siswi populer di sekolahnya nanti. Itu sudah pasti. Entah kenapa ia sedikit tidak menyukainya. Perasaan itu membuatnya memilih untuk menepi lalu berkutat pada ponselnya.
...😃...