NO RELATIONSHIP IN FRIEND?

NO RELATIONSHIP IN FRIEND?
Delapan belas: End of tragedy


Suara ketukan pintu membuat Helen tersadar. Ia mencoba merenggangkan tubuhnya yang terikat. Mulutnya tertutup kain. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia disekap di kamar tersebut. Orang-orang berjas hitam yang dia ingat saat penembakan beberapa waktu lalu, muncul bersama seorang wanita paruh baya. Wanita itu memiliki tatapan penuh kebencian.


"Apa kabar balerinaku sayang? Apa kau masih ingat siapa aku?" Wanita itu menunduk agar bisa melihat sandranya dengan jelas.


Helen masih ingat waktu pertama kali bertemu wanita itu di sekolah. Wanita yang ramah dan lembut. Sangat berbeda dengan yang dia lihat sekarang. Ia masih tidak bisa percaya. Kenapa ia menyekap dan ingin membunuhnya?


Seorang pria bertubuh jangkung melepaskan kain di mulut Helen agar dia bisa bicara.


"Lihat dirimu. Baru beberapa saat tubuhmu sudah sekurus ini. Apa kau lapar? Kau ingin makan sesuatu? Kau harus mencoba makanan di hotel ini jika tidak ingin menyesal," tambah wanita itu dengan santai.


"Kenapa anda melakukan ini? Apa yang telah saya lakukan sampai anda memperlakukan saya seperti ini, Mrs.Smith?"


"Pertanyaanmu banyak sekali ya. Tidak ada yang salah denganmu. Yang salah adalah si pelacur itu. Balerina sialan yang telah menggoda suamiku!" teriak Mrs.Smith. "Kau, keturunan pelacur, juga harus mati di tanganku. Seperti dia yang menangis darah minta pengampunanku hahaha..."


"Apa anda yang telah membunuh..." Helen tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


Mrs.Smith duduk di sofa putih. Melayangkan pandangannya." Aku membunuh wanita itu? Mana mungkin, sayang. Aku tidak sudi menyentuh pelacur seperti dia. Aku bisa menyuruh orang lain, bukan? Seperti menyuruh pengawalku ini. Mereka sangat profesional. Sebentar lagi mereka juga akan melenyapkanmu dalam sekejap."


"Anda sudah gila!" Helen meraung sambil menahan ketakutannya sendiri. Ia berhadapan dengan mafia sendirian.


"Gila? Ya...mungkin kau benar. Aku memang menjadi tidak waras sejak si pelacur itu mengacaukan hidupku! Sekarang enyahkan dia dari hadapanku!" perintah Mrs.Smith pada salah satu pengawalnya. Pria itu langsung mengeluarkan pistol berperedam suara dari jasnya dan bersiap menarik pelatuk. Di luar dugaan, tiba-tiba wanita itu berubah pikiran. Ia merebut pistol di tangan pria berjas hitam lalu mengarahkan ujungnys tepat di pelipis korbannya. Helen pun memejamkan matanya kuat-kuat. "Selamat jalan, sayang."


Saat pistol hendak ditekan, tiba-tiba serombongan petugas kepolisian mendobrak pintu hotel dan masuk secara paksa. Suasana memanas. Sekarang ada 2 kubu yang siap menembak. Mr.Smith belakangan muncul diikuti Mr. Pellison dan Barco.


"Sofie,stop! Hentikan semuanya. Jangan bunuh dia. Dia tidak bersalah." Mr.Smith mencoba mendekati istrinya.


"Jangan mendekat atau ku bunuh anak pelacur ini!" ancam wanita berambut ikal itu. Ia menyadari posisinya semakin terdesak.


"Sofie, please. Aku yang salah. Jika mau, bunuh saja aku. Jangan lagi mengotori tanganmu. Hentikanlah. Jika bisa meredakan amarahmu, bunuh saja aku. Marahlah padaku. Bencilah aku. Semua karena aku."


"Jika aku bisa melakukannya sudah kulakukan sejak dulu. Tapi aku tidak bisa karena aku mencintaimu, Ryan!" Mrs. Smith semakin berang.


Mr. Pellison mencoba menbantu."Sofie, listen to me. Jika kau membunuh anak itu, kau hanya akan menghancurkan hidupmu dan keluargamu. Kau bisa masuk penjara. Pikirkan Renata. Dia mencemaskanmu saat ini. Jangan lagi ingat masa lalu. Masa depanmu dan keluargamu lebih penting."


"I can't. Hidupku sudah hancur. Setiap malam wajah Carolina muncul di mimpiku. Aku akan tenang jika wajah yang mirip dengan wanita itu juga kumusnahkan."


Ketika lengah, salah seorang petugas polisi menyergap Mrs.Smith dari belakang. Ia mencoba merebut pistol dari tangannya. Maka, terjadilah perebutan senjata dengan sengit. Sampai akhirnya terdengar letusan tembakan dan beberapa orang di kamar itu berteriak. Mr. Smith memanggil istrinya. Barco segera menghampiri Helen dan mengamankannya. Tembakan itu mengenai jantung Mrs.Smith. Wanita itu pun tergeletak tak berdaya. Mr.Pellison segera memerintahkan salah satu petugas untuk memanggil ambulance seraya yang lain mengamankan pria berjas hitam.


Helen terbebas dari maut. Barco melepaskan ikatannya dan memeluknya dengan erat. Ia bisa merasakan ketakutan. "It's okey, Helen. Semua sudah berakhir. Kau sudah aman," bisiknya di tengah suara isak tangis.


Dengan sisa kekuatannya, Mrs. Smith meraih wajah suaminya. Di tengah rasa sakitnya ia berkata," I'm sorry, Ryan. I'm sorry. I love you..."


"I love you too, Sofie...please don't leave me..." pinta Mr. Smith terisak.


Suasana haru menyelimuti ruangan itu. Ketika ambulance datang, petugas langsung mengangkut korban dan melarikannya ke ruang emergency.


...😃...


Nick baru saja menutup telponnya saat seseorang membuka pintu dan mempersilakan dia masuk. "Stefy belum pulang, bi?"


"Belum. Mungkin sebentar lagi. Tadi saya sudah pamit pulang. Silakan tunggu di ruang tamu. Apa mau saya buatkan minuman?"


"Tidak usah, bi. Terimakasih. Saya hanya sebentar. Bibi bisa pulang. Saya bisa ambil minuman sendiri. Biasanya juga gitu."


"Kalau gitu, saya permisi."


Sepeninggal pengurus apartement, Nick mengamati foto-foto yang ada di atas piano. Ada foto sewaktu mereka berdua memakai seragam SD. Foto itu dibuat saat pertama kali mengikuti study tour. Waktu cepat sekali berlalu. Tanpa sadar Nick tersenyum mengingat kenangan indah itu.


"What are you doing here,Nick?" Stefy muncul. Menaruh tasnya di sofa. Mukanya tidak ramah.


"Are you okey?"


"I'm not okey. Sam memutuskanku. Kau puas sekarang?"


"Bukankah itu bagus bagi kalian? Kau tidak mencintainya. Lagipula kau memang berencana putus dengannya setelah lulus, bukan? Meski lebih cepat dari perkiraan."


Stefy kesal. "Bagus katamu? Apa yang kau tahu soal cinta? Kau bahkan tidak bisa mencintai seseorang. Apa kau pernah memikirkan perasaanku saat ini? Kau pikir aku akan senang setelah Sam mencampakkanku?!"


"Apa bedanya?"


"Apa kau belum paham juga tentang aku? Kau tidak punya rasa bersalah sedikitpun? Sudahlah. Aku tidak ingin melihat wajahmu untuk beberapa waktu. Pergilah." Stefy berbalik namun tangannya dicekal. "Nick, please."


"Aku sengaja ke mari untuk mengatakan bahwa Helen diculik. Jangan khawatir, dia sudah selamat. Sekarang dia ada di RS dan masih syok. Jika ingin tahu cerita lengkapnya, kau bisa bertanya langsung padanya. Dan mengenai Sam, aku menyesal atas apa yang terjadi padanya. Tapi jika aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama karena aku tidak ingin bersama dengan wanita yang memikirkan pria lain. Coba kau pikirkan. Apa selama ini kita berdua benar-benar hanya teman? Bagiku tidak. Aku pergi."


...😃...