
Seorang sekretaris bertubuh langsing baru saja menghadap atasannya di ruang kerja untuk memberikan laporan. Ketika mendapat jawaban singkat, ia keluar sebentar lalu membawa seorang pria paruh baya ke ruangaan tersebut.
Tuan rumah dengan hangat menyambut tamunya lalu mengulurkan tangan dan berpelukan. "Sudah lama kita tidak bertemu seperti ini, Andre. Padahal dulu kita sering jalan ya. Kau ingin minum sesuatu?"
"Tidak perlu repot," jawab tamu tersebut lalu duduk di sofa yang ada di tengah ruang kerja. Mukanya kelihatan lelah sekali.
Ryan Smith memberi isyarat agar sekretarisnya boleh keluar. Setelah hanya ada mereka berdua di ruangan itu, dia bertanya dengan suara rendah. "Apa terjadi sesuatu yang buruk? Kau kelihatan lelah."
Mr. Pellison menghela nafas sesaat. "Di luar dugaan, apa yang kita takutkan terjadi. Gadis itu menghilang. Ryan, ku pikir sekarang kau harus bertindak. Aku tahu ini sulit bagimu untuk membuat pilihan tapi apa kau ingin ada korban lagi karena kasus puluhan tahun lalu? Aku mengkhawatirkan putraku. Entah kenapa dengan bodohnya dia menyeret dirinya sendiri ke dalam masalah ini. Meski sudah ku peringatkan untuk berhenti."
"Sejak kapan gadis itu menghilang?" Mr.Smith mulai gusar.
"Anak buahku bilang kemungkinan kemarin lusa. Semoga dia masih hidup. Karena itu, cepatlah bertindak. Lakukan setidaknya demi mendiang Carolina."
Sementara masih bicara, di lantai bawah telah terjadi sedikit keributan. Hal itu membuat nona muda di rumah keluarga tersebut keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Ketika melihat tunangannya dihadang oleh para pengawal, ia pun turun tangan. "Apa yang kalian lakukan pada tunanganku? Biarkan dia masuk."
"Nona, kami mendapat perintah dari tuan besar untuk mencegah siapa pun masuk ketika beliau masih bicara dengan tamunya di ruang kerja."
"Kau ingin menemui daddy?" dahi Renata berkerut. "Ada masalah apa? Ku pikir kau ingin bertemu denganku." Barco terdiam. "Lepaskan dia. Aku yang akan bicara dengan daddy nanti," perintahnya pada para pengawal.
Saat terbebas dari rintangan, Barco mendekat dan bicara," Renata, terimakasih. Maaf, untuk saat ini aku harus menemui ayahmu secepatnya. Tolong beritahu aku, dimana beliau sekarang?"
"Apa yang terjadi? Kau kelihatan cemas. Daddy ada di ruang kerjanya. Tapi, apa kau tidak ingin minum teh dulu untuk meredakan ketegangan? Baru kali ini aku melihatmu begini,Barco." Renata ikut khawatir.
"Aku tidak punya banyak waktu. Akan ku ceritakan setelah semuanya selesai. Antar aku ke ruang kerja sekarang. Please."
Tanpa bertanya lagi, Renata memandu tamunya ke ruang kerja. Di sana, ia pun semakin heran mendapati Mr. Pellison duduk di sofa dengan ekspresi yang hampir sama dengan Barco. Begitu juga dengan ayahnya.
"Dad!" Barco hampir tidak percaya. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kalian bersekongkol membohongiku?"
Sebelum Mr. Pellison menjelaskan alasannya, Mr.Smith langsung memotong. "Barco, jangan salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya."
"Saya tidak perlu mendengar ucapan anda, Mr. Smith. Katakan dimana Helen sekarang! Jika sesuatu yang buruk terjadi, saya tidak akan pernah memaafkan anda. Aku juga tidak akan bisa memaafkanmu,dad!" Barco mulai berteriak.
Renata yang tidak tahu apapun hanya terdiam. Dia melihat kemarahan di mata tunangannya. Situasinya buruk.
"Renata, dimana mamamu sekarang?" tanya Mr.Smith akhirnya.
"Mom pergi kira-kira 30 menit yang lalu. Dia bilang ada urusan penting. Bahkan supir tidak dibawa."
Mr. Pellison berkata pada putranya,"akan daddy jelaskan semuanya di mobil. Kau membawa pistolmu?"Barco mengangguk. "Good. Let's go."
"Renata, tunggulah di rumah selagi kami pergi. Terlalu berbahaya jika kau ikut. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah," pesan Mr. Smith pada putrinya sebelum pergi.
"Okey. Take care." Renata melepas kepergian mereka dengan perasaan cemas. Dia tidak tahu siapa itu Helen. Tapi apa pun itu, dia tidak ingin susuatu yang buruk terjadi.
...😃...
Di waktu yang sama, Stefy baru saja turun dari mobil setelah memberi instruksi pada supir untuk menunggu selama 1 jam. Perasaannya kacau. Banyak kemungkinan buruk yang ia bayangkan dan hal itu membuatnya semakin stres. Ia sudah melewati pintu gerbang sekolah dan sampai di lapangan basket, tempat Sam berlatih.
Meski ragu, ia telah bertekad dan memberanikan diri untuk mendekati pemain itu. Ketika kehadirannya diketahui dan hanya disambut dengan tatapan dingin, ia pun memilih untuk menepi dan menunggu di pinggir lapangan tanpa berkata apa-apa.
Saat itu udara sore semakin dingin. Langit mulai gelap. Angin terasa semakin menggigit di musim penghujan. Stefy berharap hujan tidak datang di saat yang kurang tepat.
"Dari mana kau tahu aku di sini?" akhirnya Samuel mendekat dan membuka mulutnya.
"Hanya tempat ini yang muncul di kepalaku ketika kau tidak mejawab semua telponku. Kalau kau marah atau kesal, kau pasti ke sini."
"Jika kau mengenalku sebaik itu, apa kau tahu apa yang membuatku kesal dan marah sekarang?"
Stefy tidak langsung menjawab. "Rachel mengatakan kau datang ke RS hari ini. Jika kau melihat aku dan..."
"Apa ini pertama kalinya kalian berciuman?" potong Sam dengan pandangan menusuk. Lengannya yang kuat menarik lengan kekasihnya lebih dekat. "Kenapa kau diam? Perlu ku ulangi pertanyaannya? Apa hari ini adalah yang pertama?"
Kedua tangan Stefy mengepal kuat lalu ia pun menjawab," ini yang kedua."
Sam tersenyum sinis. "Ku pikir kau akan berbohong tapi ternyata kau cukup bernyali mengakui kesalahanmu. Walaupun itu sangat menyakitkan."
"Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu,Sam. Aku salah dan minta maaf. Tapi apa yang kau lihat tidak sepenuhnya seperti apa yang kau pikir. Aku tidak ingin membuatmu terluka."
"STOP!" Sam berusaha menahan semua amarahnya. "Aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana kau menikmati ciuman itu. Kau masih ingin bilang tidak ingin membuatku terluka? Waktu itu, ketika di vila orangtuamu pun...kau pikir aku tidak tahu apa yang si brengsek itu lakukan padamu di kamar? Aku memilih diam tapi aku tidak bodoh. Aku ingin percaya padamu dan memberimu kesempatan. Tapi apa yang ku dapat? Pengkhianatan!" Sejenak ia membuang tatapannya dan mengatur nafas. "Kita sudahi saja. Kita hentikan semua drama ini. Aku lelah. Pulanglah. Tak ada yang bisa kau lakukan untuk mengubah keputusanku."
Stefy meraih lengan Sam dengan sekuat tenaga. Matanya sudah sembab. Tapi sayang, air mata tidak bisa meredakan kemarahan, kekecewaan, dan juga sakit yang ditimbulkan. Sam benar-benar terluka dan ia butuh waktu untuk sendiri.
...😃...