
Berbeda dengan tamu lainnya yang tersihir oleh pertunjukan Helen, Nick memilih untuk menghabiskan malam itu bersama Sabrina di lantai dua, tepatnya di ruang kerja Mr. Robert. Tentu saja, tanpa sepengetahuan siapapun. Di sana, Nick menikmati cumbuan yang panas dan bergairah. Dia bisa merasakan nafas Sabrina di wajahnya, begitu juga sebaliknya.
"Oh, Nick. I love you so much."
"Love you too..." jawab Nick sembari menaruh tangannya di paha gadis itu. Perlahan naik ke atas sambil terus menyerang dengan ciumannya yang mematikan. Sabrina sedikit merintih saat tubuhnya terdorong ke dinding. "Ups, sorry...are you okey?"
"Just keep going..." bisik Sabrina.
Mereka berdua larut dalam kesenangan dan terus saling menyerang. Sesekali berbisik. Sesekali tertawa kecil. Sayangnya, kesenangan itu tidak bertahan lama. Tiba- tiba suara kaki membuat keduanya menarik diri ke sudut, bersembunyi di belakang gorden. Mereka berusaha tidak membuat suara dan berusaha mengamati apa yang terjadi.
Dua orang masuk. Si pria menarik lengan sang gadis dengan kasar. Gadis itu berusaha melepaskan diri. Lawannya lebih kuat dan usahanya pun sia-sia.
"Well, now tell me. what are you doing here?"
"It's not your business," desis gadis berpakaian balerina itu. Ia masih terus berusaha menepis lawannya dan ingin segera pergi dari ruangan itu.
"Look, aku akan berusaha lebih lembut jika kau berterus terang. Katakan apa tujuanmu datang ke Jakarta."
"Yang pasti tidak ada hubungannya denganmu. Hubungan kita sudah berakhir dua tahun lalu. Itu adalah pengalaman paling buruk dalam hidupku. Aku tidak pernah berharap atau pun bermimpi untuk memiliki hubungan dengan manusia sepertimu. Tidak punya hati nurani sama sekali. Apa yang kau lakukan terhadapku adalah kriminal. Bodohnya aku bisa jatuh cinta dengan pria seperti ini. Benar-benar memalukan. Tapi itu dulu. Sekarang aku tidak merasakan cinta sama sekali. Satu-satunya yang ku rasakan terhadapmu hanyalah kebencian. Aku benci melihatmu. Aku benci bicara denganmu. Aku benci bersentuhan denganmu. Apa itu jelas?"
Nick maupun Sabrina bisa melihat amarah di mata balerina itu. Namun mereka memilih diam di tempat persembunyian. Seakan menikmati adegan drama secara live.
"Is it true? Kau datang bukan karena aku?" Pria berambut ikal itu mendekatkan wajahnya. Menyelidik lebih dalam.
"Aku sudah katakan berulang kali. Aku bahkan tidak berharap kau muncul di hadapanku malam ini."
Hening. Namun sesuatu membuat suasana menjadi sulit. Tiba-tiba ponsel Nick berdering. Membuatnya harus keluar dari persembunyian.
"Siapa di situ?!" Pria berambut ikal memandang ke sudut ruangan dengan kesal. "Keluarlah. Oh, kau..."
Nick berdiri dengan tenang dan menjawab,"yeah...it's me. Hai, Barco. Long time no see. Sepertinya kau sibuk, ya?" sindir Nick.
Dengan mata menyipit, Barco menjawab, "seperti yang kau lihat. Tapi...sepertinya kau juga sibuk...ber-cin-ta." Kali ini bola matanya tertuju ke arah Sabrina. "Hai, Sabrina. Sepertinya rumor itu tidak salah," sindirnya lagi. Lengannya masih mencengkram kuat sang balerina, seakan tidak ingin melepaskan tawanannya begitu saja.
" Kami memang dekat seperti sahabat," sanggah Sabrina cepat.
"Oh ya? I see," kembali Barco tersenyum sinis. "Kalian sangat dekat sampai memilih ruang tersendiri untuk berduaan, di sudut ruangan yang sangat privasi."
Lagi-lagi ponsel Nick berteriak. Ia segera menjawab singkat dan mematikannya. Perhatiannya kembali ke lawan bicaranya saat itu."Apa yang kami lakukan di sini bukanlah urusanmu. Sebaiknya kau lepaskan cengkramanmu dari gadis itu. Kelihatannya dia mulai kesakitan atau...kau lebih suka berurusan dengan pihak berwajib atas kasus kekerasan terhadap wanita?"
"It's not your busines, Nicholas Handerson!" Barco menaikkan nada suaranya.
"True. Tapi mungkin Mrs. Boncili lebih tertarik dengan apa yang kau lakukan terhadap gadis itu. Ku dengar baru-baru ini, beliau baru saja diangkat sebagai ketua komite pemberdayaan wanita. Bukankah ini bisa mendatangkan masalah untukmu?" terang Nick dengan santai.
" Lalu, apa yang kalian lakukan berdua di sini, apakah bisa dinilai bermoral?" Barco balas mengancam.
"Semua orang tahu kami adalah rekan satu profesi. Kami senang membicarakan pekerjaan. Di mana pun. Kapan pun..."
Seseorang membuka pintu dari luar. Semua mata memandang ke arah gadis berlesung pipit, yang juga ikut menatap ke dalam ruangan dengan wajah keheranan. "What's going on here? Nick, you tell me."
Tanpa banyak bertanya, Stefy menarik tangan balerina itu. Meninggalkan ruangan. Menuntunnya turun dan memberinya minum. Dia bisa merasakan kekhawatiran dan ketakutan. "Are you okey?"
"Yeah...better now. Thank you..."
"Stefany, but please call me Stefy."
"Helen," sang balerina mengulurkan tangannya.
"I know. Elle dan Regina memberitahuku ketika kau tampil tadi. Kau berbakat. Apa benar kau akan pindah ke International High School?"
"Wow, berita cepat sekali menyebar,ya."
"Di dunia ini, tembok pun bisa berbicara. Sometimes it's scary, trust me," canda Stefy sambil meraih cookies di meja.
Helen tersenyum. "Yeah, i knew it. Kau suka balet?"
"Ya. Aku ikut klub balet. Jadi...kita akan bertemu lagi."
"Nice. Oh, thank you so much for your help and your friend..."
"Nicholas," potong Stefy.
"...and for Nicholas also. Thank you. Kalian menyelamatkanku."
"No problem. Kami senang membantu. Terutama Nick. Dia memang lemah jika melihat wanita dikasari. Padahal, dia juga sering menyakiti para wanita. I mean not physically but you know...dengan parasnya dan profesinya sebagai aktor terkenal, banyak kaum hawa yang berharap lebih dan..."
"Ahhhh...aku paham maksudmu." Helen mengambil buah dan mulai mengunyah. " So, Nick seorang aktor?"
" You don't know?"
"Sorry. Aku baru kembali dari Paris beberapa hari lalu. Aku tidak kenal aktor maupun aktris di Indonesia."
"I see. Ya, Nick bermain di beberapa layar lebar. Gadis yang kau lihat bersamanya tadi itu lawan mainnya di film 'love letter', film yang akan tayang di bioskop bulan ini.
"Oh, sounds good. Lalu, apa kau juga aktris?"
"Me? Bukan. Aku model. Tapi aku juga suka balet. Jadi aku ambil ekskul itu. How about you?"
"Aku suka balet. Sejak kecil ini impianku. Aku ingin menjadi seorang balerina profesional."
Stefy mengangguk paham. "I see. Kadang, kita hanya ingin berfokus pada satu hal saja. Seperti Rachel, sahabatku. Kau lihat gadis yang sedang bermain piano itu? Impiannya adalah menjadi pianis profesional yang bisa go international."
Helen mengikuti arah mata Stefy dan mengangguk. "Well, mungkin next time aku bisa berkenalan juga dengan Rachel."
"Why next time? Come on. Follow me." Stefy menarik tangan Helen ke tengah ruangan.
...😃...