NO RELATIONSHIP IN FRIEND?

NO RELATIONSHIP IN FRIEND?
Empat: What is your dream?


Nick baru saja merebahkan dirinya di sofa ketika sahabatnya masuk ke apartemen pribadinya. Sedangkan keluarganya tinggal di lantai yang berbeda. Ia melepaskan dasi dan kemeja. Menuang air es lalu meneguknya.


Stefy duduk di sebelah Nick menunggu penjelasan. " What are you doing with Barco? I just don't get it."


"Me too". Kembali Nick bersandar di sofa sebelum memulai ceritanya. "Aku dan Sabrina ada di ruangan itu lebih dulu. Don't judge me...you know me so well," potong Nick saat stefy mulai mencibirnya. " Lalu Barco masuk bersama gadis itu. Mereka bertengkar. Membicarakan hal di masa lalu yang tidak ku mengerti. Sampai akhirnya, kau meneleponku dan membuat persembunyianku ketahuan. Kau datang dan setelah itu seperti yang kau tahu..." untuk kesekian kalinya Nick meneguk air es.


"Dia mengucapkan terimakasih untukmu. Sepertinya hari ini kau telah menjadi seorang penyelamat. Good boy." Stefy menepuk punggung teman kecilnya itu dengan bangga. Sesuatu yang jarang ia lakukan.


"Kau sempat bicara dengannya?"


"Namanya Helen. Baru datang dari Paris dan kita akan sering bertemu dengannya di sekolah." Nick spontan bersiul. " Dia juga akan bergabung di club balet. Dia balerina berbakat. Banyak tamu memujinya setelah pertunjukan tadi."


"Oh ya? Wah, jadi aku telah melewatkan sesuatu yang seru?"


"Karena kau terlalu sibuk dengan Sabrina, kau telah menyia-nyiakan tontonan gratis yang menarik."


"Sayang sekali. Aku harus melihatnya lain waktu."


"Don't worry. Dua bulan lagi, seperti biasa, akan ada pertunjukan balet di sekolah. Ku rasa, Mrs. Kahn akan merekrutnya. Jika perkiraanku benar, kau bisa melihatnya saat itu."


"Kau juga ikut?"


"Tentu saja. Pastikan kau hadir."


"Okey."


"Well, aku harus istirahat." Stefy beranjak dari sofa tapi sesuatu membuatnya membalikkan badan. "Oh ya. Aku melihat pergelangan tangan Helen merah. Apa karena Barco menyakitinya, kau langsung menyuruhku membawanya pergi?"


Nick mengangguk. "Mereka bertengkar. Dia tidak menjawab pertanyaan yang Barco ajukan. Jadi, si brengsek itu memulainya dengan kekerasan."


"Kau teringat mamamu?" Stefy mendekat lalu memeluk Nick dan mengusap punggungnya. "It's okey. Aku di sini. Aku tahu kau belum bisa melupakan kejadian itu. Semua anak pasti akan mengalami hal yang sama sepertimu tapi jangan lupa...di sekitarmu kau punya orang-orang yang menyayangimu."


"Thank's.I don't know what will happen to me if you're not here."


...😃...


Pagi ini udara sangat bagus. Matahari tidak terlalu terik. Bisa dibilang sejuk. Stefy berharap tidak hujan karena dia benci hujan. Dia tidak suka dengan jalanan berair yang menggenang. Dia tidak suka jika harus pakai payung atau jas hujan. Intinya, dia benci hal yang merepotkan.


Sama halnya dengan Nick. Dia juga lebih suka hal-hal praktis, serba cepat dan to the point. Itu yang dipelajari dari papanya. Dia dilahirkan dari keluarga pengacara ternama yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Sayangnya, jurusan hukum bukanlah cita-cita yang ingin dia raih. Dia lebih suka akting dan bertemu banyak orang di lokasi syuting. Setidaknya, hal itu bisa menjauhkannya dari rasa kesepian.


Seperti yang telah direncanakan beberapa minggu sebelumnya, keluarga Jackson akan merayakan Anniversary day di tempat yang telah ditentukan, yaitu di peternakan kuda milik keluarga. Di hari itu, semua anggota keluarga akan berkumpul, termasuk kakak Stefy nomer dua, Miranda, yang berdomisili di Amerika. Ia dikenal sebagai aktris yang juga aktif mengikuti fashion week. Tak heran, Stefy merasa luar biasa bahagia hari itu karena bisa ketemu kakak sekaligus idolanya.


Rachel baru saja tiba ketika Stefy menuntun "Lady star", kuda coklat kesayangannya, keluar kandang. Dengan pakaian berkuda lengkap, ia sudah siap berkeliling peternakan. "Rachel, kau baru datang? Cepatlah ganti pakaianmu dan bergabung dengan kami. Sam masih ada di kandang kuda sedangkan Nick masih bicara dengan kakakku di vila. Masuklah. Kamarmu sudah siap."


"Ok. Sorry. Tadi ada urusan yang harus ku selesaikan dulu sebelum kemari. You know what? aku mendapatkannya. Beasiswa ke Austria!"


"No way! You got it?!" ulang stefy setengah berteriak. "Yeyyyyy!!!" Ia memeluk Rachel tapi beberapa detik kemudian berhenti. "So, you will leave me? Oh...how can u be so cruel?"


"But, u will happy for me, right ?"


"Of course, baby! Come to me!" Stefy merentangkan tangannya lebar-lebar untuk kedua kalinya dan Rachel mendekat sehingga mereka kembali berpelukan. Keduanya melompat dengan gembira.


"Ehem...apa aku melewatkan sesuatu yang seru?" tanya pria tinggi kekar dengan tangan menyilang di dada.


"Sam, Rachel dapat beasiswa ke Austria!"


"Oh, wow. Good news. Congratulation!" Sam mengulurkan tangannya yang disambut dengan antusias.


"Thank's guys. Tapi aku akan pergi setelah lulus SMA. Jadi, kita masih ada waktu ketemu buat seneng-seneng. Aku nggak mau meninggalkan acara paling penting setelah tiga tahun sekolah di International High School. I mean prom night."


"Sure," timpal Stefy. " Itu acara paling penting. Tapi belum ada penentuan kostum. Masih ada beberapa bulan lagi tapi rasanya akan cepat berlalu dan aku harus melepaskan sahabatku yang bagaikan malaikat ini pergi." Untuk sekian kalinya Rachel memeluk sahabatnya erat-erat.


"Well, kalau begitu hari ini anggaplah sebagai perayaan untuk Rachel. Kita akan bertanding dan bersenang-senang. Siapa yang kalah akan traktir Rachel makan di restoran, okey?"


"Agreeeee!!! I'll text Nick so he can join with us," timpal Stefy.


"Ok. Aku akan ganti baju dulu." Rachel pamit meninggalkan pasangan kekasih itu berdua saja.


Stefy sedang mengetik pesan saat Sam menaiki kudanya. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya,"honey, apa rencanamu setelah lulus nanti?"


" Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?" Gadis berlesung pipit masih sibuk mengetik.


"Hanya tiba-tiba terlintas di pikiranku. Setiap orang punya cita-cita. Seperti Rachel yang berusaha mengejar impiannya sampai ke Austria. Aku pun akan terus bermain basket sampai lelah. Tapi, mungkin juga akan berfokus pada bisnis properti seperti papa. Bagaimana denganmu? Belum pernah kau membicarakan rencanamu setelah lulus. Apakah kau akan terus menekuni model?"


Stefy terdiam dan teringat rencananya terhadap Sam setelah lulus nanti. "Sejujurnya aku sendiri belum memutuskan secara pasti. Mungkin, akan terus di dunia modeling sampai waktu yang belum ditentukan atau menekuni balet dan sekolah ke luar negeri. Tapi, untuk saat ini semua belum ku putuskan."


"Just let me know, honey."


...😃...