NO RELATIONSHIP IN FRIEND?

NO RELATIONSHIP IN FRIEND?
Delapan: Promise and deal


Sebuah mobil berwarna hitam baru saja menepi di depan lobby apartment. Dua orang turun disambut petugas keamanan yang selalu siap berjaga di pintu masuk.


"Thanks,Nick, atas tumpangannya," ucap Miranda sebelum berpisah di depan lift.


"Sama-sama,kak. Masih tinggal sama Stefy sampai minggu depan?"


"Yeps. Oh ya. Hampir aja lupa. Ikut ke lantai 17, ya. Aku ada kejutan untukmu."


" Oh, kelihatannya aku dapat oleh-oleh,nih."


"Something like that. Stefy akan sampai 30 menit lagi. Jadi, lebih baik kita cepat naik sebelum dia dan Sam datang." Nick setuju. Mereka sama-sama ke lantai 17. Miranda menekan nomer akses apartment lalu membuka pintunya. Ia mempersilakan tamunya duduk kemudian ia sendiri masuk ke kamar dan membongkar muatannya. Setelah menemukan kotak hitam, ia membawanya ke luar dan memberikannya pada Nick. "Semoga kau suka." Ia beranjak ke dapur dan mengambil sesuatu di dalam lemari es. Menyodorkan bir kaleng yang disambut tamunya dengan ekspresi bahagia.


"Kakak masih ingat aja kesukaanku." Nick meneguk minumannya.


"Tentu saja. Aku mengenalmu sejak kecil. Kau itu seperti adikku. Kau suka hadiahmu?"


"Arloji ini edisi terbatas, kan?"


"Wah, kau tahu barang bagus rupanya."


"Beberapa minggu lalu aku juga dapat hadiah seperti ini, cuma beda merk. Mungkin ke depannya aku bisa jadi kolektor jam mahal," canda Nick.


"Ya, punya hobi sampingan tak masalah asalkan itu menguntungkanmu. Bisa untuk investasi."


"Thank's,kak."


Hening. Nick masih asik mengamati jam barunya. Sementara Miranda yang duduk di sebelahnya mulai memikirkan sesuatu sebelum akhirnya bersuara."Nick, aku melihatmu kemarin malam di kamar Stefy. Kau tahu kan aku menderita insomnia dan malam itu aku berpikir untuk bicara berdua dengan adikku sampai larut malam. Kami sudah lama tidak ngobrol sejak aku tinggal di Amerika." Tidak ada tanggapan. Miranda pun melanjutkan. "Pintu kamarnya sedikit terbuka saat itu dan aku bisa dengar apa yang kalian bicarakan. Look, aku tidak bermaksud menguping. Aku langsung pergi ke kamarku. Lalu, pagi ini aku melihatmu tidak bicara sampai akhirnya aku menemukan kalian bertengkar di halaman." Nick masih diam. "Nick, aku tidak ingin menghakimi siapa pun. Aku tidak tahu keseluruhan kejadiannya..."


"I kissed her," potong Nick akhirnya.


Miranda terdiam. "I see..." Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya lalu meraih bir di meja dan meneguknya dengan cepat.


"Malam itu setelah minum obat, kepalaku memang terasa lebih baik. Aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya. Aku menyesal sekarang."


"Nick, it's not a game..."


"I knew it and i'm sorry. Really. Aku terbawa suasana. Malam itu aku melihat foto...sewaktu aku dan Stefy berumur 7 tahun. Ada foto mom. Setelah itu dia datang lalu menenangkanku seperti biasanya. Kemudian dia menceritakan pengalaman yang membuatnya bahagia dan wajahnya sangat gembira. Lalu karena itu...aku mulai terbawa suasana dan akhirnya menciumnya."


"Apa dia langsung menamparmu? Seperti yang ada di film-film?" Miranda mencoba membuat gurauan tapi Nick hanya menggeleng.


"Dia tidak menamparku. Dia diam dan tidak melawan. Karena itu..."


"Karena itu kau menciumnya lagi?" tebakan Miranda membuat Nick lagi-lagi terdiam.


"Ya, tapi tidak lama kemudian dia mendorongku dan mengusirku keluar. Dan sampai saat ini ia menolak untuk bicara denganku."


"Tentu saja. Dia pasti kaget dan bingung karena kalian berteman sudah lama. I know my sister. Beri dia waktu. Kalian akan kembali berbaikan. Trust me.Tapi, kalau boleh tahu, bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Kau menyukai adikku?"


Miranda menepuk pundak Nick. "Bad boy, yang harus kau lakukan sekarang adalah memastikan dulu perasaanmu dan jangan pernah membuat wanita bingung."


Suara pintu membuat penghuninya menoleh. Stefy muncul dengan koper di tangan. Ia melihat Nick bersama kakaknya tapi memutuskan untuk tidak bertanya.


"Aku mau istirahat dulu. Stefy, tolong bangunkan aku jam 19.00. Aku ada telpon penting." Miranda bangkit lalu berbisik sebelum pergi."Bicaralah dengannya. Good luck, bad boy." Menepuk pundak Nick sekali lagi sebelum akhirnya menghilang.


"Aku mengambil oleh-oleh dari kakakmu," ucap Nick mengakhiri keheningan. Stefy hanya melirik kotak hitam di sofa tanpa bergeming. Nick berdiri dan mendekat,"Where's Sam?"


"Dia hanya mengantarku sampai lobby dan pulang," Stefy menjawab dengan malas. "Jika tidak ada yang ingin kau lakukan, lebih baik kau pergi. Aku juga perlu istirahat."


"We need to talk. Please," pinta Nick setengah memohon. Ia meraih tangan gadis itu dengan lembut dan berkata,"i'm really sorry. I was wrong. Please forgive me. I don't want to lose you."


Stefy diam lalu menjawab," mee too but..." Ia menatap mata Nick. "Jangan pernah lakukan itu lagi,okey? *P*lease."


"Promise." Nick memperlihatkan jari telunjuk dan tengahnya. Gadis itu pun melunak. "So, aku dapat pengampunan?"


"Of couse. You're my bestfriend." Stefy memeluk Nick erat.


"Good."


...😃...


Sore itu sebelum kelas berakhir, Rachel menerima secarik kertas yang dilempar ke arahnya dari belakang. Ia pun menoleh dan melihat Stefy. Kemudian ia membaca isinya dan langsung menyodorkan ibu jari.


Tak lama kemudian, bel pulang sekolah berbunyi. Saatnya para siswa masuk ke klub masing-masing. Sebelum keluar kelas Stefy berkata,"jangan telat. Kamu bisa bantu aku siapkan kuenya juga." Rachel pun mengangguk setuju. Sang model cepat-cepat melangkah ke koridor dan menaiki tangga di lantai 3, tempat klub balet berada. Seperti dugaannya, ia langsung menemui Helen yang baru bergabung dan menyambutnya seperti yang dilakukan anak lain. "So, wellcome to our club,Helen. Nice to meet you again."


Helen langsung menyambut uluran tangan yang ditujukan padanya. "Thank you. Ku pikir kita sekelas. Padahal aku berharap ada di kelas yang sama denganmu."


"It's okey. Karena kamu ada di kelas B, kamu bisa mengawasi Sam, my boyfriend. Dia cukup populer. Tinggi, atletis, ganteng, dan baik. Dia gabung di klub basket. Next time kita bisa nonton pertandingan basketnya sama-sama. Kau pasti akan tersihir," cerocos Stefy.


"Really? Okey, dengan senang hati. Meskipun aku tidak begitu ingat siswa-siswi di kelasku karena baru hari pertama. Mulai besok akan lebih kuperhatikan. Aku pasti membantumu mengawasi Sam."


"You so cute, Helen. Thank's. Well, sebelum aku lupa, aku ingin mengundangmu ke pesta besok di apartemenku dan kau wajib datang. Kau boleh ajak satu teman. Anggap saja ini pesta penyambutan dan...oh ya, kau bisa bertemu Nicholas. Dia yang waktu itu menolongmu saat terjadi insiden di rumah Mr.Boncili. Dia juga cukup populer di sekolah ini karena dia aktor. Jika beruntung, kau bisa bicara dengannya sebelum gadis-gadis lain mendekatinya. Oh ya, kau harus ikut denganku sekarang," Stefy menyeret Helen ke sudut menemui wanita paruh baya yang memakai kacamata hitam. "Mrs.Kahn, perkenalkan ini Helen. Dia baru bergabung di klub balet hari ini."


"Oh, selamat datang. Aku sudah dengar tentangmu. Kau baru pindah dari Paris?"


"Benar, Mrs.Kahn."


"Well, bisa kau perlihatkan tarian baletmu padaku? Kami akan mengadakan pertunjukan dan aku sedang menyaring siswi-siswi berbakat di klub ini untuk menjadi kandidatnya. Kau tertarik?" Helen dan Stefy berpandangan. "Jika kau berminat, kau bisa ganti pakaianmu sekarang dan biarkan aku melihat kemampuanmu hari ini."


"Terimakasih Mrs.Kahn. Saya akan kembali setelah berganti pakaian," jawab Helen akhirnya. Dia masih tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Ini benar-benar kesempatan bagus dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya.


"Kau pasti berhasil mendapatkan peran di pementasan kali ini. Firasatku selalu bagus loh..." celetuk Stefy ketika mereka berdua meninggalkan ruang utama menuju ruang ganti.


...😃...