
Sam meraih botol minumnya di pinggir lapangan ketika Stefy datang sambil menyodorkan handuk kering. Dengan senang hati pebasket itu menerimanya dan langsung membelai rambut kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Tidak peduli dengan banyaknya mata yang melihat ke lapangan dengan perasaan iri.
"Jangan lupa acara nanti malam,ya."
"Pasti. Ada yang perlu ku bawa? Mungkin minuman atau makanan?"
Stefy berpikir. "Hmm...tidak perlu. Cukup bawa dirimu saja aku sudah senang. Pastikan penampilanmu ok, baby. Oh ya, apa kau melihat Helen? Hari ini dia tidak datang ke club balet."
"Anak baru itu? Tidak. Aku buru-buru keluar kelas tadi. Pelatih sudah berteriak dan aku tidak ingin kena hukuman lari mengelilingi lapangan gersang ini sendirian," keluh Sam setengah bercanda. "Apa ada sesuatu yang penting?"
"Nope. Ku pikir akan lebih baik jika ku ajak dia ke apartement lebih awal. Never mind. I'll see you tonight." Stefy mencium pipi Sam dan menghilang di ujung gerbang sekolah.
...😃...
Dengan langkah santai, Helen berjalan menyusuri koridor. Melewati beberapa kelas, sebelum akhirnya sampai di depan ruang kepala sekolah. Gerakan kakinya terhenti ketika melihat sosok pria yang ia kenal tengah berdiri tepat di depannya. Orang itu membawa file di tangannya. Dengan malas, Helen pun bertanya," apa sekarang kau sedang membuntutiku? Hari-harimu pasti sangat membosankan sampai kau harus datang dan menggangguku terus."
"Kau selalu percaya diri. Itu yang membuatku suka."
"Tapi aku tidak menyukaimu lagi karena kau sudah berubah menjadi mafia."
Barco tersenyum sinis dan tidak memperdulikan kata-kata kasar yang baru saja dilontarkan Helen padanya."Kau yang seperti ini, membuatku jatuh hati lagi terhadapmu,baby."
"Oh, jadi kau sekarang mengakui ternyata kau masih punya perasaan terhadapku? Sayangnya, bagiku kau sudah mati. Jadi, jangan buang waktu dan cepatlah angkat kaki dari sini sebelum satpam mengusirmu sebagai penyusup dengan tujuan tidak jelas," ancam Helen dengan tatapan tajam.
"Penyusup? Sayangnya, kau harus menerima kenyataan bahwa mulai besok kita akan sering bertemu di sekolah ini. Kita sekelas. Oh, jangan bermuka masam begitu. Apa kau tidak akan menyambutku?" jelas sekali Barco menangkap amarah di mata lawannya.
"Apa maksudmu?" Sebuah suara membuat mereka berdua terdiam. Nick yang masih menggunakan atribut anggar langsung mendekat dan menuntut penjelasan. "Apa kau tidak akan menjawab pertanyaanku? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah...rivalku sudah datang. Kita bertemu lagi,Nick. Sayangnya...bukan di arena anggar," jawab Barco santai.
"Hentikan basa-basimu dan cepat jawab pertanyaanku. Aku sama sekali tidak senang melihatmu di sini." Nick mulai geram.
"Oh, jangan terlalu kasar begitu terhadap siswa baru. Mulai besok kita akan sering bertemu. Kau di kelas A, aku di kelas B, sekelas dengannya." Barco menunjuk Helen. "Kita juga akan bertemu di klub anggar. Siapa tahu, kita bisa jadi teman."
"In your dream," tolak Nick mentah-mentah. Helen spontan tertawa.
Dari belakang Helen, muncul Stefy dan Rachel dengan ekspresi bingung. Ia pun bertanya," apa yang terjadi di sini? Helen, aku mencarimu di klub tapi kau tidak ada. Aku ingin mengajakmu ke apartemenku lebih awal sebelum pesta dimulai. Kau bisa ikut denganku?" Helen belum sempat menjawab ketika Stefy menangkap sosok lain yang juga ia kenal."Hei, apa yang kau lakukan di sini, Barco?"
"Hai, cantik. Apa kau mau mengundangku? Sepertinya aku mendengar ada pesta malam ini."
Sang model langsung memasang tampang galak. "Kau tidak diundang, Barco. Pesta ini khusus untuk siswa-siswi International School . Orang asing tidak boleh datang. Apa yang dilakukan para security sampai orang ini bisa masuk ke sekolah kita dengan seenaknya?"
"Tapi aku juga murid di sekolah ini, darling," jawab Barco santai.
"Apa otakmu bermasalah hari ini? Kau menderita amnesia? Kembalilah ke habitatmu dan jangan ganggu kami," usir Stefy dengan ketus.
Barco tidak bergeming. "Mungkin aku harus memberimu kabar baik ini. Mulai besok aku akan menjadi siswa baru di sini dan aku akan sekelas dengan Helen, teman barumu yang manis itu."
Rachel dan Stefy saling berpandangan ngeri. Helen membenarkan berita itu. Sang model yang belum bisa menerima kenyataan langsung berkata," kau pasti sudah gila. Dari sekian banyak sekolah di Jakarta, kenapa kau harus ke sekolah kami?"
"Well, pertanyaan bagus. Anggap saja aku bosan dan perlu suasana baru. Aku paham sekali kalau kalian semua pasti tidak akan merasa nyaman, tapi percayalah aku memiliki banyak sisi positif yang belum kalian ketahui."
" Dasar gila. Aku tidak perlu mendengarkan semua omong kosong ini. Rachel, ayo bawa Helen pergi. Nick, jangan sampai telat nanti malam." Stefy menarik tangan Helen menjauh sebelum kesabarannya habis.
"Hei, kau yakin tidak akan mengundangku malam ini?" teriak Barco.
"Kau tidak diundang dan jangan berani datang tanpa diundang. Aku akan menempatkan banyak bodyguard di depan pintu untuk mengusirmu jika kau berani muncul dengan mukamu yang menyebalkan itu!" ancam Stefy emosi.
Barco cekikikan lalu menoleh ke arah Nick. "Dia lucu sekali. Kalian berdua masih jadi teman? She's cute. Kau akan menyesal jika membiarkannya berada di pelukan orang lain."
"Jaga ucapanmu!" Nick meraih kerah Barco dan hendak mendaratkan pukulan namun berusaha ditahannya."Listen carefully. Aku tidak tahu apa tujuanmu sebenarnya tapi jika kau datang untuk mengganggu ketenangan kami, lebih baik kau berpikir ulang dan cepat pergi."
"Sepertinya kau cukup mengenal keluargaku."
"Siapa yang tidak mengenalnya? Kau pikir aku tidak punya banyak informan? Aku beri saran padamu. Berhati-hatilah sebelum bertindak lebih jauh." Dengan kasar Barco menepis cengkraman Nick dan pergi sembari bersiul.
...😃...
Miranda sibuk menyambut tamu ketika adiknya dan kedua temannya turun dari tangga dengan suara ribut. Sementara Sam baru saja datang bersama teman-teman klub basketnya. Mereka berpencar mencari gadis-gadis cantik. Nick sendiri memilih menghabiskan malam itu di tepi meja bar dan menikmati alunan musik yang diputar.
"Apa suasana hatimu sedang buruk, bad boy?" sapa Miranda sembari memesan sampanye.
Nick tersenyum hambar dan menjawab," sepertinya tidak ada yang terlewatkan dari pengamatanmu,kak."
"Mau cerita?"
"Apa kau kenal keluarga Roman?"
Miranda berpikir sejenak. "Hmm...pernah bertemu beberapa kali di pesta waktu aku pulang ke sini. Setahuku mereka memiliki bisnis hotel dengan skala internasional dan kalau tidak salah, anak pertama mereka bekerja di kedutaan Amerika. Sekitar setahun yang lalu aku bertemu dengannya. Why? Kau ada masalah dengan keluarga mereka?"
"Anak terakhir keluarga Roman adalah rivalku di arena anggar."
"So?"
"Hari ini dia datang ke sekolah dan mengatakan bahwa mulai besok akan menjadi murid baru. Artinya, dia juga akan satu klub denganku."
"Oh...well...kau merasa terancam?"
"Not really. Hanya berpikir apa sebenarnya yang dia rencanakan. Siapa targetnya..." Nick meneguk minumannya sampai habis.
"Don't think too much, Nick. Selama dia tidak berbuat sesuatu terhadapmu, bukankah kau tidak perlu cemas?"
"Ya, kau benar,kak. Mungkin targetnya bukan aku. Entah kebetulan atau sengaja, dia muncul setelah siswi baru pindahan Paris bersekolah di tempat kami."
"Who?"
"Dia, yang sebentar lagi dibawa Stefy kemari," jawab Nick dengan ramah ketika Helen mendekat.
"Nick! Akhirnya aku menemukanmu. Look, ini Helen. Balerina yang waktu itu kau selamatkan. Dia bilang ingin mengucapkan sesuatu," ucap Stefy sembari memesan minuman untuk dua orang.
"Hai. Kita sudah beberapa kali bertemu tapi secara resmi aku belum memperkenalkan diri dan mengucapkan terimakasih untuk kejadian waktu itu. Aku Helen."
Nick menyambut uluran tangan Helen. Stefy pun langsung menarik Miranda ke tengah supaya tamunya bisa bicara lebih leluasa.
"No problem. Aku juga akan melakukan hal yang sama pada wanita lain. Jadi, jangan terlalu merasa berhutang budi terhadapku."
Nick menatap lawannya dengan lembut. "Mungkin sekarang kau perlu memikirkan kondisimu sendiri setelah melihat Barco hari ini di sekolah. Dia bilang kalian akan sekelas."
Helen menghela nafas."Ya, tapi tidak masalah bagiku. Itu sudah menjadi resiko yang harus kutanggung ketika memutuskan datang ke Jakarta. Bahkan aku sudah mempersiapkan nyawa untuk ini."
Mendengar itu, Nick menggeser tubuhnya lebih dekat dan menatap Helen dengan serius."Hei, apa masalahmu seserius itu? Jika kau ingin cerita, aku siap mendengarkan. Jika kau perlu bantuanku, aku akan bantu. Aku dan Stefy punya banyak koneksi kuat. Percayalah."
"Kau baik sekali." Helen tersenyum. "Terimakasih tapi aku tidak suka merepotkan orang lain. Aku kenal Barco dan aku yakin bisa menghadapinya sendiri."
"Okey. As you wish, Lady. But if you need a help, just let me know."
"Thank you."
...😃...