
"Kau sudah memutuskannya?" sekali lagi Daniel bertanya untuk memastikan. "Tiba-tiba kau datang dan bilang akan melakukan pengobatan. Jujur saja, aku penasaran. Kau sangat menghindari topik ini selama beberapa minggu setelah aku menghubungi ayahmu tapi sekarang..."
"Aku ingin hidup lebih lama." Helen menatap dokter itu dengan sungguh-sungguh. "Apapun kesulitan yang akan saya hadapi, saya akan melakukannya."
"Apa peristiwa penembakan kemarin membuatmu berubah pikiran? Helen, don't blame your self."
"Aku memang menyadari sesuatu,dok. Aku harus tetap hidup untuk orang-orang yang menyayangiku dan yang telah berkorban untuk menyelamatkanku. Cuma itu yang bisa dilakukan. Menghargai kehidupan."
Daniel tersenyum. "Ok jika itu memang maumu. Aku setuju. Aku juga tidak ingin melihat pasienku mati tanpa bertarung. Aku akan berusaha mengobatimu. Hasil pemeriksaan penunjangmu memang ada sedikit masalah tapi jangan kecil hati. Dunia kedokteran sekarang maju pesat. Semakin cepat kita bertindak, semakin baik. Tapi yang pasti, kau harus semangat."
"Terima kasih,dokter." Helen bangkit lalu pamit undur diri. Hatinya lega. Apa pun yang terjadi nanti, pikirkan nanti. Langkahnya pun semakin ringan seraya menyusuri lorong panjang yang jarang dilalui orang. Namun gerakannya terhenti ketika melihat seseorang mendekatinya. Ia pun tidak bergeming meski ingin.
"What are you doing here? Kau sakit?"
"It's not your business," Helen menolak untuk menjawab.
"Kau tidak ingin menjawab? Ok. Aku akan cari tahu sendiri."
Ketika pria itu melewatinya, secara reflek Helen meraih lengannya untuk menghentikannya. "Stop. Plis. Jangan ikut campur urusanku lagi, Barco. You're not my boyfriend anymore. Jika seperti ini terus, aku bingung harus bagaimana. Aku tidak mau bergantung padamu." Helen menurunkan intonasinya. "Sakitku tidak serius. Jangan khawatir."
"Are you trying to fooling me now? Do you think i'm a little boy and will believe when u lie? Onkologi...bukan bagian yang menangani penyakit flu. Why you never told me this?" Barco menaikkan suaranya.
"For what? Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kau juga sudah bahagia dengan tunanganmu yang sekarang."
"Jangan bahas orang lain."
"Apa kau juga akan melakukan hal yang sama jika aku tunanganmu? Apa kau akan peduli dengan gadis lain sementara bertunangan denganku?"
Tanpa bicara lagi, Helen pun pergi. Barco memandang dari kejauhan. Ia berkata," i will not care with another girls because they're not you, baby. Don't you know me?"
...😃...
Dalam beberapa hari Nick diijinkan pulang oleh dokter. Lukanya pun cepat kering namun masih perlu kontrol beberapa kali. Maka, katika lusa ia diperbolehkan keluar RS, ia langsung minta Stefy untuk membawakan sesuatu. Siang itu pun, setelah bel pulang berbunyi, gadis itu langsung bergegas meninggalkan kelasnya.
Rachel menghampiri lalu bertanya,"kau akan ke RS sekarang?"
"Yups."
"Aku masih ada urusan sebentar. Nanti aku menyusul. Kita ketemu di sana ."
"Ok."
"Tapi..." mata Rachel menangkap sesuatu. Stefy menenteng tas kecil yang entah apa isinya. " Apa yang kau bawa itu?"
Stefy langsung memberi isyarat lalu berbisik di telingan Rachel. Rachel pun ternganga." Apa kau sudah gila? Apa boleh kita bawa ini untuk orang sakit?"
"Karena itu, kau harus tutup mulut. Mengerti? Lagipula, ini permintaan pasien."
"Apa kau pikir ini permintaan terakhir pasien sebelum meninggal?"
"Hei!" Stefy melotot.
"Kau ini seperti ibu peri yang selalu mengabulkan semua permintaan."
" Apa boleh buat. He save my life."
"Alright. Well, kau lihat Helen? Sudah 2 hari aku tidak melihatnya."
"Kemarin ada di kelas balet. Tapi memang kelihatan kurang sehat. Coba nanti aku telpon. Setelah dari RS, aku akan datang ke apartementnya. Kau mau ikut?"
"Boleh. Kau bawa mobil? Aku bawa hari ini?"
"Sam akan menjemputku di RS. Jika kau mau, kita bisa semobil."
"Good idea. Ok, aku akan taruh mobil dulu lalu menyusulmu ke RS setelah urusanku selesai. Sampai nanti," Rachel melambai.
Stefy meneruskan perjalanannya. Kurang lebih 30 menit ia sudah sampai di lobby RS. Langsung tercium aroma alkohol dan obat. Jujur, ia tidak menyukainya. Kakinya terus bergerak menuju lift ke lantai 3. Menyusuri beberapa kamar dan melewati meja perawat. Tangannya menggeser pintu ketika 2 orang penjaga mengijinkannya masuk.
Sampai di dalam, matanya langsung terpana dengan banyaknya rangkaian bunga. Nick yang mengamati gadis itu pun hanya tersenyum kecil. "Hei, aku baru meninggalkan kamar ini beberapa jam saja tapi sekarang kamarmu sudah berubah jadi taman bunga. Kau ingin ku foto dengan latar ini? Fansmu pasti akan histeris saat melihatnya di sosmed."
"Jangan lakukan hal konyol seperti itu," Nick menolak mentah-mentah. "Kau membawa pesananku?"
Stefy menyodorkan tas kecil yang ia bawa. "Sudah berapa lama kau tidak minum ini? Baru melihatnya saja matamu langsung bersinar seperti baru menemukan harta karun."
"Bantu aku duduk di sofa itu," pinta Nick tanpa menghiraukan perkataan temannya. "Kau mau? Tolong ambilkan gelas baru di laci itu."
Setelah mengambil 2 gelas kaca di laci kecil, Stefy membuka red wine asal Australia itu dengan hati-hati. Ia tahu benar harganya tidak murah. Entah berapa botol yang dimiliki keluarga Handerson tapi yang pasti, kalau dia baca di artikel, 1 botolnya pernah dilelang tahun 2004 dengan harga $38.420. Fantastik!
Nick mencium aroma wine tersebut dengan penuh penghayatan sebelum menikmatinya. Stefy hanya berani meneguk sedikit karena tidak ingin mabuk.
"Apa kau ingat waktu kita masih tinggal di Aussie? Orangtua kita minum wine ini dan karena aku juga ingin mencobanya, kau mambantuku mengambilnya diam-diam."
"Ya. Aku masih ingat. Kita bersembunyi di bawah meja makan agar tidak ada yang tahu," timpal Stefy sambil membayangkan peristiwa itu.
" Tapi akhirnya kak Miranda tahu meski dia diam kerena melihatmu hampir menangis."
"Waktu itu aku takut sekali. Daddy itu galak kalau kami jelas-jelas salah. Jantungku rasanya mau copot membayangkan mukanya ketika tahu perbuatanku. But...kak Miranda lebih menyayangiku," senyum Stefy kembali mengembang. "I miss her."
"Kau ingin kembali tinggal di Aussie?" Nick kembali meneguk minumannya.
"Hmmm...maybe one day but not now. My family and also my friends here. Do you..."
"One day fore sure," jawab Nick langsung.
Hening. Stefy melihat sesuatu di meja kecil dekat tempat tidur. "Aku suka bunga mawar itu. Cantik sekali. Dari fansmu ?"
"Really?" Stefy semakin antusias. "Siapa namanya?"
"Kau mau tahu?" Nick tertawa geli ketika sang model langsung mengangguk. "Namanya Sabrina."
Stefy langsung memukul bahu Nick spontan. Ia makin kesal karena Nick tidak berhenti tertawa. "Are you happy?"
"I'm soooo happy! Look your face."
"Shut up !" Stefy melotot."Hei, apa dia minta balikan?"
"Yep."
"Bisa ditebak." Stefy menyenderkan bahunya di sofa. "So...kau jawab apa?" Melirik Nick. Menunggu jawaban.
"What do you think?" Lagi-lagi Nick menggoda. Tidak ada tanggapan. Ia pun menjawab," aku menolaknya."
"Wah..." Stefy langsung menegakkan posisinya. "Dia pasti kecewa sekali."
"Dari mukanya sepertinya begitu." Nick meneguk lagi. Kemudian matanya menatap gadis itu dengan serius. "Stef..."
"Hmmm?"
"Marry me."
Hampir saja Stefy menumpahkan minumannya. ia pun berkata," kau pasti sudah mabuk."
Nick meletakkan gelasnya lalu menggeser posisinya hingga tak ada lagi jarak di antara mereka."I'm serious. Marry me. I can't lose you. Aku baru menyadarinya malam itu. Saat mereka akan menembakmu.
"What?"
"I can't lose you and i can't let you go."
"Hahaha...Nick, kau pasti sudah mabuk berat. Sepertinya aku harus pergi. Look, aku akan mendengarkan omong kosongmu ini jika kau sudah sadar. It's not funny."
Nick membuat Stefy kembali duduk. "Aku tahu kau pasti kaget..."
"Nick, stop. Jika Sam mendengar ini, dia pasti akan menghajarmu sekarang. Apa kau ingin mati?"
"Apa aku harus menghampiri Sam sekarang dan mengatakan ini?"
"No!" Stefy hampir teriak. "Kenapa kau memposisikan aku di situasi yang sulit? Apa kau tahu, kau akan kehilangan aku jika terus begini? You're my bestfriend. I don't want to lose you as my friend."
"Sorry, I can't control how i felt inside my heart. Aku nggak bisa lihat kamu sama Sam, lalu diam-diam terus mendam perasaan ini. I just want to be honest with you. Always. No lies."
"I'm so thanksfull for everything what you've done for me. Thank you to saved my life," Stefy merendahkan nada bicaranya. "I'll pay you back,Nick, but not this."
"If you want to pay me back, do it now !" Nick mendekatkan mukanya lalu mencium gadis itu dan ******* bibirnya. Ia berhenti sejenak. Menatap matanya yang diam mematung. Ia melingkarkan tangan ke leher gadis itu lalu menariknya lebih dekat lagi hingga nafas mereka beradu. Untuk kedua kalinya, ia mendaratkan bibirnya. Kali ini lebih dalam dan lebih panas.
Stefy mulai sadar. Mendorong tubuh Nick dan mulai mengatur nafasnya. Ia merasa bersalah pada Sam. "I have to go." Ia bangkit lalu meraih tasnya. Saat itulah Rachel masuk dengan menenteng tas kecil di tangannya.
"Hai,Nick. Ku dengar besok kau boleh pulang. Oh, kenapa muka kalian tegang sekali? Apa terjadi hal yang serius? Tadi Sam juga seperti ini. Mukanya tegang dan merah. Apa ada masalah?" tanya Rachel dengan penuh tanda tanya.
Stefy dan Nick berpandangan. Apa yang ditakutkan terjadi. "Kapan kau melihat Sam?" kejar Stefy kemudian.
"Baru saja. Waktu akan masuk ke mari, ia sudah berdiri di depan pintu. Ku pikir dia mau masuk ke dalam tapi ternyata dia langsung pergi tanpa berkata apa-apa," terang Rachel dengan muka polos.
Stefy menggigit bibir.Gelisah. "Aku harus pergi mencarinya."
"Tunggu. Apa kita jadi ke rumah Helen setelah ini? Kau sudah menghubunginya?" hadang Rachel.
"Sorry. Sepertinya hari ini tidak bisa. Aku ada urusan. Kau bisa hubungi dia langsung? Aku sudah coba beberapa kali tapi tidak diangkat. Aku pergi dulu." Stefy cepat-cepat pergi dan berlari menyusuri koridor.
Rachel menaruh tas yang ia bawa di atas meja."Wah, kamar ini jadi cantik ya. Bagaimana lukamu,Nick?"
"Lebih baik. Thanks. Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot."
"Nggak repot. Wah, akhirnya kau minum? Jangan sampai perawat dan dokter tahu atau kau bisa kena masalah."
"Ya. Oh ya, kenapa Helen tidak bisa dihubungi?"
"Entahlah. Dua hari ini aku tidak melihatnya. Stefy bilang dia ada di kelas balet kemarin. Katanya dia terlihat kurang sehat. Jadi, rencananya setelah dari sini, kami akan ke apartementnya."
"Kau sudah coba menelponnya lagi?"
"Ah, aku coba sekarang." Rachel baru saja akan menekan nomer telpon ketika seseorang masuk.
"Tidak perlu buang tenagamu untuk menelponnya. Aku sudah memeriksa apartementnya dan dia tidak ada. Dia hilang."
Rachel mendadak cemas. "Apa yang terjadi?"
"I need your help," pinta Barco pada Nick. "Aku akan menemui Mr.Ryan Smith. Aku perlu back up dari kepolisian dan juga pengacara. Jika dalam waktu beberapa jam aku tidak kembali, kau bisa temui aku di sana."
"Alright, " Nick setuju.
"Thanks." Barco kembali menghilang di balik pintu.
Rachel yang masih bingung langsung menuntut jawaban,"apa yang sebenarnya sedang terjadi,Nick?"
"Rachel. Aku tidak bisa jelaskan sekarang. Kau bisa menolongku? Gantikan aku di sini sebagai pasien untuk beberapa jam. Aku tidak punya pilihan. Satu nyawa bisa melayang jika aku tidak segera pergi.Cepat ganti bajumu. Jangan buang-buang waktu," Nick memberi instruksi dan dengan berat hati Rachel menurutinya.
...😃...