
"Wafel, ice chocolate, dan puding coklat. Nah, sudah lengkap, kan?" Nick memastikan pesanannya tidak ada yang kurang. Semua yang Stefy suka sudah dipesan. Tidak ada yang terlewatkan. Gadis itu pun memberikan 2 jempol. "Ok. Karena sudah lengkap, kita langsung saja mulai pembicaraan ini."
"Hei, apa kau tidak akan membiarkanku menyentuh hidangan ini dulu?" Stefy memelas dan berusaha menahan air liurnya yang tak tertahankan.
"Ok. Kau dengarkan aku sambil makan." Nick melunak.
"Yeeee..." Stefy langsung menyeruput ice chocolatenya."Apa sie yang membuatmu ingin bicara serius seperti ini?"
"Aku dan Sabrina sudah berpisah." Nick cepat-cepat memberikan tisu ketika Stefy tiba-tiba tersedak. "Are you okey?"
"Sorry." Stefy membetulkan posisi duduknya. "Ini hal pentingnya?" tanyanya penuh penekanan.
"Bukan sie."
"Jangan bikin aku kesal,ya. Seriuss dong."
Nick tertawa. "Sorry. Aku cuma penasaran dan ingin melihat reaksimu aja."
"Dasarrrr. Apa aku terlihat bahagia?"
"No."
"Maaf ya sudah mengecewakanmu." Kali ini melahap wafel.
"Jika wartawan mengetahui ini, mereka bisa heboh. Apalagi semalam aku benar-benar mencampakkan gadis posesif itu."
"Bisa jadi. Netizen pasti akan kecewa karena kau telah menghancurkan kisah romantis khayalan mereka."
"Tapi kenapa reaksimu biasa saja?"
"Apa kau benar-benar berpacaran dengan Sabrina?"
"Nope."
"Karena kau tidak pacaran dengannya, aku percaya bahwa drama setingan yang kau mainkan akan segera berakhir. Lagipula, Sabrina bukan orang pertama yang kau campakkan setelah syuting berakhir. Tapi kalau boleh jujur, aku lega kau bisa lepas darinya. Aku akui dia cantik dan berbakat tapi sifatnya itu..." Stefy langsung bergidik.
"Jack, kenapa kau sangat tidak menyukainya? Apa kau cemburu?"
"Jangan mulai, deh!" Stefy mengacungkan garpu ke hidung Nick sambil melotot.
"Hahahaha...well, karena kau sudah tahu beritanya langsung, besok pas baca news online nggak perlu kaget ya. Ok, sekarang kita ke intinya." Nick berubah serius. "Kau tahu kan Barco masuk ke sekolah kita bukan tanpa maksud tertentu?" Stefy mengangguk. "Jadi, aku minta tolong sekertaris daddy untuk mencari informasi. Tidak hanya informasi tentang Barco, tapi juga Helen." Gadis berlesung pipit itu menghentikan gerakan tangannya dan berhenti mengunyah. "Kau pasti terkejut mendengar apa yang kutemukan." Nick mengeluarkan selembar foto dari saku.
"Siapa wanita ini? Apa dia siswi di sekolah kita? Seragam balerinanya sama. Tapi, sepertinya ini foto lama. Apa hubungannya dengan Barco dan Helen?"
"Namanya Carolina Moreau. Lulusan International High School tahun 1980. Belakangan, dia mendapat beasiswa ke Paris dan karirnya sebagai balerina langsung meroket. Dia terkenal. Sempat terlibat skandal dengan salah satu anggota penting di pemerintahan namun akhirnya ia menikah dengan pria baik, Mr.Moreau, yang sekarang berdomisili di Paris. Sayangnya, wanita ini meninggal ketika ia dan putrinya, yang baru saja dilahirkan, berada di hotel tempat mereka menginap."
"Apa terjadi sesuatu setelah ia melahirkan?"
"Berita mengatakan ia terserang infeksi pasca melahirkan caesar. Ada juga yang bilang ia dibunuh. Tapi ada yang memberitakan setelah melahirkan, ia terserang flu yang membuatnya demam dan karena kondisinya masih lemah, akhirnya ia meninggal. Tidak jelas faktanya. Kejadiannya terjadi di sebuah hotel ketika suaminya sedang bertugas di luar kota."
"Darimana sekretaris ayahmu mengetahui kejadian ini?"
"Sekertaris Daddy mengenal Mr.Moreau. Pria ini bekerja di kedutaan Prancis dan informasi ini didapat dari orang yang bisa dipercaya, yang tidak ingin diketahui namanya.Nah, inti dari cerita ini adalah anak Mrs.Moreau, sang balerina, sekarang berada di sekolah kita. Apa kau bisa tebak siapa orangnya?"
"Kalau dia tinggal di Paris dan mamanya juga balerina...tunggu...apa dia Helen?"
"Tepat! Menarik, bukan? Kau tahu, hotel tempat Mrs. Moreau ditemukan tak bernyawa adalah salah satu hotel yang dikelola oleh keluarga Pellison? Dan, anggota dari keluarga ini, Barco Pellison, pernah menjalin hubungan dengan keluarga korban. Wah, ku rasa jika kisah ini difilmkan pasti akan seru," gumam Nick. "Tapi, sampai sekarang, aku belum tahu apa tujuan Helen datang ke Jakarta. Kenapa Barco sampai rela pindah sekolah demi Helen. Setahuku, dia bukan pria yang rela berkorban seperti itu kecuali..."
"Hei, bukankah sudah jelas? Barco menyukai Helen. Bagaimana pun juga mereka pernah ada rasa. Walaupun mereka punya masa lalu yang berkaitan, bukan berarti ada hubungannya dengan kisah itu."
"I don't think so," Nick menjawab yakin. "Apa kau masih ingat ketika pertama kali kita bertemu Helen di ruang Mr. Robert? Apa reaksimu ketika kau bertemu mantan pacar yang sudah lama tidak berjumpa?"
"Kau tahu apa yang ku lihat di wajah Barco setelah kau membawa Helen keluar?" Stefy menggeleng. "Gelisah. Kesal. Khawatir. Ekspresi yang sama terlihat jelas ketika kau dan Rachel membawa Helen pergi di hari kita semua bertemu di depan ruang kepala sekolah. Look, aku pria dan aku tahu arti ekspresi itu."
"Jadi maksudmu Barco sedang mencemaskan Helen? Itu sebabnya dia pindah sekolah? Apa menurutmu itu sesuatu yang berbahaya?"
"I don't know. I've been thinking about it and no answer. Imposible to ask Barco." Nick mengambil air dan meminumnya sampai habis. "Look, aku tidak ingin terseret dalam masalah yang bukan urusanku dan aku juga tidak ingin Barco menyeretmu ke dalam bahaya. Barco itu berbahaya. Kau harus hati-hati. Dia bisa menjadi calon mafia yang mampu menyakiti siapa pun. Jaga jarak dengannya selama di sekolah," Nick memberi peringatan."Aku akan mencari lebih banyak informasi."
" Lalu bagaimana dengan Helen? Jika sesuatu yang buruk terjadi, apa aku harus diam saja?"
"Kita belum tahu pasti apa yang sedang terjadi. Bisa jadi Helen akan baik-baik saja. Jadi, jangan berpikir terlalu jauh sebelum ada fakta lebih lanjut. Kita hanya perlu waspada."
"Ok. Aku akan pura-pura tidak tahu."
"Good." Nick menenangkan Stefy sembari menggenggam tangannya.
...😃...
Musim pertandingan tiba! Saatnya semua siswa/i menunjukkan kehebatannya dalam ajang bergengsi ini. Tidak kalah seru dengan ASEAN games. Mulai dari sepakbola, basket, bulu tangkis, lompat atletik, senam lantai, anggar, termasuk pertunjukan balet dan musik di minggu akhir acara.
Minggu ini klub basket Samuel menjadi pembuka pertandingan. Timnya akan berhadapan dengan tim SMA lain yang juga cukup hebat. Tentu saja mayoritas penonton wanita langsung heboh lantaran banyaknya cowok-cowok kece bertaburan di lapangan setiap hari hehehe...termasuk Stefy.
Stefy, ditemani rachel dan Helen, duduk di kursi penonton paling strategis. Tidak lupa dengan atribut pemandu sorak dan juga spanduk super super besar bertuliskan
"Go International High School!"
Nick baru saja datang dan mengambil tempat di sebelah Rachel setelah hampir setengah jam terkurung di gerombolan siswa/i SMA lain yang minta foto bareng.
"Nick, minumannya ada?" teriak Stefy di tengah kerumunan penonton. Suaranya nyaris hilang.
Nick pun menyodorkan air mineral. Rachel dan Helen juga kebagian. "Gara-gara beli minuman ini aku hampir sesak nafas," keluhnya sembari mengingat kejadian ia dirubung gadis-gadis.
"Terjadi sesuatu?" tanya Stefy yang matanya masih fokus ke lapangan karena permainan mulai seru.
"Never mind," jawab Nick gondok karena keluhannya tak digubris. Ia pun melempar pandangannya ke depan dan ikut hanyut dalam pertandingan.
Kali ini Sam meraih bola dan ia siap-siap mengambil posisi lemparan 3 point. Senyap seketika. Semua penonton dibuat jantungan ketika bola orange itu mengitari tepi ring. Teriakan langsung bergema setelah akhirnya bola itu masuk ke dalam keranjang. Ada yang melompat-lompat. Berjoged. Berpelukan. Bahkan hampir menangis terharu. Sang pelatih hanya tersenyum cool. Nick hanya bisa menggeleng melihat ketiga gadis di sebelahnya menjerit histeris.
"Well done, Sam!" Stefy berteriak ke arah Sam yang dijawab dengan isyarat "saranghae" oleh telunjuk dan ibu jarinya. Membuat siswi-siswi lain histeris. Sweet banget! pikir mereka. Membuat iri. "Sam keren kan,Helen? Dia juga hebat."
Helen mengangguk cepat. "Iya. Aku udah lama banget nggak nonton pertandingan seramai ini. Membuat hidup jadi semangat."
"Not bad untuk menghilangkan stres," timpal Rachel.
"Oh, guys. Kalian lihat pemain bernomor punggung 15 itu? Namanya Lukas. Dia single lohhhh," goda Stefy kepada kedua temannya. "Dia kapten tim. Ganteng juga," tambahnya lagi."Kalau mau, nanti aku minta tolong Sam kirimin nomernya," tawarnya kemudian.
Helen dan Rachel langsung merona. Nick semakin malas mendengar ocehan Stefy. Dia melayangkan pandangannya ke arah penonton lain. Matanya yang tajam menangkap sosok Barco di sisi kanan lapangan. Ia pun mengikuti ke mana arah mata pria itu. Seperti dugaan, pandangannya tertuju pada Helen. Sayang, gadis itu tidak menyadarinya.
Waktu berlalu begitu cepat. Kemenangan berhasil diraih oleh SMA International High School dengan skor 33-32. Stefy langsung turun ke lapangan menyambut pangerannya dengan pelukan lebar.
"Thank you, ya. Kalian udah kasih kita semangat," ucap Sam. "Besok pertandingan anggar,kan? Giliranmu Nick. Jangan kalah,ya."
"Ya...semoga hasilnya baik seperti tahun lalu. Tapi, sekarang rivalku ada di pihak kita."
Sam mengerti. "Ya, kau benar. Barco juga akan tanding besok. Di kelas kami dia lumayan populer sekarang. Sepertinya kau harus berbagi fans,Nick."
"Yeah...i can see," sahut Nick dengan malas. Sementara matanya menangkap sikap Helen yang terkesan cuek. Bahkan kemudian gadia itu memilih bergabung dan membaur dengan pemain yang lain.
...😃...