
Sebelum pulang ke rumah, Stefy memasukkan pakaian baletnya di loker. Ia lalu menghampiri Helen di ujung ruangan. Mereka akan merayakan kesuksesan malam itu di tempat Rachel. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari sekolah. Hanya 15 menit jalan kaki.
Mereka berdua terus membicarakan pertunjukan balet tadi dengan antusias seraya menyusuri trotoar yang hanya diterangi lampu jalan. Suasana sedikit lenggang saat mereka hendak menyeberang dan memasuki area perumahan.
Lampu jalan berwarna hijau untuk pejalan kaki. Hanya ada 1 mobil yang berhenti. Namun tiba-tiba saja, dari belakang mobil itu, mobil hitam lain dengan kecepatan tinggi melaju sangat kencang dan hampir saja menewaskan Helen. Spontan Stefy mendorong temannya ke depan sehingga mereka berdua berguling di aspal. Belum selesai sampai di situ. Dari dalam mobil hitam itu, Stefy menangkap moncong pistol yang hendak diarahkan kepada mereka berdua. Ia pun menutup matanya ketika bunyi tembakan pertama terdengar. Seakan pasrah jika nyawanya terenggut saat itu juga. Namun ada bunyi tembakan kedua yang membuatnya semakin takut membuka mata.
"Stefy,kau baik-baik saja?" Nick berlutut dan menyadarkan temannya. Ia membantu gadis itu berdiri. "Hei, look at me! Apa ada yang terluka?"
Dengan penuh keberanian, Stefy membuka matanya. Tubuhnya masih gemetar. Baru kali ini merasakan ketakutan yang luar biasa. Kedua tangannya meremas tubuh Nick. Mencoba mencari kekuatan. "Nick..."
"It's okey. Ada aku. Jangan takut." Nick memeluk gadis itu dengan erat.
Di lain sisi, Helen menepi di trotoar. Ada luka lecet di lutut. Entah dari mana datangnya, Barco yang berada di sisinya sedang sibuk memastikan keadaan. Mukanya sangat khawatir.
Ternyata belum selesai sampai di situ. Mobil lain berwarna hitam langsung menghujani mereka dengan tembakan. Nick dan Barco pun menghujani mobil itu dengan serangan yang membabi buta. Beberapa menit berikutnya pengawal yang disewa Nick dan beberapa orang suruhan Barco datang membantu. Sampai kedua mobil itu pun lari dengan meninggalkan luka tembak di bahu Nick.
Nick yang terluka karena melindungi Stefy dari tembakan, langsung terkapar di aspal. "NO !" Jerit Stefy. Ia panik melihat banyaknya darah yang keluar.
"Kita harus membawanya ke RS segera. Cepat!" perintah Barco kepada yang lain. "Stefy, kau jaga Helen sementara aku membawanya dengan mobilku."
"No, Barco. Aku harus ikut," tolak Stefy mentah-mentah sambil berurai air mata.
"Aku juga ikut," pinta Helen.
"Akhhhh...kenapa sie di saat kritis pun wanita selalu keras kepala?!" teriak Barco emosi.
"Aku tidak bisa membiarkannya sendiri. Dia menyelamatkanku dan aku tidak bisa diam saja! Aku akan menghubungi kakakku. Kita ke RS sama-sama. Cepat!" kali ini Stefy mengambil alih komando.
Meski enggan, Barco menerima instruksi tersebut dan membawa Nick ke mobil pribadinya. Sementara yang lain mengawal di belakang.
Setibanya di IGD, petugas berseragam hijau langsung menyambut korban dengan brankard. Memindahkan tubuh Nick yang lemah karena kehilangan darah ke dalam unit emergency.
Daniel muncul dengan tergesa-gesa dan memeriksa keadaan adiknya yang masih ketakutan. "Apa yang terjadi?"
"I don't know. Aku dan Helen sedang menyebrang jalan menuju rumah Rachel...lalu tiba-tiba mobil hitam muncul...lalu dia menembaki kami...dan Nick mencoba melindungiku lalu...dia...dia tertembak...kak, plis, tolong Nick. Dia nggak akan mati,kan? Aku takut," isak Stefy.
"Ia akan baik-baik saja. Trust me. Sekarang tenang dan berdoalah bagi Nick. Kau masih shock." Daniel memeluk adiknya dengan hangat. "Helen, kau juga kelihatannya perlu perawatan." Pria itu melihat luka di lutut pasiennya.
Daniel mengerti. "Aku akan melakukan operasi darurat dan mengeluarkan peluru di bahunya. Kelihatannya dia banyak kehilangan darah sampai tak sadarkan diri. Kalian jangan terlalu khawatir. Dia pasti akan secepatnya kami tangani. Aku akan siap-siap." Ia pun pamit.
...😃...
Satu jam berlalu. Lampu merah di depan pintu ruang operasi padam. Tim bedah membawa pasien keluar menuju ruang perawatan. Stefy, Helen, dan Barco,yang baru saja selesai menyelesaikan urusan administrasi RS, mengikuti ke ruang rawat inap dengan perasaan tak menentu. Sampai di ruang VIP, Daniel menjelaskan kondisi Nick bahwa ia akan segera sadar dan pulih dalam beberapa hari. Ia juga menyarankan agar untuk sementara waktu pasien tidak dijenguk banyak orang. Satu orang saja cukup. Maka, Stefy yang keras kepala minta agar dialah yang tetap tinggal sampai pasien sadar.
"Aku akan mengabari orangtuanya agar mereka tidak khawatir," ucap Daniel.
"Aku sudah menelpon mereka, kak. Mereka sedang dalam perjalanan kemari."
"Kalau begitu aku akan beritahu Mom . Jangan memaksakan diri, Stefy. Kau juga perlu istirahat. Aku pergi dulu. Tekan bel jika perlu sesuatu," pamit Daniel setelah memeluk adiknya.
"Thank's, kak."
Di luar ruangan, Daniel menemui Helen dan Barco. Mereka berdua lega meski hanya bisa melihat tubuh pasien dari pintu kaca.
"Ini akibatnya karena kau tidak mau menuruti perintahku. Aku sudah menyuruhmu untuk pergi tapi kau terlalu keras kepala. Sama seperti dulu. Sekarang kau lihat akibatnya? Orang lain terluka karena terlibat dengan masalahmu. Are you happy now?" omel Barco panjang lebar sepeninggalan Daniel.
"Apa kau puas menambah rasa bersalahku dengan kata-katamu itu? Kau pikir aku senang melihat orang lain terluka? Aku tidak sejahat itu,Barco. Aku tidak berharap ada satu orang pun yang terluka." Helen mulai meneteskan air mata namun masih punya kekuatan untuk bicara.
"I just want to know what happened with my mom. The truth. Apa sebagai anak...aku tidak berhak? Sejak lahir...aku hanya tahu mom dari foto dan cerita orang. Dad selalu bilang mom adalah wanita yang baik dan mengagumkan. Jadi...aku ingin tahu kenapa ada orang yang ingin membunuhnya. Aku ingin tahu kebenarannya sebelum aku..."
"Apa maksudmu kau akan mencari kebenaran bahkan saat nyawamu sendiri terancam?"
Helen tersenyum pahit. "Nyawaku sendiri sudah tidak penting lagi."
Barco mengepalkan tangannya. "Lalu bagaimana dengan ayahmu? Kau tidak memikirkannya? Bagaimana dengan teman-temanmu? Cita-citamu sebagai balerina profesional...lalu aku...apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku jika kau mati?"
"Kau akan baik-baik saja. Kau punya Renata."
"Ck, sia-sia saja pengorbananku selama 2 tahun ini," ucap Barco pahit. Ia menarik nafas pendek. "Kita becarakan hal ini nanti. Sekarang ikut aku." Ia menarik tangan Helen yang langsung ditepis dengan cepat. "Lihat lukamu itu. Jika tidak diobati bisa infeksi. Kau ini benar-benar ingin mati rupanya." Sekali lagi menarik tangannya supaya ikut. Saat itulah, Helen menyadari luka gores di lengan kanan Barco. Saat ditanya tentang lukanya, Barco menjawab," bukan ap-apa. Ini sudah biasa. Kau harus membayar lukaku ini setelah sembuh. Mengerti?" Helen terdiam dan tak menjawab.
...😃...