
Setelah kejadian semalam, Stefy tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Itu sebabnya, matanya terlihat hampir seperti mata panda. Ia bahkan tidak bersemangat menyambut hari kelulusan yang sudah lama ia nanti-nantikan.
Sejak memasuki gerbang sekolah, sebuah karangan bunga sudah diterimanya dari keluarga. Disusul kemunculan Rachel yang memintanya berselfie ria. Belakamgan, kakak tertuanya muncul dengan pelukan lebar. Disusul video call Miranda.
Mereka menuju aula yang sudah dipenuhi para murid dan orangtuanya. Acara dimulai dengan sambutan kepala sekolah. Namun, sejak memasuki aula, Stefy terus mencari-cari Nick yang tidak juga terlihat. Ia berbisik kepada Rachel yang duduk di sebelahnya," apa kau melihat Nick pagi ini? Aku tidak menemukannya sejak tadi."
Di luar dugaan, Rachel mengerutkan keningnya. "Apa dia tidak mengatakan apa pun sebelum pergi? Dia berangkat ke Aussie."
" Kalau itu aku tahu...tunggu...dia tidak akan datang ke acara kelulusannya? Semalam, dia bilang akan pergi tapi ku pikir itu hanya bercanda. Kau tahu kan dia kadang tidak serius."
"Aku bertemu dengan sekretaris kak Louis di koridor pagi ini. Dia bilang Nick tidak akan datang karena harus pergi ke Aussie bersama managernya. Mungkin sebaiknya kau telpon dia."
Stefy menggigit bibir. Ia menoleh ke arah Daniel lalu berbisik," kak, apa kau bisa tolong aku?"
...😃...
Jam menunjukkan pukul 09.30 ketika petugas bandara memanggil calon penumpang untuk berbaris memasuki pesawat. Saat itu Nick langsung mengenakan kacamata hitamnya dan meraih mantel di kursi.
"Hei,Nick. Apa yang harus ku lakukan dengan tiket ini? Kelihatannya Stefy tidak akan datang," tanya sang manager.
"Kau boleh membuangnya jika mau. Ayo, jangan membuang waktu. Banyak pekerjaan menunggu kita."
"Dasar. Kalau tahu begini kuberikan saja ke pacarku," keluh sang manager sambil mengekor.
Sementara itu, sebuah ambulance baru saja terparkir di depan pintu keberangkatan. Sambil menarik tangan Daniel, Stefy berlari secepatnya. Ketika dihadang petugas, gadis itu meninggalkannya begitu saja lalu berlari ke dalam. Sedangkan Daniel langsung berakting alami untuk bisa mengelabui petugas dengan mengatakan bahwa ada pasien darurat dan sebagainya.
Mata Stefy menyapu seluruh tempat yang mampu dijangkaunya. Nafasnya naik turun tak beraturan. Peluh bercucuran. Pukul 09.45 am tubuhnya lemas seketika. Ia terpaku di tempat. Memandangi gate yang sudah kosong. Tangannya terkepal. Menyesal. Daniel menepuk pundaknya.
"Nick bilang akan menungguku...katanya dia akan tunggu tapi itu bohong...dia pergi..."
Daniel memeluk adiknya lalu mengusap kepalanya dengan lembut. "Aku yakin Nick sudah tunggu di sini. Look what i found. Tergeletak di kursi penumpang." Ia menyodorkan karangan bunga kecil dengan kartu bertuliskan 'to my lovely girl,Stefy. Congratulation! I love you."
Air mata jatuh perlahan seraya Stefy memeluk Daniel. Ia menangis sekuat tenaga. Ia menyesal. Ia juga marah dan kesal pada dirinya.
"Kakak tahu kau sedih tapi jika mau, kau bisa menyusulnya besok. Aku akan carikan tiketnya. Jangan menangis lagi, ya. Ini hari yang harus dirayakan dengan gembira. Kita kembali ke sekolah. Tapi, sepertinya kita harus ke ruang informasi dulu. Lalu, ke RS untuk mengembalikan ambulance dan..."
"Kak, thank's for today...and sorry..."
Daniel tersenyum hangat. "It's okey. Let's go. Jangan buat dad and mom menunggu."
Stefy mengangguk. Mereka berjalan meninggalkan Gate 10.
Di dalam pesawat, Nick menatap awan dengan perasaan sedih dan kecewa. Mencoba bersikap biasa-biasa saja. Namun, luka yang dia dapatkan hari itu akan mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Dan juga kisah cintanya dengan orang yang ia kasihi.
...😃...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Daniel mengantar sang adik ke bandara. Di dalam mobil ia menyodorkan sekotak susu coklat dan roti yang ia beli dari RS. "Kabari aku jika sudah sampai Sydney."
"Beres,bos. Hmm, kakak serius nggak bisa temenin aku? Lumayan loh bisa sekalian liburan." Stefy mulai asik mengunyah rotinya.
"Nggak bisa. kakak hari ini ada operasi penting. Kamu udah telpon Nick? Minta dia jemput aja di bandara." Daniel masih konsentrasi menyetir.
"Jadi, apa kau sudah memastikan hatimu? Kau menyusul Nick untuk kembali menjadi sahabat atau kekasih?" goda Daniel. Adiknya langsung tersedak dan malu.
"Kakak!"
"Hei, aku hanya bertanya. Apa kau malu? Hahahha"
"Entahlah. Aku belum memutuskannya."
"Dasar wanita...jangan membuat dia bingung nanti. Atau kau berniat tarik ulur?"
"Aku tidak akan menjawabnya."
"Hahahha..."
Ketika sampai di bandara dan memarkir mobilnya, mereka menuju pintu keberangkatan. Daniel memeluk adiknya dan melambai.
"Aku akan chat kalau sudah sampai."
Daniel mengangguk dan menunggu sebentar sampai Stefy tidak terlihat lagi. Kemudian ia kembali ke parkiran dan menekan kunci mobil. Tiab-tiba melihat seseorang terduduk di depan mobil yang ada di sebelahnya. Melihat itu, ia pun segera mendekat dan berlutut. "Apa kau baik-baik saja?"
Wanita itu menggeleng. "Tolong aku...aku sesak..."
"Kau bisa jalan? Aku akan membawamu ke RS terdekat. Kau bisa bertahan?" Wanita itu mengangguk. Daniel menuntun wanita cantik itu ke dalam mobilnya dan membantunya duduk dengan posisi yang tepat. "Apa yang terjadi?"
"Alergi..."
"Ok. Bernafas pelan-pelan. Rileks. Kita akan sampai secepatnya." Daniel menyalakan mobil dan memutar setir dengan cepat. Sementara itu, ia berpikir. Sepertinya wajah wanita itu tidak asing. Apa dia salah satu pasien di RS? Apa mereka pernah bertemu? Dia mana pernah melihatnya?
Daniel melirik sekilas. Sebagian wajahnya tertutup topi. Rambutnya panjang. Penampilannya bisa dibilang sexy. Kulitnya pun...sampai sini ia langsung menepis pikirannya.
"Kita sudah sampai. Aku akan turun sebentar. Tunggu, ya." Daniel turun dan memanggil seorang perawat untuk membawakan kursi roda. Sampai di dalam, ia menceritakan kejadiannya. Sang pasien langsung dibawa dan diperiksa.
Perawat lain menghampirinya untuk pergi ke bagian administrasi untuk melengkapi data pasien. Karena tidak ada orang lain lagi, ia pun menjadi wali sang pasien untuk sementara.
Selesai di bagian admin, ia kembali ke IGD dan menanyakan hasilnya. Setelah bicara dengan dokter jaga, ia pun menghampiri pasien untuk mengecek kondisinya sebelum pergi.
Daniel tertegun ketika membuka tirai. Sedikit terpesona oleh wajah wanita tersebut. "Apa...kau bisa menghubungi keluargamu sekarang?"
Wanita itu mengangguk. Masih menghirup oksigen buatan dengan posisi setengah duduk. "Terimakasih,dok. Saya sudah chat orang rumah. Mereka akan segera datang. Dokter bisa pergi..."
"Okey. Saya sudah meninggalkan kartu nama. Kalau kau perlu sesuatu dan keluarga belum datang, mereka akan menghibungiku. Semoga cepat sembuh."
"Terimakasih,dok."
Daniel menutup tirai. Meninggalkan ruangan dan melewati counter yang mulai dikerumuni petugas medis. Meski heran, ia tetap berjalan keluar. Namun, di belakang dia mendengar seseorang berkata pada temannya," ada artis, tuh. Mau minta foto,nggak?"
...TAMAT...