
Pukul 21.30 Sam dan Stefy sampai di vila dengan perasaan senang. Mereka sangat menikmati panorama langit malam itu dengan taburan jutaan bintang. Benar- benar indah dan mempesona. Hal yang tidak bisa dilihat ketika tinggal di kota metropolitan.
Sam mengantar kekasihnya sampai depan pintu kamar, mengecup kening dengan lembut dan mengucapkan selamat malam. Gadis itu pun masuk dengan senyuman lebar dan hati yang berbunga-bunga. Tangannya menekan tombol lampu dan ia pun menjatuhkan dirinya di atas kasur. Tapi suatu suara membuatnya terbangun. Ia sadar ada orang lain yang sedang terbaring di kasurnya.
"Nick!" jerit Stefy tanpa suara. Takut terdengar orang lain, terutama Sam. "What are u doing here, in my room? Go away. Now ! Apa kau sudah gila? Bagaiman kalau Sam melihatmu? Cepat kembali ke kamarmu sekarang!" usirnya.
"Sorry. Aku ketiduran setelah minum obat," terang Nick sembari membetulkan posisi duduknya. Ia mengusap wajah. Masih sedikit pusing.
Stefy yang melihat kondisinya pun langsung melunak dan mulai bersimpati. "Kau minum obat? Apa kau sakit?" Sekarang mulai khawatir.
"Sekarang lebih baik. Kak Daniel memberiku obat anti nyeri. Aku mulai mengantuk. Jadi, aku pamit istirahat lebih dulu. Aku mampir ke kamarmu untuk pinjam sesuatu sampai..." Nick menggantung kalimatnya dan menyodorkan sesuatu. "...sampai aku melihat ini di kamarmu."
Stefy melihat bingkai foto kecil di tangan Nick. Foto lama saat mereka berusia 7 tahun dengan latar opera house. Di belakang mereka ada Daniel, Miranda, Mrs.Jackson dan almarhum Mrs.Handerson.
"I miss my mom," ucap Nick lirih.
Stefy langsung membungkuk dan merentangkan tangannya. Memeluknya dengan erat. "Sabar ya, Nick. Kan ada aku, teman baik kamu. Aku di sini. Aku nggak kemana-mana."
"Thank's."
"Aku ambilkan air sebentar, ya. Tunggu di sini." Stefy turun ke bawah. Mengambil air hangat lalu kembali naik ke kamarnya. Ia menyerahkan gelas itu ke tangan Nick lalu duduk di sisi tempat tidur. Mengusap bahu pria itu dengan lembut. Sudah beberapa kali ia melakukannya untuk membuat kondisi Nick lebih baik dan memang berhasil. "Better?"
"Kalau ada kau, aku pasti lebih baik. Thank's."
" Pleasure of mine."
"Apa kau tadi pergi dengan Sam?"
"Ya. Kami melihat bintang. Indah sekali. Tapi lebih indah waktu kita lihat dua tahun lalu. Mungkin akibat pencemaran udara, makanya tidak sebagus itu."
"You looks happy."
"Yes, i'm happy."
"Matamu berbinar-binar. Artinya kamu bahagia." Nick menatap mata gadis itu beberapa saat. Mengamati raut wajahnya. Di sana terpancar kebahagiaan. Dia juga ingin memiliki itu.
Hening. Entah apa yang dipikirkan Nick saat itu, tiba-tiba ia membiarkan dirinya melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Perlahan tapi pasti ia mendekatkan wajahnya dan mulai mencium bibir gadis itu dengan lembut. Anehnya, tidak ada perlawanan. Hal itu membuatnya lebih berani untuk terus ******* bibir merah itu untuk kedua kalinya.
Sampai akhirnya Stefy tersentak dan sadar. Ia mendorong tubuh Nick menjauh. Nafasnya naik turun. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. "Nick, what are you doing to me? It's not a game."
Akhirnya Nick pun tersadar bahwa dia melakukan kesalahan. Ia menyesal dan langsung mengusap mukanya. "I'm sorry."
"Ku rasa kau harus pergi sekarang," pinta Stefy pelan.
"Ya, kau benar." Nick bangkit lalu menghilang di balik pintu.
Stefy masih terdiam dan merenung tentang kejadian yang baru saja dia alami. Ia pun mulai menyalahkan dirinya sendiri. "What's wrong with you, Stefy? You must me crazy." Malam itu ia tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun.
...😃...
Pukul 06.00 pagi pintu kamar diketuk. Suara Rachel terdengar dari luar. Pagi itu seluruh penghuni vila akan jogging bersama namun entah kenapa sang model enggan beranjak dari tempatnya. Tujuh jam berlalu sejak Nick menciumnya tadi malam. Dia belum bisa lupa. Kesal. Marah. Shock. Semua campur jadi satu. Tapi dia tidak bisa menceritakannya pada siapa pun. Tidak pada orangtua, kakak, Rachel, apalagi Sam.
"Stefy, apa kau sudah siap?" wajah Miranda muncul dari luar. Ia mengerutkan kening melihat kondisi adiknya yang janggal. "Hey, are you okey?"
"Ya...yap, i'm okey. Hanya memulihkan kesadaran setelah bangun tidur. Don't worry," buru-buru berdiri sebelum Miranda tambah curiga.
"Semua sudah menunggu di bawah. Cepatlah sebelum matahari semakin terik."
"Okey." Dengan gerakan kilat, cuci muka dan gosok gigi, Stefy langsung meraih kaos dan celana olahraga. Mengikat ekor kuda rambutnya. Mengoleskan lips gloss lalu memakai sepatu dan bergabung dengan yang lain. Ketika tatapannya bertemu dengan Nick, ia langsung menghindar dan terus mencari cara untuk tetap bisa bersama Sam atau Rachel sehingga tidak ada celah bagi sang aktor untuk mendekat.
"Pagi yang cerah. Udara juga sejuk. Baik untuk berolahraga. Kita harus sering melakukan ini,Dad, supaya kolesterol turun dan tidak obesitas," ucap Daniel kepada ayahnya.
"Kau ini pandai bicara. Untuk apa aku punya anak dokter kalau tidak bisa mengobati penyakitku? Aku bisa makan apa pun dengan tenang karena ada kau yang mengawasi."
"Tapi kalau semua pasien modelnya seperti daddy, yang tidak peduli terhadap dirinya sendiri, dokter sepintar apa pun tidak akan sanggup mengobatinya. Ingat ya, Dad, ambang kolesterol kemarin sudah di atas normal. Jadi, harus mulai diet ketat."
"Ah, jangan mulai lagi. Kau membuat mood ku buruk," protes Mr. Jackson sembari terus berlari. Istrinya langsung menarik nafas pendek lalu menepuk pundak Daniel dengan lembut.
Sementara itu, Rachel yang ada di baris belakang sedang berusaha menyamakan langkah bersama Nick dan Miranda. Olahraga memang bukan hobinya tapi ia tetap senang melakukannya bersama-sama. Di depan mereka ada Sam dan Stefy yang masih asik ngobrol tentang bintang.
"Baby, kau bisa tidur semalam? Kau kelihatan lelah." Sam melihat kekasihnya tidak bersemangat.
"Ah, ya. Sedikit kurang tidur tapi jangan cemas. Olahraga ini membuatku segar," dusta gadis berlesung pipit itu.
"Sukurlah. Semalam aku tidak bisa tidur. Melihat bintang bersamamu membuatku bahagia dan tidak ingin memejamkan mata. Apa kau juga sulit tidur karena hal yang sama?"
Stefy bingung harus jawab apa. Dia semakin dijalari perasaan bersalah. "Kalau boleh jujur, semalam merupakan pengalaman yang indah. Aku senang bisa melihatnya bersamamu, Sam."
"Lain waktu aku akan buat kesempatan seperti tadi malam. Aku janji." Senyum bahagia terukir di bibir Sam. Stefy mengangguk setuju.
" Rachel, permainanmu semalam bagus. Aku suka sekali. Mom bilang kau berbakat. Kau akan jadi pianis hebat," puji Miranda.
"Thank you. Tapi sepertinya kakak agak berlebihan memujiku."
"Tidak. Kau juga sependapat denganku,kan,Nick?" Miranda menyikut lengan Nick yang langsung dijawab dengan anggukan. " Hei, apa sakit kepalamu sudah sembuh?"
"Ya. Berkat obat semalam aku bisa istirahat dan lebih bugar pagi ini," dusta Nick. Setelah insiden semalam, ia merasa tidak tenang dan bahkan sulit memejamkan mata.
" Sukurlah. Mungkin kau memang perlu istirahat. Oh ya, kapan kau mengundangku ke acara premier film barumu itu? Mungkin aku bisa datang sebelum kembali ke US."
"Tanpa diundang pun kakak bisa datang. Aku akan minta managerku menghubungi kakak. Dia akan memberikan informasi tempat dan waktunya."
"Waw, Nicholas...kau membuatku terharu. Aku pasti datang. Kau ikut, Rachel?"
"Pasti. Aku dan Stefy selalu jadi anggota tetapnya hahaha..."
Nick terus mengawasi Stefy. Gadis itu benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk mendekat.
...😃...